f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pandji

Pandji dan Klarifikasi Dr Tamrin

Beberapa hari terakhir, komedian Pandji Pragiwaksono mendadak ramai diperbincangkan oleh jagad maya. Bukan tanpa alasan, para netizen dibuat bertanya-tanya atas argumentasi Pandji melalui kanal YouTubenya yang bertajuk “FPI dibubarin percuma? Feat Afif Xavi dan Fikri Kuning”.

Dia mengatakan, bagaimana Muhammadiyah dan NU sudah menjauh dari urusan rakyat dan kalah jika dibandingkan FPI. Kemudian, untuk meyakinkan penjelasan dari Pandji, dia mengutip kata-kata dari seorang pakar Sosiolog yaitu Dr. Tamrin Amal Tomagola yang ditemuinya di awal 2012 silam saat interview di Hard Rock FM Jakarta.

Hingga saya menuliskan ini, video tersebut telah tayang sebanyak 308 ribu kali. Berbagai macam respon muncul khususnya dari kalangan Muhammadiyah dan NU. Kebanyakan dari mereka menolak atas ucapan Pandji, sebab ucapannya tidak sesuai dengan fakta di masyarakat.

Klarifikasi Dr. Tamrin di Twitter

Agar tidak terseret serta merta dalam polarisasi membully Pandji, kemudian saya tertarik untuk melacak kembali percakapan Panji dengan Dr. Tamrin. Namun sampai sejauh ini, saya belum mendapatkan jejak digital dari maksud Pandji dalam klarifikasinya melalui twitter.

Selanjutnya, saya beralih dengan mencari, kumpulan tulisan atau jurnal dari Dr. Tamrin yang berkaitan dengan teks-konteks pembicaraan tersebut. Namun seperti yang lainnya, saya juga tidak menemukan tulisan dan jurnal yang berkaitan dengan polemik ini.

Satu-satunya referensi yang bisa saya dapatkan untuk membantu memahami persoalan ini adalah klarifikasi Dr. Tamrin melalui twitternya, @tamrintomagola dengan memuat lima poin klarifikasi.

Waktu dan Tempat

Sependek pengetahuan saya dari membaca klarifikasi Dr. Tamrin, ada pengutipan yang tidak utuh oleh seorang Pandji. Dengan gegabah, panji tidak memaknai kata kata dari Dr. Tamrin yang terbatas akan dimensi tempat dan waktu.

Baca Juga  Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Melalui Masa Taaruf Mahasiswa

Dalam klarifikasi yang disebutkan, Dr Tamrin menjelaskan bagamaina teks-konteks atas perkataanya itu dulu; bahwa konteks pembicaraan Dr. Tamrin saat itu adalah membahas kondisi kehidupan kelompok miskin kota di perkampungan kumuh miskin di Jakarta. Bukan mengeneralisir di semua tempat dan daerah.

Persoalannya adalah panji yang mencomot kata-kata itu, tidak menjelaskan demikian. Maka tidak heran apabila banyak respon negatif berupa kritikan hingga cacian kepada panji. Selain itu, pengutipannya juga kurang tepat dengan konteks yang diobrolkan bersama Dr. Tamrin dan apa yang coba ingin diulas Pandji di kanal YouTubenya.

Benarkah Muhammadiyah Jauh dari Rakyat?

Dr Tamrin menjelaskan kembali bahwa yang dimaksud dengan Muhammadiyah dan NU kurang menyambangi dan mendampingi – meringankan beban kehidupan ummat kelompok miskin kota di perkampungan kumuh miskin Jakarta, bukan di daerah yang lain. Yang kemudian kekosongan pendampingan itu diisi oleh FPI.

Tentu sebagai pakar sosiolog yang kerap meniliti laku sosial dan perubahan perubahan yang terjadi di masyarakat, seorang Dr. Tamrin sudah tidak lagi diragukan kredibilitasanya. Namun sayangnya, karena Dr. Tamrin tidak menjelaskan dengan detail dan kurangnya literarur penunjang untuk memahami ini, tentu banyak pertanyaan yang muncul bagi saya, yang mencoba untuk menerka; apa yang menjadi landasan dari Dr Tamrin mengeluarkan tesis tersebut? Apakah yang dimaksud dengan tidak menyambangi dan mendampingi adalah Muhammadiyah tidak mempunyai gerakan filantropi di Jakarta? Atau Muhammadiyah yang tidak pernah blusukan ke pemukiman miskin yang kerap FPI lakukan? Ataukah Dr Tamrin tidak mengetahui adanya Lembaga Zakat Infaq dam Shadaqah Muhammadiyah (Lazizmu) yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat?

Tentu ini menarik, kalau saja Dr Tamrin ingin menjelaskan ulang maksud dari perkataanya itu. Kader Muhammadiyah akan antusias mendengarkannya. Atau jika memungkinkan Dr. Tamrin dapat berdiskusi langsung dengan kader Muhamamdiyah agar mendapatkan penjelasan yang utuh.

Baca Juga  Perempuan dalam IMM: Membaca Bidang Immawati sebagai Bagian Integral Gerakan

Pandji Sang Komedian

Terakhir, Dr. Tamrin seakan menampik soal perkataan yang menyebutkan NU dan Muhammadiyah sudah “elitis” dan mencoba untuk mengembalikan pertanyaan itu ke Panji, ada perasaan bahwa Dr. Tamrin tidak pernah menyebutkan kata-kata itu untuk menggambarkan NU dan Muhammadiyah di Jakarta.

Kalaupun demikian adanya, berarti, lagi-lagi, Panji bermain-main dengan kata-kata yang sangat sensitif. Dalam berbagai macam literatur atau diskursus, kosa kata “elite” selalu dipadankan dengan tingkah laku seorang politikus atau para pejabat yang bergaya glamor dengan harta kekayaannya.

Maka kalau yang dimaksud oleh Panji adalah demikian, sudah barang tentu Panji tidak memahami Muhammadiyah dan NU secara utuh dan hanya asal ceplos. Latar belakang komediannya mungkin memberikan sumbangsih besar atas ketidaktahuannya; bahwa setiap kata akan mengandung makna dan identitas, dan setiap identitas mempunyai prinsip perjuangan.   

Bagikan
Post a Comment