f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
cantik itu luka

Mereka yang Tidak Tercatat di Buku Sejarah, Tapi Hidup dalam Luka: Perempuan dalam Cantik Itu Luka

“Cantik Itu Luka” menceritakan kisah hidup Dewi Ayu, seorang perempuan yang memiliki darah campuran antara pribumi dan Belanda, yang hidup di era penjajahan Jepang di Indonesia. Meskipun ada kesempatan untuk meninggalkan Halimunda, sebuah pulau yang digambarkan sebagai tempat yang indah namun juga gelap, Dewi Ayu memilih untuk tetap tinggal. Keputusan tersebut diambil karena kesadarannya bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat lokal yang harus menghadapi sejarah bangsanya sendiri.

Halimunda menjadi salah satu latar penting dalam cerita ini, di mana ia menjadi saksi perjalanan hidup Dewi Ayu dan keluarganya. Pada saat penjajahan Jepang, Halimunda digambarkan sebagai tempat di mana perempuan sering kali menjadi objek eksploitasi. Banyak dari mereka, yang ditandai sebagai “perawan,” dipaksa bekerja di tempat pelacuran yang dikelola oleh Mama Kalong, tanpa imbalan dan tanpa pilihan.

Novel ini tidak hanya berkisar pada seorang tokoh individu bernama Dewi Ayu, tetapi juga menggambarkan sejarah Indonesia yang penuh dengan luka. Dengan pendekatan realisme magis, Eka Kurniawan menggabungkan elemen sejarah, kekerasan, mitos, dan unsur-unsur gaib menjadi satu narasi yang menggugah dan bahkan cukup mengganggu kenyamanan pembaca.

Kekerasan yang dialami oleh para perempuan ini bukan hanya dipicu oleh tentara penjajah, tetapi juga diperdalam oleh kondisi perang dan kekuasaan. Eka Kurniawan menampilkan sisi hitam sejarah ini sebagai kritik terhadap narasi resmi yang sering mengabaikan penderitaan perempuan. Dewi Ayu tidak dapat menghindari nasib yang menimpanya. Ia terpaksa menjadi pelacur selama masa pendudukan Jepang dan melanjutkan hidup itu bahkan setelah Indonesia merdeka.

Namun, dalam novel ini, kecantikan bukanlah berkah, melainkan sumber penderitaan bahkan kutukan. Tubuh perempuan dianggap sebagai barang dagangan, alat pemuasan, dan simbol kehormatan yang dikuasai oleh pandangan patriarki. Melalui sosok Dewi Ayu, karya ini menggambarkan bagaimana perempuan terpaksa menerima situasi yang dibentuk oleh kekuasaan politik dan sosial.

Baca Juga  Apakah Laki-Laki Dapat Terlibat dalam Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan?

Setelah berita kemerdekaan Indonesia pada September 1945, harapan baru bermunculan di kalangan masyarakat. Kehadiran komunisme disambut positif karena dinilai mewakili suara rakyat dan menjanjikan perubahan sosial. Kehidupan masyarakat perlahan membaik, tetapi situasi Dewi Ayu tetap tidak berubah. Ia masih harus melunasi utang kepada Mama Kalong agar bisa mendapatkan kembali rumahnya, sehingga terpaksa melanjutkan pekerjaan sebagai pelacur.

Melalui bagian ini, Eka Kurniawan memberikan gambaran tentang bagaimana komunisme sempat muncul dan diterima dalam masyarakat sebelum akhirnya hancur akibat konflik dan kekerasan. Narasi ini disampaikan tanpa membesar-besarkan, melainkan sebagai gambaran kompleks tentang hubungan antara kekuasaan dan masyarakat.

Saat terjadinya pembunuhan massal terhadap orang-orang yang disebut sebagai komunis, Halimunda berubah menjadi lokasi yang penuh dengan teror. Hantu-hantu yang hilang menghantui kehidupan masyarakat, termasuk mereka yang melakukan tindakan kekerasan di bawah pimpinan sosok bernama Shodancho. Di sini, realisme magis berperan dengan kuat: trauma dari sejarah muncul dalam bentuk hantu dan fenomena yang tidak biasa.

Pendekatan ini mencerminkan cara masyarakat Indonesia memahami kekerasan dan kematian, yang sering kali dihubungkan dengan dunia yang mistis. Sejarah yang nyata dan keyakinan bersama saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain dalam merumuskan ingatan sosial. Karya ini juga menyoroti stigma yang ada terkait dunia perzinaan.

Eka Kurniawan tidak memandangnya hanya sebagai masalah moral atau ekonomi, melainkan sebagai dampak dari sistem politik dan kekuasaan yang tidak seimbang. Negara dan aparat digambarkan memiliki peranan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menciptakan ketidakadilan dalam masyarakat.

Cerita Dewi Ayu memang berakhir, tetapi tidak sepenuhnya selesai. Dari pengalaman hidup yang pahit ini, ia melahirkan dan membesarkan tiga anak perempuan, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi, yang tumbuh dengan kecantikan yang luar biasa dan menarik perhatian masyarakat Halimunda.  Dendam dan luka diturunkan dari generasi ke generasi, bahkan nasib buruk turun temurun itu terjadi hingga anak-anaknya sampai ia melahirkan anak terakhir yang dinamakan “Si Cantik”, meskipun wajahnya tidak cantik. Pilihan ini menjadi ironi yang tajam mengenai arti kecantikan itu sendiri.

Baca Juga  Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (II): Ratu Balqis

Melalui berbagai perspektif, Cantik Itu Luka menampilkan bagaimana tubuh perempuan menjadi medan pertempuran bagi kepentingan: antara moralitas, kekuasaan, dan keinginan. Membaca novel ini juga menciptakan pertanyaan tentang pandangan publik soal seksualitas perempuan. Pembicaraan mengenai seks sering dipandang tabu untuk perempuan, sementara laki-laki diberikan ruang lebih luas. Stigma “perawan” dihadirkan sebagai konstruksi sosial yang menempatkan kehormatan perempuan pada fisiknya, bukan pada nilai kemanusiaannya.

Membaca buku ini memunculkan pertanyaan: apakah ada dasar yang adil untuk konsep dan pandangan tersebut? Ataukah itu hanyalah alat untuk mengendalikan dan memenuhi keinginan laki-laki?

Akhirnya, “Cantik Itu Luka” menunjukkan bahwa kecantikan, tubuh, dan seksualitas perempuan sering kali menjadi sumber penderitaan. Novel ini membuka pandangan pembaca bahwa kenyataan sejarah tidak selalu seindah yang tergambar dalam narasi resmi, dan bekas luka dari masa lalu terus memengaruhi kehidupan saat ini.

Data Buku : Cantik itu Luka
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah : 479

Bagikan
Post a Comment