f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ganti tahun hidup

Ganti Tahun Boleh, tapi Jangan Lupa Ganti Arah Hidup

Tahun 2026 akhirnya datang juga. Kalender diganti, status diganti, target baru pun mulai ditulis. Ada yang pasang resolusi finansial, karier, Pendidikan bahkan liburan. Semua sah-sah saja. Tapi, ada satu hal yang perlu kita pertanyakan yang sering luput untuk ditanyakan kepada diri kita sendiri. Yaitu, apakah iman kita ikut diperbarui atau hanya angka tahunnya saja yang berganti?

Sebagai seorang muslim, waktu bukan hanya sebatas barisan hari yang lewat begitu saja. Waktu merupakan  potongan umur kita di dunia. Setiap detik yang berlalu, jatah hidup kita di dunia berkurang, dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Karena itu, pergantian tahun seharusnya tidak hanya berhenti pada euforia atau rutinitas tahunan, tapi menjadi momen untuk muhasabah atau mengevaluasi diri dan memperbaiki arah hidup.

Allah Swt. sudah mengingatkan kepada para hamba-Nya bahwa bekal terbaik dalam hidup itu bukan harta, popularitas, atau pencapaian dunia, tapi ketakwaan. Dengan takwa itulah yang akan menolong seorang hamba, bukan hanya saat hidup di dunia saja tapi juga ketika kembali menghadap Allah Swt.

Resolusi Orang Mukmin Selalu Terhubung dengan Akhirat

Seorang mukmin memiliki cara pandang hidup yang berbeda. Orang mukmin boleh bekerja keras, mengejar mimpi dan membangun masa depan dunianya. Tapi semua itu tidak akan pernah dilepaskan dari tujuan akhirnya yaitu keselamatan akhirat. Karena hal itu, resolusi seorang mukmin tidak pernah murni hanya urusan dunia. Target hidupnya selalu ditautkan dengan iman dan amal. Bukan berarti orang mukmin itu anti dunia, tapi dunia dijadikan jalan bukan tujuan.

Lalu di antara sekian banyak resolusi yang bisa dibuat, apa yang seharusnya paling didahulukan di awal tahun 2026 ini? Ada dua hal besar di mana itu layak untuk menjadi prioritas utama kita.

Baca Juga  Budaya Jawa dalam Isu Gender di Era 4.0

Pertama, berlomba-lomba dalam kebaikan, jangan cuma niat. Kebaikan bagi seorang mukmin bukan hanya sebatas kegiatan tambahan yang ada pada waktu luang. Kebaikan menjadi kebutuhan hidup seorang mukmin. Ia sadar bahwa kesempatan untuk beramal tidak selalu datang dua kali. Waktu yang terlewat tidak akan pernah Kembali.

Sering kali kita menunda dengan perkataan, “nanti kalau sudah longgar”, “nanti kalau sudah siap”, “nanti kalau sudah lebih baik”. Padahal tidak ada jaminan usia kita ini akan sampai pada kata “nanti”. Bisa jadi setelah berkata demikian, Allah SWT mencabut nyawa kita.

Karena itu, tahun 2026 ini seharusnya kita memandangi sebagai bentuk kesempatan baru untuk melakukan kebaikan. Apa yang dulu belum kita lakukan, maka tahun ini kita bisa mulai. Apa yang dulu setengah-setengah dalam melakukan kebaikan, sekarang kita perbaiki niat dan kesungguhan kita dalam melakukan kebaikan. Tidak perlu menunggu lagi apalagi menunggu diri kita sempurna, yang terpenting adalah kita mulai melangkah dulu. Allah SWT berfirman dalam potongan ayat Q.S. Al-Baqarah ayat 148 yaitu Fastabiqul Khairat (maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan”.

Ayat ini juga menarik untuk kita kaji, karena Allah tidak hanya memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik, tapi juga berlomba-lomba. Artinya, kebaikan itu perlu untuk kita prioritaskan, disegerakan, dan tidak kita tunda-tunda lagi. Seorang mukmin tidak akan merasa cukup dengan amal kebaikan yang ia lakukan. Orang mukmin selalu ingin memperbaiki kualitas dan kuantitasnya, meskipun sedikit demi sedikit. Rasulullah Saw bersabda:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt. adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus meskipun sedikit” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini juga mengajarkan kita tentang satu prinsip penting pada kehidupan kita, yaitu bahwa konsistensi mengalahkan sensasi. Amalan yang kecil tapi rutin kita lakukan itu sering kali lebih cintai oleh Allah Swt, dibanding amalan yang besar tapi hanya muncul sekali saja.

