Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (I): Hawa
Sebagian besar ayat al-Quran merupakan kisah umat terdahulu. Ulama meyakini selalu ada ibrah di balik kisah-kisah dalam al-Quran. Dalam konteks itulah Asma Lamrabet dalam Women in the Qur’an: An Emancipatory Reading (2016) berusaha menyajikan kembali kisah perempuan-perempuan dalam al-Quran melalui pembacaan emansipatoris.
Pembacaan emansipatoris yang dimaksud Lamrabet adalah upaya menawarkan jalan ketiga di antara dua pemikiran mainstream: pertama, corak pemikiran patriarkis di kalangan umat Islam yang membatasi ruang gerak perempuan muslim, dan; kedua, ideologi Barat yang sinis dengan ajaran Islam tentang perempuan.
Tujuan pembacaan emansipatoris ini adalah untuk: (a) menemukan kesejatian dalam diri perempuan muslim; (b) membebaskan perempuan muslim dari berbagai bentuk perbudakan tanpa harus terikat pada model emansipasi lain, dan; (c) menguatkan identitas spiritual perempuan muslim sekaligus membuka diri pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Ada beberapa perempuan yang kisahnya diabadikan dalam al-Quran, seperti Hawa, Balqis, Sarah, Hajar, Zulaikha, Asiah, Maryam, Aisyah, dan Khaulah. Tulisan ini akan dimulai dengan pembacaan Lamrabet tentang kisah Hawa.
Dalam tradisi agama samawi, kisah Hawa memuat 3 (tiga) pandangan pokok, yaitu: perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, Hawa sebagai penyebab jatuhnya Adam dari surga, dan asumsi bahwa perempuan tidak hanya tercipta “dari” laki-laki tetapi juga “untuk” laki-laki. Pandangan teologis ini, sadar atau tidak, membuat perempuan merasa inferior di hadapan laki-laki.
Mendefinisikan Ulang Nafs Wahidah
Apa yang dimaksud nafs wāhidah dalam Q.s. an-Nisa’ [4]: 1? Dalam karya tafsir klasik dijelaskan bahwa frasa itu merujuk ke Adam, sementara kata zawj pada ayat yang sama merujuk ke Hawa. Penafsiran ini didukung oleh narasi hadis yang menyebut perempuan (Hawa) tercipta dari tulang rusuk laki-laki (Adam).
Mayoritas umat Islam memahami hadis tersebut secara harfiah. Namun, ulama reformis Mesir, Muhammad Abduh (w. 1905), menolak pemahaman tersebut dan menawarkan penafsiran yang berbeda. Sebab menurutnya, tidak ada satupun ayat yang secara spesifik menyebut nafs wāhidah sebagai Adam dan zawj sebagai Hawa.
Abduh menafsirkan nafs wāhidah sebagai jenis yang satu (jinsin wāhid), sementara zawj sebagai pasangan (bukan istri). Sederhananya, Abduh berpandangan bahwa Allah Swt. menciptakan laki-laki dan perempuan (sebagai pasangan) dari jenis atau substansi yang sama.
Penafsiran Abduh ini, oleh Lamrabet, dinilai selaras dengan pesan al-Quran yang menekankan prinsip kesetaraan dan keadilan. Adapun pernyataan Nabi yang menyebut perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, menurutnya, bukan dalam rangka menjelaskan proses penciptaan manusia, tetapi merupakan ungkapan metafor sebagai strategi untuk menentang kebiasaan masyarakat Arab yang memperlakukan perempuan secara sewenang-wenang.
Perempuan untuk Laki-laki?
Jika Q.s. an-Nisa’ [4]: 1 kerap dipahami sebagai muasal terciptanya perempuan “dari” tulang rusuk laki-laki, maka Q.s. ar-Rum [30]: 21 sering dijadikan dalil untuk melegitimasi inferioritas perempuan di hadapan laki-laki. Fakhruddin Ar-Razi (w. 1210), misalnya, menjadikan ayat tersebut sebagai dalil bahwa perempuan (memang) diciptakan hanya untuk memenuhi kebutuhan laki-laki (li itmāmi an-ni’mati ‘alainā).
Berbeda dengan al-Quran sebagai kalam Tuhan yang suci, tafsir al-Quran adalah buah dari pikiran manusia. Ketika menafsirkan al-Quran, seorang mufasir tidak mungkin dapat melepaskan diri dari horizon pengetahuannya. Oleh karenanya, menurut Lamrabet, pemaknaan ar-Razi tersebut tidak dapat dilepaskan dari faktor sosio-kultural yang terjadi saat itu.
Pendapat ini selaras dengan temuan Asma Afsaruddin (2007). Dalam The First Muslims: History and Memory ia menyatakan bahwa pemosisian perempuan di bawah dominasi laki-laki dan pembatasan ruang gerak perempuan di ruang publik adalah ulah tangan umat Islam generasi kedua (tabi’in) dan ketiga (tabi’ut tabi’in) yang terus direproduksi hingga hari ini.
Hawa Bukan Penyebab Dosa Pertama
Tidak ada satupun ayat yang menyebut Hawa sebagai penyebab terjadinya dosa pertama umat manusia. Di dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 36 disebutkan bahwa peristiwa kejatuhan itu terjadi karena kesalahan keduanya yang mengikuti bujuk rayu iblis. Sehingga, Adam dan Hawa sama-sama bertanggung jawab dan bertaubat atas kesalahannya.
Menurut Lamrabet, kisah Adam dan Hawa ini memberi gambaran tentang kehidupan sepasang manusia. Bahkan dengan keutamaan dan pengetahuan yang dimilikinya, manusia tetap bisa gagal melalui ujian. Kisah Adam dan Hawa sekaligus menyajikan pengalaman manusia ketika berada di antara ketidaktaatan dan harapan, antara ketakutan dan kegembiraan.
Sebagai pungkasan, Lamrabet menulis, “… together they transgress and it is together that they repented. It is also together that they began a new destiny. A beautiful example of tribulations, patience, repetence and hope, whereby the return to God is always liberating. A story of human experience which is both eternal and continuously renewed” (h. 19).
