f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
zulaikha kisah perempuan

Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (IV): Zulaikha

Salah seorang perempuan yang kisah cintanya diabadaikan dalam al-Quran adalah Zulaikha. Kisah cintanya digambarkan mengalami transformasi dari yang mulanya didasari atas keinginan menguasai raga Yusuf menjadi keinginan untuk mengabdikan hidupnya di jalan Sang Maha Cinta.

Ketampanan Yusuf memang tiada tanding. Selain membuat Zulaikha gila mata, keelokan wajah Yusuf juga mampu membuat para perempuan elite di Mesir tanpa sadar mengiris jemarinya. Kata mereka, laki-laki yang berada di depan mata mereka bukanlah manusia, melainkan malaikat (mā hāżā basyarā, in hāżā illā malakung karīm).

Tulisan ini akan menyajikan pandangan Asma Lamrabet mengenai kisah Zulaikha, kisah yang menurutnya penting untuk dibaca ketika manusia sedang dikuasai oleh nafsu yang mendorong pada kejahatan.

Perempuan Penggoda

Zulaikha adalah perempuan cantik nan kaya. Ia merupakan istri dari al-Aziz, salah seorang bangsawan Mesir. Suatu ketika, keluarga kaya ini membeli seorang budak berharga murah dari para pengelana. Tetapi siapa sangka, selain tampan, budak bernama Yusuf yang dibeli dengan harga hanya beberapa dirham itu ternyata adalah laki-laki yang cerdas dan pekerja keras.

Berkat kecerdasan dan kerja kerasnya, Yusuf segera naik pangkat menjadi pegawai yang mengurusi bagian internal keluarga. Kenaikan pangkat inilah yang menurut Lamrabet memicu perasaan cinta sang majikan kepada budak tampannya, sebab keduanya menjadi sering bertemu dan berpapasan muka.

Dalam Q.s. Yusuf [12]: 23-24 diceritakan, Zulaikha coba menggoda dan mengajak Yusuf untuk melakukan perbuatan terlarang. Untuk melancarkan aksinya, Zulaikha menutup rapat pintu-pintu kamar. Yusuf yang sempat tergoda memutuskan menolak ajakan Zulaikha setelah ia melihat tanda (burhān) dari Allah.

Keputusan Yusuf untuk melarikan diri dari Zulaikha menunjukkan bahwa di satu sisi ia tetaplah manusia yang punya nafsu –yang di dalam al-Quran dideskripsikan dengan frasa “wa hamma bihā”–, dan di sisi lain mempertegas derajatnya sebagai hamba Tuhan yang punya kapasitas untuk bertahan dan bersabar di masa-masa sulit.

Baca Juga  Secercah Pemikiran Hegel dan Feurbach dalam Filsafat Marxis

Sementara itu, setelah mengetahui kebenaran di balik apa yang terjadi antara Zulaikha dan Yusuf, al-Aziz menyebut tindakan istrinya itu sebagai tipu daya yang besar (inna kaidakunna ‘aẓīm). Pernyataan al-Aziz yang ditujukan kepada Zulaikha ini, sayangnya, direproduksi secara massal dan dikeluarkan dari konteks spesifiknya sehingga seolah-olah semua perempuan punya sifat yang sama: penggoda.

Sebagaimana sanggahannya terhadap tuduhan bahwa Hawa merupakan penyebab terjadinya dosa pertama umat manusia, Lamrabet juga hendak menyanggah penafsiran misoginis yang menempatkan citra penggoda kepada semua perempuan hanya karena tindakan Zulaikha.

Selain itu, Lamrabet juga menolak argumen sebagian kalangan muslim yang menganggap tipu daya perempuan lebih hebat daripada tipu daya setan hanya karena ada ayat yang menyebut tipu daya setan itu lemah (inna kaidasy-syaiṭāni kāna ḍa’īfā). Menurutnya, al-Quran tidak pernah memuat argumen misoginis semacam itu!

Tuduhan ini tentu saja tidak tepat dan berlebihan. Apalagi, dalam pengamatan Lamrabet, al-Quran tidak pernah menyudutkan dan menghakimi tindakan Zulaikha (without for all that condemning the woman!), melainkan sebatas mengomentari kejadian tersebut.

Klarifikasi dan Pertaubatan

Kabar Zulaikha yang menggoda Yusuf itu dengan cepat tersebar ke penjuru kota dan membuatnya dicela oleh perempuan elite lainnya. Zulaikha yang merasa terganggu dengan gunjingan itu lantas mengundang mereka ke sebuah perjamuan makan, dan terutama untuk bertemu Yusuf secara langsung.

Pada saat itulah mereka menyadari dan memaklumi perasaan cinta yang menggebu dari Zulaikha. Saat itu pula, Zulaikha yang masih memendam hasrat menggebu terhadap Yusuf mengancam untuk memenjarakan putra Ya’kub itu jika dia tidak mau memenuhi hasrat seksualnya. Namun alih-alih tunduk pada ancaman, Yusuf memilih untuk mendekam di penjara, meskipun dia sama sekali tidak bersalah.

Baca Juga  Mamaku Pergi sebelum Aku Tiba (1)

Setelah beberapa tahun mendekam di penjara, Yusuf akhirnya dibebaskan. Deskripsi al-Quran menunjukkan bahwa bebasnya Yusuf tidak hanya didasarkan pada kemampuannya dalam menafsirkan mimpi sang raja, tetapi juga kesediaan Zulaikha untuk mengakui bahwa dirinyalah yang bersalah dan bertanggung jawab atas pemenjaraan Yusuf.

Menurut Lamrabet, “pengakuan dosa” Zulaikha ini merupakan buah dari perjuangannya yang tangguh untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Alih-alih menonjolkan dimensi cinta terlarang Zulaikha, Lamrabet menilai serangkaian kisah ini sebagai cara al-Quran untuk menggambarkan transformasi dari cinta yang penuh nafsu dan gairah menjadi pertaubatan yang penuh kebenaran dan spiritualitas.

Lamrabet mengakhiri kisah Zulaikha ini dengan pernyataan yang tegas. Ia menulis, “It is as if this sacred text sought to deconstruct this perpetual fear of women, this devastating concupiscence, by transmitting to us precisely the image of a woman who, via her purification through suffering, eternally personifies the true precariousness of our poor human soul, of our nafs…” (hlm. 57).

Bagikan
Post a Comment