f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
turunnya Al-Qur'an

Tiga Sebab Turunnya Al-Qur’an

Sebagai kitab suci umat Islam, Al-Qur’an diturunkan bukan semata-mata hanya sebagai bacaan untuk kebutuhan peribadatan semata. Lebih dari itu, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia agar mengenal Allah, mensyukuri realitas, dan belajar memahami segala ciptaan-Nya.[1] Di sisi lain, Al-Qur’an juga sebagai pedoman bagi manusia yang telah dipilih menjadi pemimpin di muka bumi ini agar perilakunya tidak menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan.

Tahap Diturunkannya Al-Qur’an

Hanya saja yang menarik untuk diketahui sejak awal ialah bagaimana cara Al-Qur’an ini diturunkan ke muka bumi ini? Merujuk pada “Kitab Tafsir Marah Labid” karya Syeikh Imam Nawawi al-Bantani, setidaknya ada dua tahapan.[2] Tahap pertama, Al-Qur’an dibawa oleh Malaikat Jibril dari lauh mahfudz ke Bayt al-Izzah. Pada tahapan ini, Al-Qur’an dibawa secara utuh pada malam Lailatul Qadr.

Kemudian tahapan selanjutnya, oleh Malaikat Jibril Al-Qur’an ini disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw agar bisa dijadikan sebagai petunjuk bagi umat sampai akhir zaman. Cara penyampaiannya pun tidak sekaligus, melainkan bertahap dengan memakan durasi waktu kurang lebih selama 23 tahun. Hal ini dilakukan supaya para sahabat nabi pada masa itu mudah menghafalkannya. Selain itu, turunnya ayat Al-Qur’an yang kadang satu ayat, tiga ayat, atau satu surat sekaligus menjadi bentuk respon terhadap situasi dan kondisi yang tengah terjadi pada masa itu.

Sedangkan menurut Nasr Hamid Abu Zaid, turunnya Al-Qur’an secara bertahap ini berkaitan dengan distribusi pengetahuan di masyarakat Arab pada waktu itu yang masih menggunakan tradisi lisan.[3] Maka jika diturunkan secara langsung dalam bentuk utuh, banyak sahabat-sahabat Nabi Muhammad –bahkan nabi sendiri- mungkin akan kesulitan dalam mendengarkan, menghafalkan, dan mendistribusikan kepada generasi selanjutnya.

Sebab Turunnya Al-Qur’an

Lantas setelah mengerti cara turunnya Al-Qur’an, ada pengetahuan mendasar lagi yang perlu ditengahi di sini, yakni soal sebab-sebab turunnya Al-Qur’an. Menurut berbagai literatur yang ditulis oleh para ulama, ada 3 hal utama yang menjadi sebab turunnya Al-Qur’an.[4]

Pertama, sebab teologis. Pada masa pra-Islam, masyarakat Arab masih menyembah berhala-berhala atau politeisme. Maka dari itu, Al-Qur’an diturunkan untuk mengembalikan masyarakat pada kepercayaan yang monoteisme dengan ajaran tauhidnya, meng-Esakan Allah. Legitimasi pada kasus ini bisa dicermati di dalam Surat Al-Ikhlas, bahwa Allah sebagai Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Kasus ini persis seperti dialog antara Socrates dan Euthyprus tentang kesucian. Di dalamnya, Socrates mengkritik cara beragama politeisme ini dengan pernyataan bahwa setiap dewa mungkin tidak sepakat dengan satu interpretasi kesucian seperti yang diungkapkan oleh Euthyphrus, bahwa “Kesucian merupakan sesuatu yang disukai oleh dewa-dewa.” Padahal bisa jadi, Dewa Zeus sepakat dengan interpretasi kesucian seperti itu, sedangkan Dewa Chronos tidak setuju. Di titik temu inilah, keberadaan Al-Qur’an dan pernyataan Socrates meruntuhkan cara beragama politeisme.

