f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kita memilih

Ada Apa dengan Indonesia? (2)


Oleh : Fathan Faris Saputro*

Ada apa dengan Indonesia?

Negeri ini sedang sakit. Sakitnya amat parah. Namun, ia masih menyakini ada harapan di hari-harinya yang akan datang. Harapan itu masih ada, dan ia  benar-benar merindukannya. Apa daya, di dalamnya ada sejumlah rakyat yang mencoba menjualnya ke musuh-musuh yang tamak lagi loba. Di atas tubuhnya, berjalan manusia-manusia angkuh yang membuat perih punggungnya.

Primary self destruction. Ada tangan-tangan zalim yang ingin merusak kekayaan negeri mereka sendiri. Terbukti dengan mengepulnya asap hitam menggelembung dari Kalimantan. Hutan-hutan ditebang. Disusul kabut pekat yang menyelimuti gedung pemerintahan. Jarang ada kebeningan. Tangan-tangan zalim sedang menggerogoti tubuh negeri mereka sendiri.

Trade off model. Anak pribumi sendiri menjual negerinya demi kepentingan pribadi. Saham-saham perusahaan Negara dijual ke negeri asing yang tak bertanggung jawab, sekedar mengenyangkan perut sesaat. Menjual masa depan generasi muda dengan menyiarkan film-film porno, menebar majalah-majalah asusila, membumikan gaya hidup hedonis, hanya demi kepentingan pasar yang sesaat. Dampaknya kemudian, moral negeri ini tergilas.

Dan yang paling riskan, jauhnya rakyat dari agama. Berkali-kali sejarawan dari sosiolog menyimpulkan, masyarakat yang maju dan berbudaya tinggi selalu dimulai dari keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah.

Maka, Apa yang Kini Dilakukan Indonesia?

Indonesia menatap masa depan, dan kita perlu sebuah gebrakan besar untuk merevisi ulang sugesti rakyat yang hidup didalamnya. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri  beriman dan bertakwa, pastilah kami  akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami).

Saatnya agen-agen perubahan yang bekerja, seperti power Rangers yang datang ketika masalah menerjang kota, ketika monster-monster datang mengancam semua. Para pelopor perubahan melihat Indonesia sebagai mutiara raksasa yang harus diselamatkan dan dikembangkan menuju tempatnya yang sebenarnya: tinggi, bijaksana, berwibawa, dan kaya-raya.

Baca Juga  Memaknai Kembali Komitmen dalam Hubungan

Kata kuncinya: kembali ke jalan yang telah dilalui pejuang-pejuang kita, sebagaiman ungkapan Mohammad Natsir, “peradaban Islamlah yang lebih dulu membuka jalan medan politik  kemerdekaan di tanah ini, yang mula-mula menanam bibit persatuan Indonesia yang menyingkirkan sifat-sifat kepulauan dan keprovinsian.”

Kepada mereka, Indonesia merindu. “Buka mata! Buka mata! Buka Otak! Buka telingga! Perhatikan keadaan! Perhatikan keadaan dan sedapat mungkin carilah pelajaran dari hal ini semuanya agar saudara-saudara dapat mempergunakan itu dalam pekerjaan raksasa kita membangun Negara dan tanah air!” terang Soekarno.

Agen Perubahan

Agen-agen perubahan tempo dulu melalui jalan yang berbeda-beda, tetapi menuju satu tujuan: kedaulatan Indonesia. Yang akan dilalui agen perubahan zaman ini sebenarnya sama saja, hanya targetnya digeser lebih luas lagi: mengantar Indonesia menuju gelar Guru Dunia!

Syaikh Nawawi al-Bantani adalah agen perubahan yang memotori internasionalisme Indonesia. Menjadi Imam Besar Masjidil Haram di Mekkah al-Mukarramah di tempo dulu dan dan membuat buku taktik perang gerilya yang bahkan hari ini dijadikan salah satu kurikulum oleh tentara Indonesia. Agen perubahan yang satu ini adalah ulama polymath, ahli dalam banyak bidang. Semangatnya mengepul dan menginspirasi rakyat Indonesia.

Inspirator Perubahan

Agen-agen perubahan bekerja di dimensi apa pun, dan di sektor mana pun, lalu mengantar Indonesia menuju kemerdekaan dari semua segi kehidupan. Mari menyambut pendahulu kita merancang perubahan: HOS Tjokroaminoto. Mujahid ekonomi, mijahid politik, dan mujahid orator yang digelari Raja jawa tanpa mahkota. Singa podium ini menggerakkan kaum Muslimin dalam satu suara, lalu menjadi ancaman riskan bagi keberadaan penjajah yang haus dunia.

Ia pernah menjadi juru tulis, menjadi pekerja di pabrik gula, menjadi wartawan, kolumnis, dan entrepreneur pengendali urat nadi ekonomi jawa. “Orang tersebut adalah Tjokro, yang punya mata elang, kumis melintang, bicara lantang, dan punya visi serta misi dalam perjuangan hidupnya,” tulis Herry Mohaammad.

Baca Juga  Kami Hanya Menggunakan Hijab, Mengapa Dilarang?

Banyak lagi pendahulu agen perubahan yang menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menaklukkan dunia. Orang-orang yang tadi kita bahas sekelumit, mereka bekerja tanpa mengimpilkan gaji. Jangankan gaji, mereka bekerja sekuat tenaga, kadang-kadang dibalas cerca dan remehan canda tawa. Namun selalu begitu tabiat agen-agen perubahan. Pada awalnya dirutuki dan dimusuhi tetapi di akhir kisah, mereka akan dikagumi dan diikuti. (s)

*) Penulis adalah pegiat literasi dan juga mahasiswa Program Studi Ilmu pendidikan Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Paciran, Lamongan

Bagikan
Post a Comment