Pentingnya Mencintai dan Berperilaku Baik Terhadap Sesama
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”.
Hadis tersebut menjelaskan tentang pentingnya mencintai terhadap sesama. Islam adalah agama mengajarkan kepada umatnya agar saling mencintai dan berperilaku baik terhadap sesama. Namun, ajaran yang mulia ini, belum selalu disadari dan diterapkan oleh umatnya. Banyak orang yang mengaku sebagai seorang muslim yang beriman, namun perilaku sehari-harinya dalam berkomunikasi dan bergaul dengan orang lain belum menunjukkan sifat yang mulia itu. Hadis ini menjelaskan bahwa rasa cinta dan persaudaraan kepada sesama muslim adalah syarat kesempurnaan Iman. Dalam riwayat lain termaktub “Sesungguhnya di antara orang yang paling terbaik dari kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari no.3295) “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad)
Berperilaku baik, saling mencintai dan menyayangi dalam Islam itu sangatlah penting demi terciptanya kerukunan dan keharmonisan. Sifat mencintai dan berperilaku baik terhadap sesama juga sering Rasulullah contohkan. Suatu saat ketika Rasulullah sedang melakukan salat, Abu Jahal dan rekan-rekannya kaum Quraisy melempari punggung Rasulullah dengan kotoran unta saat Rasulullah sujud. Pernah juga, suatu saat Rasulullah itu berdakwah di kota Thaif, namun ternyata penduduk Thaif sangat menolak keras dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah, mereka menolak Islam dan mengusir Rasulullah keluar dari Thaif, mereka juga menghujani Nabi dengan batu hingga kaki Nabi berlumuran darah. Rasulullah juga sering mendapatkan cacian ataupun hinaan saat berdakwah. Namun Rasulullah tidak membalas semua kejahatan mereka, tetapi malah mendoakan kebaikan atas mereka.
Nah kebaikan inilah yang sulit kita tiru dari Rasulullah. Sejatinya kita sebagai manusia sudah wajar ketika ada yang berbuat baik, kita juga membalasnya dengan perbuatan baik namun ketika ada yang berbuat buruk kepada kita, kita sulit membalas kebaikan kepada mereka atau bahkan malah membencinya. Di zaman sekarang, jarang ditemukan orang yang sudah dijahati berkali-kali, sudah disakiti berkali-kali tapi tetap memaafkan dan terus berbuat baik. Namun banyak juga orang yang sudah dizalimi berkali-kali, sudah dikhianati berkali-kali tapi entah kenapa dia tidak berdaya untuk membalas dengan perbuatan yang sama yang pernah mereka lakukan dan lebih memilih untuk diam. Tipe orang seperti apakah dirimu? Pernahkah kamu merasa sia-sia sudah berbuat baik tapi tidak mendapatkan balasan kebaikan juga?
Tenang dan jangan sedih, didunia memanglah ada orang yang jahat tapi berlagak seolah-olah dia yang dijahati, ada pula orang yang menyakiti tapi berlagak kalau dialah yang disakiti. Dan kamu juga punya dua pilihan, yaitu membalasnya dengan keburukan ataukah membalasnya dengan kebaikan. Namun, perlu digaris bawahi bahwa jika kamu membalas keburukan dengan keburukan, maka kamu dengan dia tidak ada bedanya. Sama-sama telah berlaku buruk.
Sifat menyayangi dan berperilaku baik seperti ini haruslah ditanamkan sejak dini, tidak perlu dari hal-hal yang besar. Didikan dan pembiasaan pada anak bisa dilakukan sedini mungkin dimulai dari hal-hal yang kecil sekalipun. Dalam mendidik anak, yang harus kita lakukan adalah menanamkan keimanan pada anak-anak, sehingga anak benar-benar merasakan adanya kewajiban bertanggung jawab kepada Allah. Karena sejatinya, semua manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Bila rasa takut kepada Allah ini menjiwai hati dan pikiran anak-anak, maka dengan izin Allah anak-anak terlatih untuk tidak saling mendengki, tetapi justru saling mencintai dan menyayangi. Bahkan Rasulullah tidak hanya mencontohkan sikap menyayangi terhadap sesama manusia saja, tetapi juga kepada semua makhluk Allah termasuk tumbuhan dan binatang.
Contoh penerapan sikap saling mencintai dan berperilaku baik terhadap sesama:
1. Saling tolong-menolong
Manusia sebagai makhluk sosial, tidak akan bisa hidup sendirian tanpa adanya bantuan orang lain. Jadi, sebagai makhluk yang saling membutuhkan, kita tidak boleh sombong, egois, dan berbesar hati. Beberapa cara yang mungkin bisa kita lakukan untuk menolong orang lain yaitu:
a. Memberikan tempat duduk pada orang yang membutuhkan atau kepada yang lebih tua
b. Membantu orang tua membawakan barang saat menaiki tangga
c. Memberikan makanan kepada pengemis atau orang yang membutuhkan
d. Ikut menyumbangkan harta pada korban bencana alam
e. Selalu berusaha menyanggupi permintaan tolong seseorang sebisa mungkin atau semampunya
2. Bersikap sopan pada semua orang terutama pada orang yang lebih tua
Salah satu contoh akhlak yang baik yaitu dengan bersikap sopan dengan orang yang lebih tua, contoh perilakunya seperti:
a. Menunduk ketika berjalan di depan orang yang lebih tua
b. Tidak berdiri di samping orang tua yang sedang duduk
3. Berkata baik dan lemah lembut
Contoh perilakunya seperti:
a. Mengecilkan suara ketika berbicara kepada orang yang lebih tua
b. Berbicara lembut, sopan dan tidak kasar
c. Tidak mencaci ataupun menjelekkan orang lain
d. Tidak lupa mengucapkan terima kasih saat diberi bantuan, sebagai bentuk syukur
Manfaat dari mencintai dan bersikap baik terhadap sesama yaitu: 1. Mempererat persaudaraan; 2. Menjaga keharmonisan; 3. Mendapatkan rida Allah. Jadi, jangan pernah berhenti untuk tetap berbuat baik, teruslah berbuat baik karena kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah salah, dan teruslah berbuat baik bukan karena demi mendapatkan balasan dari manusia tapi berbuat baiklah untuk mendapatkan rida dari Allah Swt.