***

Kedua, sebab sistem sosial yang kacau. Masyarakat Arab saat itu tidak mengenal kesetaraan, apalagi keadilan. Bagi mereka, siapa yang kuat bisa menjadi pemimpin atau siapa yang kaya bisa berkuasa. Kebanyakan masyarakat Badui yang hidupnya nomaden berada pada posisi kalangan menengah ke bawah, karena profesinya bergantung pada kecenderungan alam. Sedangkan masyarakat urban (kota) berada pada posisi menengah ke atas. Mayoritas profesi masyarakat urban (kota) ini sebagai pedagang yang cenderung menetap dan produksinya tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan kondisi alam.[5]

Akibatnya, banyak masyarakat Arab saat itu yang tidak diuntungkan secara sistem sosial. Turunnya Al-Qur’an juga sebagai upaya untuk membenahi sistem sosial ini agar tidak timpang. Mereka yang tidak diuntungkan seperti perempuan, orang miskin dan lemah secara pelan-pelan diangkat dan diberikan hak-haknya sebagai manusia.

Secara sepintas, kritik Al-Qur’an pada sistem sosial ini mirip dengan teori Karl Marx mengenai struktur basis (base-structure) dan struktur supra (supra-structure). Menurut Marx, struktur basis ini berupa ekonomi yang menjadi pondasi bagi masyarakat kapitalis untuk mengalineasi para buruh. Sedangkan struktur supra ialah faktor-faktor lain selain ekonomi, misalnya politik, pendidikan, budaya, dan sebagainya.[6] Maka dari itu, Marx meyakini bahwa untuk mengubah masyarakat agar bisa seimbang, adil, dan harmonis, pondasi dasar berupa ekonomi harus dibagi rata. Penumpukan kekayaan pada satu orang atau organisasi tidak diperbolehkan.

***

Ketiga, dampak dari sistem sosial yang kacau, berakibat pada dekadensi moral masyarakat Arab di masa itu. Pria bisa menikahi perempuan semaunya bukan atas dasar suka sama suka, melainkan karena didasari oleh dorongan nafsu. Kemudian pembunuhan bayi perempuan yang dilatarbelakangi oleh beberapa sebab seperti kondisi keluarga yang terlampau miskin, atau harga diri sebagai orang tua yang tidak mau anak perempuannya menjadi tawanan ketika sukunya kalah dalam peperangan.[7] Pada titik ini, nilai-nilai kemanusiaan menjadi tidak ada artinya sama sekali. Moral, nilai, atau prinsip hidup merosot tajam.

Oleh sebab itu, hadirnya Al-Qur’an melalui prototipe perilaku dan ucapan Nabi Muhammad yang lembut dan santun, berupaya mengkritik sekaligus mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang telah kacau ini. Moral sendiri memiliki posisi penting di masyarakat, karena bisa menjadi pilar utama dalam memajukan peradaban bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Terakhir sebagai penutup, ketiga sebab turunnya Al-Qur’an ini bisa menjadi pelajaran, bahwa setiap peristiwa yang terjadi di masyarakat Arab pada masa lalu melulu berkelindan erat dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat itu hari ini masih relevan, kendati mengharuskan interpretasi baru yang sesuai dengan semangat zaman. Begitu.

Pustaka

[1] Mustaqim, A. (2011). Kisah al-Qur’an: Hakekat, Makna, dan Nilai-Nilai Pendidikannya. Jurnal Ulumuna, 15(2), 265-290.
[2] “Dua Model turunnya Al-Qur’an// Kajian Tafsir Marah Labid Karya Syeikh Nawawi al-Bantani”, bersama Abdul Mustaqim di Channel Youtube LSQ TV, diakses pada 14 Oktober 2020.
[3] Khoiruddin, H., & Hulaelah, D. (2014). Historitas Al-Qur’an; Studi Pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid Tentang Sebab Turunnya Al-Qur’an. SIGMA-Mu, 6(2), 8-21.
[4] “Tiga Alasan Kenapa Al-Qur’an Diturunkan?”, bersama Abdul Mustaqim di Channel Youtube LSQ TV, diakses pada 14 Oktober 2020.
[5] Mahmud, A. M. A. (2016). Fase Turunnya Al-Qur′ an dan Urgensitasnya. Jurnal Mafhum, 1(1), 1-26.
[6] Faiz, Fahruddin. 2020. Lintasan Perspektif (Ihwal Pemikiran dan Filsafat). Yogyakarta: MJS Press.
[7] Nuroniyah, W. (2019). Perempuan Arabia dalam Lingkaran Perkawinan di Era Pra-Islam. Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender Dan Anak, 14(2), 175-200.


Bagikan
Post a Comment