f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
masjid

Meminta Sumbangan di Pinggir Jalan, Apakah Tepat?

“Mas Bro! Mengapa sih di Jakarta Banyak orang-orang meminta-minta untuk membangun Masjid?”

Pertanyaan pendek yang menampar saya waktu itu oleh seorang sahabat lama via telpon. Kebetulan ia sedang berkerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Saya tak ingat pasti apa awal pembicaraan kami waktu itu, yang pasti pembicaraan itu menyinggung soal maraknya orang-orang yang mengumpulkan sumbangan di persimpangan jalan.

Adegan pembicaraan itu kembali terlintas di memori saya, ketika saya sedang melalui persimpangan jalan untuk ke Ibu kota Provinsi, Riau. Saya melihat fenomena sama.

***

Kerap kali kita menjumpai orang-orang menggunakan peci dan baju serba serbi islami. Sambil menenteng keranjang, kotak atau sejenisnya, yang bertuliskan, “Sumbangan Dana untuk Pembangunan Masjid A atau B”. Baik itu di persimpangan ataupun di pinggir-pinggir jalan.

Seketika saya melihat itu, saya jadi kasihan sekaligus berpikir agak dalam:

Mengapa hal itu bisa terjadi? Apa umat Islam sudah kehabisan dana untuk membangun rumah Tuhan? Sehingga pengurus rumah peribadatan harus turun ke jalan mengarahkan tangan untuk meminta-minta?

Apakah Tuhan Yang Maha Kaya itu tidak kasihan melihat hambanya berpanas-panasan untuk meminta sedikit demi sedikit uang untuk dana pembangunan rumah-Nya?

Atau, apakah Tuhan tidak merasa terhinakan, rumah ibadah sebagai simbol bagi agama dibangun atas dasar meminta-minta?

Apakah kita umat Islam telah melecehkan Islam sebagai agama yang dermawan, sehingga kedermawanan itu kita maknai dengan meminta-minta di pinggir jalan?

Apakah sudah benar sikap kita? Atau sudah hilang orang-orang kaya di dalam umat Islam yang di pandang mulia?

Saya merasa kita telah salah kaprah dalam soal membangun masjid dengan cara mengutip sumbangan di pinggir-pinggir jalan, bagi saya pribadi itu adalah perbuatan yang melemahkan/melecehkan agama Islam.

Baca Juga  Pendidikan John Dewey dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam

Memang itu perbuatan yang mulia, karena tidak mencuri. Tetapi hal tersebut kurang sejalan dengan konsep keimanan dan pemikiran saya.

Atau saya yang keliru?

Karena rasa saya, sepanjang sejarah peradaban Islam, kurang lebih 1400 tahun lamanya, masjid-masjid megah lambang keemasan umat Islam tidak pernah dibangun dengan cara-cara seperti itu, atau saya yang memang tidak tau. Saya tidak menyamakan kondisi dahulu dengan sekarang, tentu sudah berbeda.

Tapi mustahil rasanya umat Islam yang populasi semakin besar di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia, apa tidak mampu dan tidak cukup dana untuk membangun masjid? Sehingga langkah terakhir menggunakan jama’ah turun ke jalan untuk mengutip dana sumbangan.

***

Jika kita membuka buku yang berjudul “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tidak Punya” Karya Rusdi Mathari, seorang penulis termansyur asal Madura. Dalam tulisannya, Ia sangat menentang ide memperluas bangunan masjid yang sumber pendanaannya dengan cara meminta-minta sumbangan. Baik pada orang -orang mampu atau kaya, meminta-minta sumbangan pada orang yang lewat di depan masjid dengan menutup separuh jalan.

Padahal belum tentu yang diminta sumbangan berniat betul menyumbang. Malah bisa jadi hanya ingin sekedar pamer jumlah sumbangan, dan orang-orang yang lewat di jalan depan masjid, mereka mungkin terpaksa menyumbang karena tidak enak melihat orang-orang menjulurkan kotak sumbangan.

Merenovasi masjid kini menjadi lebih penting ketimbang memperbaiki shaf sholat dan memperbagus kelakuan umat. Sekarang orang diajak lebih tergantung pada masjid, ketimbang masjid yang tergantung pada umat. Diajak aktif membangun masjid, diajak rela menyodorkan sumbangan kemana-mana untuk membangun masjid, tapi membiarkan orang miskin tidak sekolah dan kelaparan.

Bahkan kita tidak tau apakah orang-orang di sekitar masjid bisa makan atau tidak? Apa mereka baik-baik saja atau tidak? Kita sibuk dengan urusan masjid, sampai tetangga sakit kita tidak menjenguknya. Lalu apa arti masjid nan megah itu, yang dana kasnya sampai belasan atau puluhan juta, jika tidak memberikan dampak bagi sekitar?

Baca Juga  Pentingnya Akhlak di Masa Kini
***

Membangun masjid sangat gencar kita lakukan, tapi esensinya seringkali  terlupakan. Padahal jika dihitung-hitung, masjid menjadi bangunan terbanyak di seluruh pelosok negeri. Tapi lumpuh akan fungsi.

Selama ini kegiatan di masjid pun sangat bermacam-macam dan semuanya berbasis jama’ah.

Seperti yang kita ketahui, mulai dari shalat jama’ah, belajar Al-Qur’an, kajian akbar, sampai bakti sosial. Semua kegiatan masjid melibatkan orang banyak, orientasinya untuk syi’ar dan dakwah.

Namun, tidak etis rasanya, menjadikan masjid sebagai simbol untuk agenda meminta-minta secara berjama’ah, atau mengatasnamakan dakwah. Lalu meminta-minta di pinggir jalan.

Lebih baik agenda berjam’ah dalam urusan membangun masjid dalam kadar formal. Misal, melayangkan proposal kepada pemilik modal, atau berkerja sama dengan perusahaan-perusahan, atau apalah, yang dalam bentuk kadar formal. Agar tetap dipandang elegan. Karena ini soal membangun masjid, lho! Rumah Tuhan. Masa harus menutup separuh jalan, hanya untuk mengadakan tangan? Dengan alasan pembangunan.

Tujuan boleh sama, tapi caranyalah yang membedakan. Meminta-minta di pinggir jalan itu cara baik, tapi kurang tepat rasanya jika untuk pembangunan masjid.

Atau itu sudah benar dan tepat menurut kalian?

Tabik!

Bagikan
Post a Comment