Self-Harm: Penyebab dan Cara Mengatasinya
Pernah nggak sih ngeliat teman dekat atau orang sekitar kalian tiba-tiba memiliki luka sayat kulit atau luka lebam tubuhnya? Lalu kalau kita tanya pasti jawabannya aneh dan nggak masuk akal. Terus juga teman kalian jadi suka mengisolasi diri dari lingkungan sosial, seperti mengunci diri di dalam kamar, dan diam lama di kamar mandi. Bisa jadi itu merupakan salah satu bentuk perilaku self-harm.
Self-harm adalah segala tindakan yang dengan sengaja dilakukan untuk menimbulkan rasa sakit dan kerusakan pada tubuh sendiri. Tindakan ini biasanya seperti menyayat kulit menggunakan benda tajam, membakar kulit dengan bara api, atau menggaruk kulit sampai terluka.
Tapi nggak cuma melukai secara fisik saja, ada juga yang melakukan perilaku self-harm dengan cara meminum alkohol atau obat obatan secara berlebihan, dan dengan sengaja melakukan hubungan seks dengan cara yang nggak aman yang bertujuan untuk meluapkan emosi negatif, alias self-harm.
…
Menurut WHO, self-harm merupakan perilaku seseorang untuk melukai diri sendiri dengan berbagai cara tanpa memandang ada atau tidaknya niat dan keinginan untuk mati. Perilaku ini merupakan sebuah fenomena penting dalam bidang kesehatan jiwa yang dapat terjadi baik pada populasi normal maupun pasien dengan diagnosis gangguan jiwa.
Perilaku self-harm ini memberikan kepuasan tersendiri bagi individu yang melakukannya dan membuat lebih merasa lega. Rasa sakit dari self-harm ini dapat menggantikan rasa sakit yang emosional; yang mana rasa sakit tersebut tidak dapat dijelaskan oleh dirinya sehingga lebih memilih untuk menyakiti fisiknya.
Hal ini karena fungsi otak yang berperan dalam memberikan respon rasa sakit. Misalnya kalau kita sakit hati, pasti badan juga jadi ikutan sakit, kalaupun nggak sakit, tapi bakalan ngerasa lemas dan enggan untuk beraktivitas. Hal itu terjadi karena keduanya saling mempengaruhi.
Perilaku self-harm bisa membuat kita kecanduan serta memberikan dampak negatif, salah satunya bikin masalah baru timbul. Keadaan ini bikin kita merasa bersalah kepada diri sendiri, jijik karena tubuh kita penuh luka, bahkan bisa menimbulkan rasa benci dan hilangnya rasa empati kepada diri sendiri. Dari dampak negatif yang tersebut akan mendorong untuk terus melakukannya lagi.
…
Penyebab melakukan self-harm ini merasa bahwa dengan melukai dirinya sendiri itu dapat melepaskan rasa emosi negatif. Karena ketidaktahuan mengenai bagaimana cara mengatasi rasa emosi negatif; kurangnya pemahaman tentang emosi yang ia rasakan; dan kesulitan mengekspresikan emosi. Hal itu membuat individu melakukan self-harm dan menjadikannya sebagai jalan keluar.
Self-harm juga dapat terjadi karena ada alasan untuk menghukum diri sendiri. Jadi, individu yang melukai sendiri merasa bahwa mereka berhak melakukannya atas dasar apa yang terjadi dalam hidup; mereka bingung mengatasi permasalahannya itu dan memilih self-harm sebagai bentuk kekecewaan terhadap diri sendiri.
Menurut Cornell University’s Self-Injury and Recovery Research and Resources (SIRRR) menjelaskan bahwa penyebab individu melakukan self-harm ini sebagai cara seseorang merasakan sesuatu saat mengalami mati rasa atau kehampaan dan mengalihkan perhatiannya dari depresi atau kecemasan. Beberapa individu melakukan self-harm untuk membuat luka yang melambangkan rasa sakit emosional, sementara individu yang lain melakukan self-harm sebagai cara untuk menghindar untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang-orang terdekatnya.
Perilaku self harm ini tentu membawa dampak buruk bagi penderitanya bahkan bisa berdampak pada kematian. Cara yang tepat untuk dapat mengatasi perilaku self harm ini di antaranya:
…
Pertama, mencari Bantuan. Teruntuk teman-teman yang sedang berjuang mengatasi permasalahan ini; mari mulai coba membicarakan perasaan dan kondisinya kepada orang-orang terdekat dan terpercaya. Dengan mencoba membicarakan perasaan secara langsung dapat membantu mengurangi dorongan untuk self-harm dan bisa membantu orang terdekat kita memahami emosi tersebut.
Kedua, mengenali kondisi diri. Biasanya ada barang tertentu dan waktu tertentu yang buat seseorang melakukannya. Hindari barang-barang dan kondisi tertentu yang memicu diri melakukan self-harm. Misalnya, jauhin gunting, pisau, cutter dari tempat-tempat yang mudah dijangkau. Kalau ada situasi yang membuat individu ingin melakukan self-harm segera menghindar dan alihkan pikiran.
Ketiga, ekspresikan emosi negatif. Kalau kamu lagi merasa sedih, luapkan saja semua emosi yang ada dengan cara menangis, teriak, dan melampiaskan perasaan kamu. Lebih bagus kalau kamu bisa mengidentifikasikan dan menuliskan perasaan negatif apa yang sedang ia rasakan. Tapi jangan sampai melukai diri sendiri dan orang lain. Ingat, jangan pendam perasaan kamu.
Keempat, menyibukan diri. Rubahlah perilaku negatif kamu dengan hal yang tidak berbahaya, sibukan diri supaya bisa teralihkan dari dorongan self-harm. Kamu bisa mengalihkannya dengan bermain, menulis, bermain gitar, mencuci piring, makan, menggenggam es batu, atau meremas bola karet.
Terakhir, dapatkan bantuan profesional. Jika semua cara di atas sudah kamu lakukan, tetapi kamu masih mengalami kesulitan, jangan segan-segan untuk menghubungi profesional. Perilaku self-harm ini harus segera diatasi, agar tidak semakin buruk bagi mental dan fisik kamu. Kamu bisa mengikuti sesi konseling dan mentoring kepada professional di bidangnya.
Jadi, bila ada orang terdekat kita melakukan perilaku self-harm, baiknya kita tanggapi dengan penuh kasih sayang dan jangan menjudge sendiri. Kita harus menyadari bahwa perilaku tersebut adalah upaya untuk mengatasi perasaan yang menyakitkan dan dorong mereka menemukan jalan keluar untuk perasaan negatifnya.
Mahasiswa Administrasi Pembangunan Negara Politeknik STIA LAN Bandung, Ketua PW IPM Jawa Barat Bidang Advokasi.
