f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hubungan

Masalah dalam Rumah Tangga; Meretakkan atau Merekatkan Hubungan?

Ikatan  pernikahan merupakan pelengkap kebahagiaan  manusia dalam menjalani hidup. Orang yang memiliki pasangan hidup dengan yang belum memiliki pasangan hidup tentu merasakan kebahagiaan yang berbeda.

Seseorang, sebelum menikah menghadapi berbagai persoalan hidup dengan sendirian. Kadang membuatnya tidak terarah, tidak fokus sehingga hidupnya tidak tenang. Berbeda dengan orang yang sudah memiliki pasangan sah, seberat apapun beban hidup menjadi terasa ringan, karena kehadiran pasangan yang siap berbagi dalam suka dan duka.

Tapi, bukan berarti orang yang memiliki pasangan hidup lebih baik dan lebih bahagia daripada orang yang belum memiliki pasangan hidup. Hanya saja, orang yang sudah memiliki pasangan hidup kesempatannya lebih baik untuk hidup berbahagia dan menghindarkan diri dari godaan hawa nafsu.

Lantas apakah ikatan pernikahan, menjalani kehidupan rumah tangga dapat menjamin kebahagiaan seseorang dan terhindarkan dari persoalan kehidupan? Tentu saja tidak. Dalam rumah tangga pasti ada konflik dengan pasangan. Itu tidak bisa kita hindari.

Nabi Saw saja pernah mengalami masalah dalam rumah tangganya. Istri beliau, Aisyah dituduh berselingkuh dengan sahabat nabi sendiri. Tentu saja nabi tidak langsung percaya dan lebih memilih mengecek kebenarannya ketimbang membenarkan dugaan perselingkuhan tersebut, sehingga Allah sendiri yang langsung menjawab fitnah itu dalam firmanNya bahwa tuduhan itu sama sekali tidak benar. (QS an-Nur ayat 11-20).

Mengenal Pasangan Sebelum atau Setelah Menikah

Terjalinnya sebuah hubungan pernikahan umumnya harus berlandaskan dengan perkenalan sebelumnya atau dalam istilah anak muda, “berpacaran” dulu baru menikah. Tetapi tidak sedikit juga, menikah dulu baru saling mengenal atau berpacaran satu sama lain.

Menjalin hubungan “pacaran” sebelum menikah meski bertahun-tahun lamanya bukanlah sebuah jaminan mendapatkan  kebahagiaan dalam  membangun rumah tangga. Dengan alasan sudah cukup saling mengenal satu sama lain selama berpacaran, maka badai dalam rumah tangga akan mudah dihadapinya. Belum tentu saudaraku.

Baca Juga  Apakah Aku Harus Memiliki Anak?

Hubungan “pacaran” sebelum menikah dengan hubungan pernikahan yang sah tentu berbeda. Selama berpacaran, baik laki-laki maupun perempuan, keduanya akan selalu berusaha menunjukkan sisi baik antara satu dengan yang lain dan cenderung menutup-nutupi kekurangan masing-masing.

Hubungan “pacaran” sebelum menikah belum teruji ketangguhannya menghadapi konflik rumah tangga. Mereka hanya menghadapi lika-liku hubungan yang sesungguhnya melanggar norma agama dan tentu saja dapat merusak moralitas di mata masyarakat.

Mengenal pasangan atau “berpacaran” setelah menikah juga bukan jaminan tercapainya dan terjaganya kebahagiaan dalam rumah tangga. Kemelut rumah tangga kapan saja bisa terjadi, tidak memandang sebelumnya sudah saling mengenal atau setelah pernikahan baru saling mencintai.

Penyebab Masalah dalam Rumah Tangga

Banyak hal yang bisa memicu persoalan dalam rumah tangga. Faktor ekonomi, perbedaan pandangan, hubungan seks, dan lain sebagainya semuanya dapat melatarbelakangi munculnya persoalan.

Soal ekonomi misalnya, jika istri merasa pendapatan suami pas-pasan atau kurang memenuhi kebutuhan rumah tangga, lantas istri ingin kebutuhan lebih, di sinilah benih persoalan kadang muncul. Atau, penghasilan istri lebih di atas daripada suami, dan ketika terjadi masalah kecil, istri menyinggung soal penghasilan, tentu saja persoalan bisa menjadi besar.

Hubungan seks dengan pasangan juga dapat menjadi titik persoalan. Jangan hanya memikirkan yang enak-enaknya saja. Kadang dari yang menyenangkan itu dapat menimbulkan persoalan kalau tidak dikondisikan dengan baik.

Misalnya, Anda memaksa istri Anda melakukan hubungan suami-istri (bersebadan) pada kondisi di mana istri Anda dalam keadaan lelah dan capek karena seharian mengurusi urusan rumah tangga dan kesibukan lainnya, atau istri sementara dalam keadaan sakit.

Dalam keadaan seperti itu, istri yang dapat menolak ajakan suami dan suami yang memaksakan hawa nafsunya dapat mengakibatkan persoalan. Karena soal seks juga, tidak sedikit pasangan berselingkuh. Naudzu billahi min dzalik.

Baca Juga  Santri Pondok; Bukan Buangan Tapi Idaman
Belajar dari Akar Permasalahan

Saya pernah mendengar seorang ustaz berceramah, katanya, kalau lagi bertengkar dengan istri, jangan di rumah terus. Keluarlah untuk menghindari pertengkaran yang berkepanjangan, tapi jangan juga tidak kembali ke rumah.

Pendapat ini ada juga benarnya, memang dalam keadaan marah, kondisi psikologi tidak stabil. Makanya, perlu menghindarkan diri dari perdebatan dengan keluar rumah untuk menyegarkan pikiran. Orang kan kalau sumpet di rumah atau lagi dirundung duka sangat membutuhkan penyegaran otak di luar rumah.

Dari sekian persoalan yang dihadapi, dianggap besar atau enteng akan menjadi masalah serius jika persoalan itu terus berulang-ulang terjadi. Persoalan ringan dalam rumah tangga yang kerap kali menjadi perdebatan bagi kedua pasangan dapat membuat  ketidaknyaman antara satu dengan yang lain dan dapat memicu masalah serius bagi keduanya. Hari ini diperselisihkan, kemarin juga diperselisihkan. Aduh, kapan selesainya.

Apapun persoalan yang mendera kehidupan rumah tangga, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Merasa diri benar, ego yang tinggi dan enggan memahami pasangan berpotensi meretakkan hubungan.

Tetapi jika keduanya berpijak pada “cinta” yang telah mereka pupuk, mengutamakan komunikasi yang baik, dan saling memahami satu sama lain, serta belajar dari akar persoalan ketimbang mempertahankan ego masing-masing, maka setiap persoalan yang dihadapi dalam rumah tangga justru akan semakin menguatkan hubungan suami-istri.

Wallahu ‘alamu bish shawab.

Bagikan
Comments
  • Fadila

    👍👍👍

    April 20, 2021
Post a Comment