f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu rumah tangga

Previlege Menjadi Ibu Rumah Tangga

Seorang teman bercerita bahwa ada masalah dengan anaknya. Anak laki-lakinya belum mampu berbicara di usianya yang sudah lebih dari sudah dua tahun. Tak ada yang aneh dengan anak ini. Semua bagian dari tubuhnya berfungsi dengan baik. Dia bergerak aktif  dan tumbuh sangat normal seperti anak-anak yang lain. Dia juga merespon dengan baik saat diajak tersenyum, bersalaman, menonton televisi dan semua interaksi sosial lainnya. Hanya saja tak ada ucapan apapun yang keluar dari mulutnya.

Pada umumnya, anak berusia 2 tahun sudah dapat menguasai sekitar 50 kosakata dan mampu menggabungkan 2 kata menjadi kalimat sederhana, seperti ‘aku lapar’, ‘mau itu’, ‘mik susu’. Sedangkan anak berusia 3 tahun sudah harus mampu menyusun 3-4 kata menjadi kalimat utuh. Jika pada usia dua tahun, seorang anak belum mampu memproduksi kata-kata, memang sewajarnya orang tua perlu waspada. Mungkin si anak memang malas berbicara, ada gangguan pada organ bicaranya (seperti lidah pendek, kelainan bentuk gigi dan laring), kecenderungan autis atau ada hambatan pada otak dan syaraf.

Teman saya ini adalah guru matematika di sebuah SMK, sehingga pagi hingga petang waktunya habis untuk mengabdikan diri di sekolah, mengajarkan banyak pengetahuan kepada murid-muridnya. Setelah di rumah, masih ada banyak printilan pekerjaan rumah tangga yang harus ia selesaikan. Saat mengambil anaknya dari tempat penitipan, dia dan si anak telah dalam kondisi lelah sehingga hanya sedikit waktu yang bisa dimanfaatkan untuk berinteraksi.

Sebatas yang diketahuinya, si anak memahami dan merespon dengan baik setiap kali diajak berinteraksi. Hanya memang hampir tak pernah ada kata-kata keluar dari mulutnya.  Setiap kali menginginkan sesuatu, dia hanya menunjuk atau menarik ibunya ke arah yang dituju. Setelah diperiksa ke dokter spesialis anak, anaknya dinyatakan berada dalam kondisi speech delay.

Ada rasa sangat bersalah kepada anaknya. Ingin sekali mengulang waktu yang telah lewat dengan menemani dan membersamai tumbuh kembangnya. Flash back kepada keputusannya dulu untuk memilih tetap mengajar setelah melahirkan, membuatnya merasa menyesal. Tetapi semua telah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur. Yang bisa dilakukan adalah memberikan rasa dan mempercantik bubur tersebut agar tetap nikmat untuk dipandang serta dinikmati. Eh.

Baca Juga  Sepotong Cerita Tentang Ibuku

Mendengarkan cerita teman saya tersebut, saya merasa sangat bersyukur dengan situasi yang dengan tidak sengaja akhirnya memaksa saya untuk sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Situasi ini menjadikan saya memiliki banyak waktu untuk secara total menjadi ibu, teman dan guru bagi anak-anak. Setiap waktu bisa membersamai serta mengawasi sendiri tumbuh kembang anak-anak, merawat dan turun langsung menangani segala hal tentang mereka sejak bangun tidur hingga tidur lagi.

Saya tidak melewatkan satupun momen penting dalam tahapan perkembangan mereka. Meskipun ada sedikit gonduk juga karena ucapan pertama mereka saat mulai bisa bicara adalah ‘papa’. Padahal jelas-jelas saya yang setiap hari bersama mereka dan mengajari bicara. Huhftt. Tapi tak apalah, kan memang papanya yang sepenuhnya menjadi support system terbaik saya untuk totalitas menjadi ibu rumah tangga. Dia yang menguatkan, meyakinkan dan membuat saya nyaman dengan hanya menjadi seorang ibu rumah tangga.

