f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Hijrah kok Kebelet Nikah?

Oleh: Anindita Rahma Firdausya*

Hijrah dimaknai dengan dua pengertian. Pertama, sebagai perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Mekkah ke Madinah untuk menyelematkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekkah. Kedua, berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya)

“Hijrah” masih massif dibicarakan oleh kalangan anak muda hingga hari ini, walau demikian, sebetulnya kata-hijrah itu, sudah tranding beberapa tahun lalu. Ya, saya sendiri pernah mengalaminya, saat berada di bangku SMA, saya sempat tergabung dalam halaqah hijrah, waktu itu saya diajakin ukhtyfillah, jadi sedikit-banyak mengetahui dinamika trend “hijrah”

Terlepas dari pro kontra “hijrah”, yang menjadi perhatian saya adalah keinginan untuk menikah di usia muda setelah memutuskan untuk berhijrah. Tentu hal tersebut sifatnya subjektif.

Namun, Rahmania… Saya telah meriset kecil-kecilan terkait hal itu. Memang benar, sedikit banyak akhyfillah dan ukhtyfillah yang sudah memilih untuk berhijrah ternyata memiliki keinginan yang tinggi untuk menikah di usia muda. Alih-alih  menjauhi pacaran untuk menghindari zina, maka pilihan menikah adalah jalan terbaik menurut mereka.

Baiknya, ketika seseorang sudah memilih untuk berhijrah, mengikuti kajian, bergabung dengan halaqah (liqo’), orientasi tentang “menikah” mestinya lebih dari sekedar “menghindari zina”. Karena, sebagaimana kita ketahui, agama Islam memberikan visi dan misi yang lebih jauh dari itu, untuk membangun suatu peradaban yang baik.

Coba sesekali Rahmania “search” di Instagram, sederhana saja, kata “hijrah” lalu cek semua akun disana, pengikutnya rata-rata lebih dari 1k bahkan ada yang 1Jt, tidak berhenti disitu, cek lagi konten-kontennya, pasti ada konten yang membicarakan terkait hal-hal yang berbau percintaan, bucin (budak cinta), jomblo, dan lain-lain.

Baca Juga  Child Grooming Bukan Cinta yang Tak Memandang Usia

Boleh juga cari akun ‘Indonesia Tanpa Pacaran’. Memang, konten-kontennya sangat menarik untuk kalangan anak muda zaman sekarang, apalagi jika akun tersebut memang sasarannya anak muda seperti saya, tentu pesan yang ingin disampaikan lebih mudah diserap.

Kajian-kajian yang diadakan terkait dengan jalan menuju pernikahan atau bertemakan Hijrah, Nikah, Berkah pun juga sangat massif di adakan, bahkan audience nya banyak. dan berbanding terbalik dengan kajian yang bertemakan peradaban Islam, atau hal-hal yang bertemakan pemikiran Islam.

Katanya, memang konsepnya seperti itu, setelah hijrah trus menikah agar berkah. Dari hal tersebut tentu sudah terlihat bagaimana hype-nya pernikahan muda dikalangan sobat ambyar, eh sobat hijrah.

Tenang saja, ternyata media sekarang memudahkan kita dalam banyak hal, salah satunya adalah dalam hal pencarian jodoh. Tidak percaya? coba lagi ” search“ di Instagram kata “ta’aruf “ terserah mau cek akun yang mana saja, model taaruf online ini juga banyak sekali pengikutnya di Instagram, tak jarang mereka memposting foto beserta CV orang-orang yang sudah siap menikah.

Jadi, jika para jomblo sudah siap untuk menikah dan merasa kesulitan mencari pasangan di dunia nyata, bisa banget mencoba model taaruf online. Syukur-syukur memang jodohnya ada disana kan?

Dengar-dengar dari obrolan bersama ukhtyfillah, biasanya keinginan menikah ini disebabkan karena mereka ingin mencari teman hijrah untuk bersama-sama menuju Ridho Allah, karena dengan bersama semua akan indah dilalui. Padahal sebelum memilih untuk berhijrah juga baik-baik saja menjadi jomblo.

