f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pacaran

Bukan Anggota Tim Pacaran atau Tim Taaruf, Lalu?

Beberapa waktu lalu, perduniawi-an sedang hangat-hangatnya membicarakan aktris yang baru saja menikah. Berita terkini yang sudah menyaingi Bapak Menteri Kesehatan dalam menginformasikan jumlah kasus Covid-19. Siapakah dia? Baik, sebut saja Jaenab. Sebenarnya, saya sendiri tidak terlalu mengikuti berita yang katanya “membahagiakan” ini. Ee tapi, “membahagiakan” kok malah bikin banyak orang ribut sana-sini?

Terlepas dari kebahagiaan yang dirasakan oleh pengantin baru Jaenab dan Bambank, ada hal menarik yang harus kita lirik. Beberapa postingan di laman Instagram mereka berdua menjadi bahan perbicangan warganet yang katanya selalu benar.

Seharusnya kebahagiaan itu menular, tapi ini kok malah bikin onar, kataku dalam hatiku paling sunyi. Yaiyalah sunyi, emang ada yang menempati. Ada banyak cara yang dilakukan oleh orang-orang untuk akhirnya berkata “Yok, nikah!” Dan dijawab dengan lantang “Yok!”. Begitu juga dengan Jaenab dan Bambank  ini.

Entah melalui proses seperti apa, di sini saya ingin mencatat beberapa proses yang dijalani oleh sebagian orang. Seperti pacaran atau alih-alih bilangnya sih komitmen (hehehe), penjajakan, atau pun istilah yang islamic gitu alias taaruf, sebenarnya sah-sah saja. Toh, bukan menjadi urusan saya.

Proses Hidup Setiap Orang Berbeda

Hei, saya juga tidak membenci semua proses tersebut. Karena saya percaya, setiap orang sedang hidup dengan alasan-alasan yang tidak pernah kita tahu. Utuk-utuk.

Kalau ditanya saya tim pacaran atau mungkin tim taaruf, saya bukan kedua-duanya. Lha kok bisa? Begini, dalam kacamata saya yang tidak tahu perihal hubungan, apalagi perjanjian yang agung itu mitsaqan ghaliza, hanya bisa menerka-nerka.

Misal tim pacaran. Bagaimana bisa yakin menikah melalui jalur  pacaran? sedangkan yang kita tahu hanya sebatas permukaan pasangan kita. Katanya, “Kamu tuh nggak bakal tahu sifat asli pasangan kamu, sebelum menikah”. Padahal pacarannya udah seperti orang kredit rumah, bertahun-tahun. Itu juga tidak menjamin kalau kamu tahu bagaimana sebenarnya pasangan kamu. Tolong yang sudah pernah mengalaminya, merapat!

Baca Juga  Ayat Penggerak Hati KH. Ahmad Dahlan

Hiliih, doi  lebih mentingin main games aja, kamu ngambek kok. Gini, kamu mau menikah?! Anda sehat?

Alasan-Alasan Pacaran

Next, “Aku pacarannya baru sebentar, doi sering ngasih aku kejutan. Romantis banget. Aku juga udah dikenalin sama keluarganya.” Hadeeeh, untuk sekadar membuat perempuan bahagia apalagi percaya itu memang mudah, beri dia perhatian dan kejutan kecil. Maka dia akan membicarakanmu di depan teman-teman perempuannya. Sudah kah, kamu begitu? Monmap, untuk saya tidak mempan.

“Aku udah tahu banyak hal tentang dia, walaupun baru kenal 3 bulan. Aku udah siap menikah nih.” Hiliiihh, terserah kamu, ya. Pernikahan itu bukan hanya tentang bahagia dan sewaktu-waktu terluka. Tapi, mau diisi apa selama pernikahan yang kamu sebut sebagai ibadah terlama itu? Sudahkan mempunyai jawabannya?

Kalau udah punya jawabannya, saya dikasih bocorannya, dong.

Benarkah Memulai Hubungan dengan Cara Pacaran?

Pun saya juga tidak mengasumsikan kalau jalur pacaran itu nggak baik. Menurut saya karena sering berdekatan dengan yang bukan mahram dan tentu saya menulis ini bukanlah sebagai salah satu pendukung tagar #IndonenesaTanpaPacaran. Ya, itu terserah kalian.