Baca Juga  Maqashid Asy-Syariah dan Tantangan Kehidupan

Maka di tahun ini, kita tidak perlu memaksakan diri kita untuk menargetkan sesuatu yang besar. Mulailah dari yang terkecil dan mampu kita lakukan seperti menjaga salat dengan tepat waktu. Membaca Al-Quran meskipun sedikit tapi rutin, memperbaiki akhlak, atau menambah satu amal baik yang bisa dijaga sepanjang tahun.

Kedua, jika berat menambah amal kebaikan, mulailah dengan meninggalkan kemaksiatan. Di antara kita, tidak semuanya bisa langsung mampu memperbanyak amal salih. Ada yang masih tertatih-tatih ketika menambah amal kebaikan. Ada juga yang masih berjuang melawan kebiasaan buruknya. Tapi, Islam tidak akan menutup pintu kebaikan kepada siapa pun itu. Jika kita terasa berat dalam melakukan amal kebaikan, jangan remehkan satu pesan ini yaitu meninggalkan maksiat.

Kadang-kadang pahala besar yang kita peroleh bukan hanya dari banyaknya amal yang kita lakukan, tapi juga kesungguhan kita dalam berhenti dari dosa yang selama ini kita anggap biasa saja. Meninggalkan maksiat bukan perkara ringan. Perbuatan itu akan menuntut kepada kejujuran pada diri kita sendiri, kesabaran kita dalam menahan hawa nafsu, dan keberanian kita untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Dan di situlah justru terdapat nilai yang sangat besar.

Menjadi lisan dari dosa, menahan pandangan yang tidak selayaknya kita lihat, menghentikan kebiasaan buruk lalu menjauh dari lingkungan yang menyeret pada kemaksiatan , semua itu Adalah perjuangan iman yang nyata. Rasulullah Saw. bersabda,:

“Orang yang berhijrah Adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah Swt.” (H.R. Bukhari)

Dan hadis ini menegaskan kepada kita bahwa hijrah itu tidak selalu soal berpindahnya kita dari satu tempat ke tempat yang lain. Melainkan hijrah yang paling nyata itu Adalah perpindahan sikap atau perilaku kita dari maksiat menuju ketaatan atau dari kebiasaan buruk menuju hidup yang baik dan diridhai oleh Allah Swt.

Baca Juga  Standar Ketakwaan Bukan Soal Ibadah !

Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi bahkan berkata, “Allah tidak pernah disembah dengan suatu amalan apapun yang lebih Dia cintai daripada meninggalkan perbuatan maksiat.” Maksudnya adalah berhenti berbuat dosa bukan hanya sebatas “tidak berbuah apa-apa” tapi justru itu adalah sebuah ibadah yang besar. Imam Ibnu Al-jauzi juga mengingatkan kepada kita, “Seandainya seseorang meninggalkan satu perbuatan maksiat karena Allah Swt maka ia akan melihat buah (dampak kebaikan) dari perbuatan itu”.

Berkurangnya maksiat kita menjadi tanda iman yang masih dalam diri kita. Putusnya kebiasaan buruk seringkali menjadi pintu datangnya taufik dan pertolongan Allah Swt.

Menjadikan tahun 2026 sebagai titik balik

Maksudnya adalah mari kita jadikan awal tahun 2026 ini tidak hanya sebatas pergantian hari tetapi juga untuk menata ulang niat kita. Memperbaiki arah hidup kita dan meneguhkan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepad Allah Swt. Kita tidak perlu menunggu sampai sempurna, tidak perlu langsung besar untuk melakukan amalan kebaikan. Semoga Allah menjadikan tahun ini sebagai tahun bertambahnya amal salih, berkurangnya dosa dan meningkatkan kualitas iman kita. Semoga juga setiap Langkah yang kita tempuh di tahun 2026 ini penuh dengan keberkahan dan berada dalam ridha-Nya. Karena sejatinya tahun yang baik bukan yang penuh dengan pencapaian dunia tapi yang mendekatkan kita kepada surga-Nya.

Bagikan
Post a Comment