Terburu-buru Menikah? Pikir Lagi!
Sempat takut menikah, karena banyak hal yang tidak cukup kujelaskan di sini. Namun tak terasa sudah sepuluh tahun lamanya aku berpacaran, sejak waktu itu, pertama mengenakan seragam putih abu. Putus nyambung sampai akhirnya ‘dia’ bilang “Mau sampai kapan ya kita begini?”. Aku diam, tak bisa menjawab walau hanya untuk menyembunyikan ketakutan.
Sebulan setelah pertanyaan itu muncul, aku pun dilamar dan dua bulan kemudian menikah.
Tak menyangka ketakutanku selama ini akan terjawab oleh kenyataan. Benar kata orang, menikah tidak semudah yang terbayangkan, tidak seindah fairy tale. Bahkan baru-baru ini pasangan dari kerajaan ternama di dunia yang kisahnya dieluh-eluhkan bak percintaan negeri dongeng pun terbongkar tidak sebahagia itu.
Baru dua minggu menikah, gejolak muncul. Padahal sudah banyak buku kiat-kiat keluarga harmonis yang kubaca, orang-orang bijak yang kutemui untuk meminta petuahnya dan kuikuti kiat-kiat suksesnya; sampai kususun strategi sedemikian rupa agak tidak terjebak dalam pusaran masalah dan kegagalan. Tapi mengapa, masalah yang sama sekali tidak pernah kubayangkan justru muncul.
***
Jadi begini, ceritanya aku ingin melanjutkan kuliah di luar negeri. Kebetulan suamiku ini bekerja di Non-Government Organization (NGO) yang memiliki peluang untuk pindah cabang kantor di luar negeri juga. Ku ajaklah dia untuk ikut melancong di negeri orang. Pikirku banyak positifnya, bisa menambah relasi dan pengalaman. Sayangnya si suami terlalu cinta pada bumi nusantara meski mengizinkanku terbang ke Australia.
Sementara aku, tidak mau pergi ke negeri orang sendirian. Lalu sudah terbayang belum bagaimana endingnya? Aku jadi uring-uringan membuat suami kebingungan.
Tak ingin mengorbankan masa depanku untuk siapapun itu, tapi bagaimana pula nanti kalau harus long distance marriage? Aku banyak berkaca pada apa yang terjadi di lingkungan sekitarku; khususnya dalam hal pernikahan.
Banyak kegagalan yang pada akhirnya menyakiti banyak orang, tidak hanya menyakiti si ayah atau si ibu. Contohnya saja, Tanteku. Ia berpacaran sejak masih putih biru dengan teman sekelasnya, anak pemilik sebuah perkebunan buah-buahan. Setiap bulan dikirimi buah-buahan yang jumlahnya cukup untuk dibagikan ke satu RT. Mereka pun menikah, tapi nahasnya bertahan dua bulan.
***
Mau seberapa lama bersama, mengenal, mempersiapkan diri, nyatanya tidak juga membuat sebuah pernikahan menjadi mudah. Menikah tidak hanya membuka pintu rezeki, tetapi juga membuka pintu masalah-masalah baru. Tapi yang tidak mudah bukan berarti tidak bisa berakhir indah. Ini hanya soal pintu mana yang akan kita buka, dan kalaupun pintu lainnya terbuka dengan sendirinya tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Aku membayangkan pernikahan dibangun oleh pasangan yang menjadikan setiap perbedaan sebagai bahan merenungi diri, bahan gagasan baru, atau bahkan bahan bercanda tertawa suka-suka. Perbedaan itu wajar, jika disikapi dengan keinginan saling belajar. Saya rasa ini definisi sesungguhnya dari menikah membuka rezeki baru. Ketika satu bisa hebat, maka dengan bersama, menjadi dua orang, harusnya bisa lebih hebat lagi.
Ada hal lain. Berani menikah harus berani menerima kekurangan orang lain, padahal menerima kekurangan diri sendiri saja kadang kita tidak mampu, insecure. Mau menikah juga harus mau diajak berjuang, sedangkan kalau flashback sedikit ke masa-masa sekolah. Minta sesuatu yang tidak mampu orang tua kita beri saja kecewanya bukan main.
Jangan terburu-buru menikah. Jangan mau terjebak dengan situasi di mana menikah hanya untuk unjuk kelas sosial, waktu mempertahankan harga diri, hingga pilihan akhir agar tak kalah cepat dengan yang lain. Essensi menikah adalah ibadah dan sampai kapanpun harus tetap ibadah.
Perkuat antisipasi diri. Banyak yang lihai berkomentar tetapi tidak lihai membantumu. Entah sukses atau gagal dalam suatu pernikahan, hanya kitalah yang menjalankan.
Percayalah, orang yang sering bertanya ‘kapan nikah?’ belum tentu bahagia dengan pernikahannya.
Seorang karyawan honorer yang memiliki hobi jelajah alam, photography, dan menulis.
Merupakan pribadi yang senang mempelajari dan mencoba hal-hal baru.