Tim Taaruf

Atau misal, kamu tim taaruf. Nah lho, bagaimana dengan proses yang sangat amat sebentar ini kamu bisa memutuskan hidup se-syurga dengannya. Eyaaa. Bahkan dengan orang yang mungkin baru kamu kenal. Kan, banyak tuh media-media taaruf. Sedangkan kamu tahu, ibadah yang satu ini (menikah) paling luuuaama, katanya. Sampai nanti, sampai detak dan detik nafas terakhir. Oh ya, saya baru sadar karena tingkat keimanan saya belum sebaik teman-teman atau orang-orang yang melewati proses baik ini. Mundur.

Tapi, lagi-lagi saya bukan tim ini.

Bagaimana seseorang bisa menikah hanya dengan persiapan yang sebentar? Tidak, mereka telah mempersiapkan bekal yang banyak. Jauh-jauh hari sebelum memutuskan untuk taaruf. Makanya, mereka satu langkah lebih cepat nggak kaya kamu. Sad.

Baca Juga  Orang Lain Menyebutnya Privilege, Saya Menyebutnya Persiapan

Hmmm. Benar sekali, mereka telah mempersiapkan banyak hal, kalau dalam agama yang saya anut seperti ini, ruhiyah (spiritual), Ilmiyah-fikriyah (ilmu-intelektual), jasadiyah (fisik), maadiyah (material), dan ijtima’iyyah (sosial). Dan saya belum memulainya sama sekali. Tapi, saya bukanlah manusia yang dengan mudah meng-iyakan, “Yok, nikah!”

“Dia tuh ilmunya bagus banget, hafalannya banyak, sosialnya chakeeeeep, dan pokoknya uwuwu banget.” Tapi, nggak satu frekuensi, nggak nyambung dong. Langsung blacklist.

Definisi Sefrekuensi

Yang pertama saya tertuju dengan “tingkat humor.” Misalnya, “Akang gendang, kalau saya bilang balas chat, balas ya. Nggak ngilang.” Contoh kalimat tersebut bikin saya tertawa, lalu jika tingkat humor saya receh seperti ini.  Tetapi si doi malah menganggap apa yang saya tertawakan bikin dia illfeel atau malah dianggap sebagai hal yang  ndak baik. Yhaa, kalau nanti saya jadi istrinya malah ndak  dapat ridho suami gimana? Memang sangat sederhana, tapi sangat mempengaruhi porsi tertawa saya sepanjang hidup.

Yang kedua soal selera musik yang terlalu fanatik. Saya suka dengan segala genre musik, pop, jaz, ataupun dangdut. Tapi begini, misal si doi ini suka “deep talk”, punya inner beauty alias hatinya sangat bersahaja. Namun punya selera musik dangdut yang terlalu fanatik.

Setiap ada konser dangdut datang dan membawa atribut lengkap, seperti hand banner yang ada nama si artis favorit lalu joget-joget di barisan paling depan. Bukan, bukannya saya nggak suka dengan dangdut, kan saya sudah bilang kalau saya suka segala macam genre musik. Toh, saya juga tahu lagu yang ada lirik “belok kiri lurus wae”. Bacanya ndak usah sambil nyanyi! Entah kenapa, yang semacam ini harus saya ikhlaskan.

Baca Juga  Memaknai Ulang Fenomena Ghosting
Kita Harus Tau Bagaimana Cara Memperlakukan Satu Sama Lain dengan Baik

Yang ketiga, ini agak berat, lalu izinkan saya untuk mengatakan, “We know to treat each other better.” Kita tahu bagaimana caranya untuk menyembuhkan si doi dengan baik. Kapan harus bertingkah seperti badut ataupun seperti Bapak Mario Teguh dengan kalimat supernya. Ibaratnya, kita tahu kapan harus diam dan kapan harus banyak bicara untuk mengerti si doi yang hatinya sering labil. Ee tapi, kamu kan cinta. Yatta?

Sebenarnya masih banyak definisi sefrekuensi, tapi saya rasa itu semua sudah mewakili kalian yang memikirkan hal-hal mendasar yang kemudian bisa menjadi faktor pembatal minat untuk melanjutkan lebih jauh lagi. Lalu, apa sih yang menjamin? Saya kembalikan kepada empunya. Tentu semua ini akan terjawab ketika sudah dihadapkannya. Yatta?

Kalau kamu bukan tim keduanya, berarti kita satu server. Karena keduanya membutuhkan kompromi dan keluasan hati sendiri-sendiri. Semoga hal-hal yang semasing kita yakini mampu membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki.

Bagikan
Post a Comment