Background gemar membaca dan latar belakang pendidikan bahasa Inggris, sedikit banyak membantu saya menggiring anak-anak untuk suka membaca dan lancar berbahasa Inggris sejak kecil. Sungguh pencapaian besar yang tak pernah saya impikan sebelumnya. Pada saat anak-anak lain lebih terpaku pada hingar-bingar media sosial, game online, belanja online dan youtube, anak-anak saya lebih suka mengisi waktu dengan melahap bacaan dan bermain play station. Eh, tetap aja game ya, ha ha ha. Tetapi paling tidak, ketika orang tua lain kesal dengan lemahnya literasi anak-anak, saya sering kelabakan melayani hasrat membaca anak-anak saya (Duh, diksinyaa).

Kebiasaan baik yang anak-anak miliki saya mungkin tak akan terbina dengan maksimal jika saya memilih untuk tetap berkarir dan meninggalkan mereka dalam pengasuhan orang lain. Bayangan saya, tumpukan kepenatan seta emosi saat bekerja di luar akan menurunkan energi saya dalam pengasuhan anak. Mungkin memang saya tak memiliki kemampuan membereskan banyak hal dalam waktu yang sama. Tetapi tanpa sadar, dengan hanya menjadi ibu rumah tangga, saya memiliki banyak waktu, kesempatan dan energi untuk berkreasi serta berinovasi terkait pengasuhan anak-anak saya.

Baca Juga  Menakar Ulang Keadilan: Lelaki, Perempuan, dan Arah Baru Pengelolaan SDM

Di lain pihak, banyak pula ibu-ibu bekerja yang tetap concern dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya. Mereka-mereka yang seperti ini adalah super women yang sepertinya tak punya rasa lelah. Menclok sana menclok sini, membagi raga dan pikiran agar tetap seimbang antara merampungkan tuntutan pekerjaan, membereskan pekerjaan domestik rumah, serta mengamankan proses tumbuh kembang anak-anaknya.

Saya jadi ingat dengan chat wasap tadi pagi dengan seorang teman lama dari SMP, Nina namanya. Dia single parent yang bekerja sebagai guru bahasa Inggris di salah satu SMA favorit di Kudus. Saya mengomentari unggahan vidionya saat masak sayur sup tadi siang untuk anak-anaknya saat jam kerja.

“Dirimu gak ngajar? Kok jam segini masak di rumah?” tanya saya penasaran.

“Iya, ni mumpung ada jeda jam, aku pulang sebentar. Kasih minum obat anak sekalian bikin sayur.”Oya, kemarin kami memang berbincang tentang anaknya yang sedang kurang enak badan.

Tidak semua ibu bekerja memiliki kesempatan untuk mencuri waktu bekerja sambil tetap bisa mengasuh anak seperti Nina. Sebagian besar pekerjaan memaksa ‘mengurung’ kita untuk tetap berada dalam tempat kerja selama jam kerja. Pengasuhan anak hanya lewat telepon atau menggunakan jasa penitipan. Jadi, kesempatan untuk tetap bekerja dan tetap bisa mengasuh anak adalah previlege berharga untuk Nina, yang tidak dimiliki oleh semua orang.

Saya pun menyadari kesempatan yang saya miliki untuk bisa sepenuhnya di rumah saja menjaga anak-anak, juga previlege yang sangat berharga, yang juga tak dimiliki oleh semua orang. Menjadi ibu rumah tangga biasa ataupun menjadi ibu bekerja adalah pilihan yang selalu memiliki resiko, keuntungan dan tanggung jawab yang mengiringi. Semua tergantung dari cara kita memandang dan berkreasi dengan situasi yang ada. Stay strong moms.

Bagikan
Comments
  • Dian supraptiningsih

    Paling senang dengan kata yg sudah jd bubur d kreasikan😀🙏🙏🙏

    November 4, 2022
Post a Comment