f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
orang hebat

Konsekuensi Feminisme Muslim di Indonesia

Keluarga merupakan tantangan terbesar bagi feminisme muslim dalam penyelarasan pemahaman. Begitulah celetukan Siti Syamsiyatun pada sebuah diskusi daring berjudul “Arah Gerakan Feminisme Muslim di Indonesia”. Keluarga menempati posisi puncak dalam hal penyadaran konsep feminisme muslim. Keadaan ini diperkeruh dengan lahir dan mengakarnya stereotip yang sudah tidak selaras dengan keadaan sekarang. Warga masyarakat meyakini keadaan tersebut dengan dalih kebudayaan dan adat kebiasaan.

Relasi Feminisme Muslim dengan Al Quran

Keberadaan keluarga dalam paham feminisme muslim juga dibahas mendetail oleh guru besar bidang kajian gender, yakni Alimatul Qibtiyah. Bahkan sampai-sampai direlasikan dengan kitab suci umat Islam. Alimatul Qibtiyah menyebutkan trilogi kategori relasi feminisme muslim dengan Al Quran, diantaranya adalah tekstual konservatif, moderat, dan kontekstual progresif. Dari ketiganya mempunya porsi dan paradigma yang berbeda.

Pertama, tekstual konservatif. Bisa disebut sebagai cara memahami teks-teks keagamaan secara harfiah. Kategori ini menghasilkan ajaran-ajaran yang bersifat normatif dan tekstual termasuk ajaran-ajaran yang diambil dari teks-teks utama, yaitu Al Quran dan Hadis. Pendekatan ini cenderung mengabaikan karya para ulama kontemporer. Kelompok tekstual mengklaim bahwa ajaran-ajaran agama yang paling penting tidak pernah berubah sepanjang sejarah. Pemahaman-pemahaman yang berkembangpun sama sekali tidak boleh mengalami perubahan sedikitpun, meskipun masyarakat telah berubah.

Kedua, moderat. Orientasi kelompok relasi ini akan menerima gagasan-gagasan feminisme sepanjang tidak bertentangan dengan apa yang dianggap sebagai nilai-nilai Islam yang mendasar. Mereka menegaskan bahwa tidak semua gagasan feminisme itu bersumber dari dunia Barat. Pada dasarnya, Islam juga memiliki pondasi untuk menyelesaikan persoalan ketimpangan gender. Karena hal tersebut, semangat feminis itu sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Ketiga, kontekstual prograsif. Pandangan ini akan merujuk pada sumber utama, Al Quran dan Hadis dan memperluas ruang lingkup interpretasi ijtihad dengan memeprtimbangkan perkembangan zaman yang ada. Relasi ini cenderung mempertimbangkan historisitas pemahaman manusia, sehingga diperlukan berbagai pendekatan disiplin ilmu pengetahuan untuk mencapai tingkatan interpretasi tertentu.

Baca Juga  Pentinya Studi Pendekatan Islam : Pendekatan Sejarah (Bagian 2)
Julukan Feminis Muslim

Perjalanan paradigma tentang feminisme muslim mulai dari lingkup dunia ataupun Indonesia mengalami banyak tantangan. Salah satunya adalah berkaitan dengan indikator seseorang dijuluki dengan sebutan feminis muslim. Banyak ahli feminis menjabarkan tentang indikator tersebut. Tetapi kembali lagi, seseorang dianggap sebagai feminis akan berbeda indikatornya. Yakni berdasarkan perbedaan cara pandang dalam menginterpretasikan devinisi yang sesungguhnya dari makna feminisme. Problem devinisi yang berbeda terjadi karena pemahaman dan daya tangkap yang berbeda pula, bahkan lingkungan menjadi salah satu penentunya. Alimatul Qibtiyah menyebutkan bahwa Rasulullah saw dan KH. Ahmad Dahlan merupakan dua contoh tokoh yang mendapat julukan kategori feminis muslim.

Menciptakan Keluarga Ideal

Keluarga ideal merupakan cita-cita mendasar yang diharapkan oleh feminis muslim. Alimatul Qibtiyah menyebutkan terdapat enam ketentuan sebuah keluarga disebut dengan ideal, antara lain: (1) Keluarga yang menjamin relasi yang seimbang. Semua makhluk itu pada dasarnya nomor dua, yang berhak menyandang nomor satu hanyalah Tuhan. Hal ini didasarkan pada konsep Tauhid; (2) Keluarga yang menjamin tidak adanya segala bentuk kekerasan baik fisik, psikis, ekonomi, maupun seksual; (3) Keluarga yang menjamin tumbuh kembang semua anggota keluarga; (4) Keluarga yang memenuhi kebutuhan dasarnya; (5) Keluarga yang meyakini bahwa semua peran sama mulianya dan dapat digunakan sebagai kunci untuk masuk surga; (6) Keluarga yang menambah dan melanggengkan kebaikan (berkah).