Di kalangan ukhtyfillah, tak jarang yang menjadi bahasan adalah para hafidz qur’an yang ganteng, bukan lagi laki-laki ganteng atau aktivis pergerakan yang ada di kampus, alih-alih agar tetap bernuansakan syar’I jika membicarakan hafidz ganteng, hal serupa juga dilakukan oleh akhyfillah yang tak luput membicarakan hafidzah cantik atau ukhty-ukhty kampus yang jilbabnya terurai hingga kaki.

Baca Juga  Realitas Jilbab dan Stigma Keshalehan Muslimah

Rahmania, menikah bukan tentang hal-hal yang “enak” saja, jika memang dalam kajian disampaikan nikmatnya menikah, ya begitulah menikah. Memang nikmat, namun terlepas dari itu semua, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dengan matang untuk menuju ke pernikahan.

Seharusnya, sebagai sobat hijrah perlu memberikan banyak perhatian terhadap sekitar daripada melulu-sekedar memikirkan menikah muda. Misalnya, perlu dipikirkan kenapa kaum-kaum marginal yang ada di Indonesia masih banyak dan tak jarang mereka tidak dapat merasakan nikmatnya ber-Islam secara damai? kemudian dari pemikiran tersebut dapat membangkitkan ghirah para sobat hijrah untuk memikirkan perubahan dengan menciptakan peradaban yang baik, tentunya dengan mengimplementasikan ilmu-ilmu yang sudah didapatkan setelah hijrah tadi. Bukankah hal tersebut lebih memberikan kebermanfaatan untuk umat?

Jika memang belum siap untuk banyak hal menuju menikah muda, lebih baik memikirkan peran kita untuk peradaban terlebih dahulu, sudah benar bermanfaat belum diri kita ini? jika memang hatinya belum cukup peka untuk memindai permasalahan umat yang ada, baiknya banyakin untuk Istighfar, berdo’a sama Allah agar dibukakan pintu hatinya, diberikan ilmu yang barokah, dan ditajamkan hati serta pemikirannya.

Namun, jika memang sudah siap untuk menikah muda, silahkan untuk memilih jalan tersebut, tentunya dengan memperhatikan banyak hal sesuai dengan tuntunan. Pernikahan merupakan ibadah yang lama, dan untuk menyempurnakan separuh iman.

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa salah satu faedah dari pernikahan adalah dapat mengendurkan syahwat. Tentunya, diharapkan juga mampu membentengi diri dari godaan setan.

Rasulullah memberikan pesan kepada ummatnya terkait dengan keseriusan dalam hal pernikahan, Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk tulus dalam memilih calon pasangan hidup, kemudian beliau bersabda: “ Perempuan itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah perempuan yang beragama (bagus cara beragamanya), niscaya engkau akan beruntung. “ (HR al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga  Pernikahan Bukanlah Pencapaian dan Pasangan Bukanlah Objek untuk Dimenangkan

Dalam aktivitas biologis pernikahan, Islam memandang hal tersebut mempunyai nilai, di samping memiliki kenikmatan. Dalam QS.Yaasiin:55-56 kenikmatan tersebut bersifat langgeng sampai akhirat. Kemudian, seksualitas erat kaitannya dengan reproduksi. Islam memberikan peringatan khusus terkait hal itu, dimulai dari pemilihan seorang ayah terhadap calon ibu untuk anak-anaknya kelak. Rasulullah bersabda: “Pilihlah (perempuan/istri) yang baik untuk menumpahkan nuthfahmu, kawinlah dengan yang sekufu, dan kawinkanlah (putra-putrimu) dengan mereka “ (HR Ibnu Majah)

Perasaan cinta itu adalah fitrah manusia. Wajar, Rasulullah saja tidak dapat memaksa seseorang menghentikan perasaan cinta, kepada sobat hijrah yang masih diuji dengan perasaan cinta yang belum halal, rasanya saya ingin memanjatkan do’a Abus-Sa’ib al-Makhzumy yang begitu indah,

“ YaaAllah, kasihanilah orang-orang yang dimabuk cinta dan kuatkanlah hati mereka serta condongkanlah hati orang-orang yang dicintai kepada mereka. Aaamin “ – (Do’a tersebut Dikutip dari Buku Wanita yang Merindukan Surga; hlm 98)

*Penulis adalah Sekretaris PK IMM Averroes FT UMS Bidang Organisasi

Bagikan
Post a Comment