Apa yang bisa dilakukan oleh feminis muslim untuk membentuk keluarga ideal? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu argumentasi yang mencakup bidang kehidupan, salah satunya adalah pendidikan dalam lingkup keluarga. Pendidikan merupakan hal yang urgen, karena menempati posisi vital dalam perkembangan keluarga. Tanpa kapasitas pendidikan dalam keluarga dari orang tua ataupun anggota keluarga lainnya, konsep keluarga ideal tidak akan berjalan sesuai dengan koridor semestinya. Sistem pendidikan dalam keluarga menjadi sangat diperhitungkan dalam point ini.

Baca Juga  Perempuan Tangguh Di Balik Peristiwa Hijrah (2)

Jika disinggung dengan kondisi sistem pendidikan dalam keluarga di Indonesia, jawabannya akan sangat beragam sesuai dengan keadaan zaman. Baik itu awal abad 21, akhir abad 21, bahkan untuk mempersiapkan di abad 22 tentunya akan sangat berbeda sistem. Menurut Siti Syamsiyatun, model keluarga saat ini masih menganut tekstual konservatif dan bertahan cukup lama. Sehingga feminisme muslim perlu melakukan kontestasi ide untuk memahamkan konsep pendidikan pada struktur keluarga di masa kini dan mendatang.  

Konsekuensi Feminisme Muslim

Pemahaman tentang konsep femnisime muslim akan menunjukkan relasi dengan Al Quran. Farid Ishaq membagi ada tiga variasi seorang muslim ketika berhubungan dengan Al Quran.  Dalam relasi ini Farid Ishaq memberikan ilustrasi dan mengistilahkan seperti orang yang sedang bercinta. Selanjutnya Siti Syamsiyatun menyebutkan bahwa tiga variasi yang akan disebutkan merupakan gambaran dari konsekuensi dan tanggungjawab dari seorang femnisime muslim di Indonesia. Tiga relasi tersebut antara lain:

Uncritical Lovers

Relasi pertama ini menggambarkan bahwa seseorang akan membenarkan segala teori atau paradigma dari Al Quran. Cara pandang yang digunakan adalah dengan melihat secara keseluruhan dan menerima segala konsep yang tersurat di dalamnya. Kelebihan dari sifat ini adalah lebih toleransi terhadap berbagai pandangan dan masukan yang datang. Tetapi kekurangannya juga ada, yakni enggan untuk mengeksplor lebih jauh tentang paradigma.

Dalam menanggapi informasi baru yang beredar, kelompok ini akan mudah menerima tanpa menanyakan latar belakang terlebih dahulu. Pada akhirnya akan sangat mudah termakan berita hoax. Keadaan ini sering muncul karena dilandasi dengan minimnya bekal pendidikan, baik pendidikan secara formal maupun non formal. Oleh karenanya banyak terjadi perpecahan yang diakibatkan karena adanya disinformasi dan miskomunikasi.

Baca Juga  Prinsip Integralistik Manhaj Tarjih dalam Memandang Hadis Misoginis
Konvensional Lovers

Kelompok ini lebih cenderung berada pada posisi pertengahan, antara uncritical lovers dan critical lovers. Mulai memunculkan ide-ide keilmuan dalam membahas Al Quran. Tetapi masih merasa yakin dalam menerima kebenaran Al Quran tanpa memunculkan kritikan. Konsekuensi dari karakter ini adalah lebih cenderung abai dengan perkembangan zaman dan menghindarkan diri dari kritikan. Dalam hal penerimaan informasi baru, ada diantara mereka yang menerima mentah-mentah. Sedangkan sebagian lainnya tetap melalui tahap filterisasi informasi. Tetapi tidak meksimal dalam melakukan pengkajian data, sehingga seringkali termakan isu hoax.

Critical Lovers

Ilustrasi yang ketiga ini menggambarkan puncak dari pencapaian seorang feminis muslim. Dimana logika, keilmuan, dan daya kiritik berpadu untuk saling memperdebatkan kebeneran. Posisi ini tidak mudah dilakukan, karena akan ada banyak pihak struktural masyarakat yang menentang. Perjalanan yang dilalui tidak mudah, taruhannya bahkan harus siap jika nantinya akan disebut sebagai orang yang murtad dari Islam. Bisa juga mengalami pengucilan dalam masyarakat karena pemikiran yang dibawanya. Karakteristik dari relasi ini adalah tentu saja tidak akan termakan dengan isu hoax. Mereka akan mengolah masukan dan melakukan analisis secara mendalam dengan melibatkan berbagai pakar dan literatur yang mendukung.

Bagi Siti Syamsiyatun, relasi terakhir ini adalah yang paling berat dilalui oleh feminisme muslim di Indonesia. Karena melihat kultur bangsa Indonesia yang sangat sensitif dengan perubahan-perubahan baru, lebih-lebih kaitannya dengan agama. Dan inilah konsekuensi dan tanggungjawab feminisme muslim yang sesungguhnya.

*Tulisan ini merupakan catatan Diskusi Bedah Naskah Pidato Guru Besar Prof. Alimatul Qibtiyah yang diselenggarakan Rahma.id, JIB, dan Ruang Beajar Perempuan

Bagikan
Post a Comment