f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berkasih sayang

Mengaktivitaskan Cinta dalam Kehidupan

Kata cinta begitu menarik untuk dibahas dan didiskusikan. Selain itu, cinta juga dapat diartikan dalam berbagai konteks. Hal yang sering dijumpai adalah cinta kepada lawan jenis atau kepada pasangan. Namun, berkasih sayang (cinta) tidak sebatas itu saja. Contoh yang lain misalnya; cinta kepada agama, cinta kepada orang tua, cinta kepada lingkungan, cinta kepada hewan dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan dibutuhkan yang namanya cinta. Dengan memiliki perasaan tersebut maka, akan melahirkan energi cinta yang termanifestasikan sebagai bentuk kasih sayang bagi si pecinta kepada makhluk lain. Di sisi lain, energi cinta dapat memberikan keyakinan yang kuat dalam diri seseorang.

Energi inilah yang berpengaruh dalam setiap aktivitas kehidupan yang dijalani oleh setiap individu. Bayangkan, jika dalam kehidupan tidak ada cinta. Tentu akan nihil peradaban. Alhasil, terjadi banyak perselisihan, permusuhan, perkelahian, pertentangan, peperangan dan timbul kerusakan. Keselarasan hidup akan terkikis. Akibat tidak adanya energi cinta dalam setiap jiwa manusia.

Aktivasi Cinta Menjadi Aktivitas Cinta

Aktivasi cinta dalam kehidupan merupakan tahapan yang perlu diwujudkan guna memberikan kehidupan yang lebih harmonis. Proses mengaktifkan cinta yang tepat tentu menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Cinta harus berakar pada yang sejati. Cinta harus memiliki pondasi yang kokoh serta memiliki tiang-tiang penyangga yang kuat.

Sehingga, aktivasi cinta dapat bertransformasi menjadi aktivitas cinta. Lantas, bagaimana seharusnya kita mengaktivitaskan cinta agar bermuara kepada kedamaian. Karena terkadang jika kita tidak mampu memaknai cinta secara komprehensif. Maka, jiwa akan terasa seperti tanah yang gersang.

Dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Cinta memiliki peranan yang krusial. Peranan inilah yang seyogyanya mampu dimaknai sebagai bagian dari diri manusia. Cinta dapat mewujud sebagai kasih sayang. Di lain sisi, juga bisa mewujud sebagai benci. Cinta yang dikecewakan akan berubah jadi kebencian.

Baca Juga  Menenangkan Istri yang Tidak Tenang

Namun, dalam salah satu acara sinau bareng yang dibersamai oleh Emha Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan Cak Nun. Beliau menyampaikan bahwa, “benci itu tidak ada, yang ada adalah cinta yang tersakiti”. Jadi, benci adalah perasaan kecewa karena cinta yang tersakiti. Dapat diartikan bahwa yang ada hanya cinta. Benci hanyalah efek samping dari cinta yang terluka. Hal tersebut membuktikan jika cinta memiliki energi yang luar biasa.

Bijak dalam Bercinta

Menurut hemat saya pun, cinta tidak pernah salah. Karena cinta memiliki arti sebagai kasih sayang. Tinggal bagaimana seseorang mengaplikasikannya dengan arif. Serta, orientasi cinta harus lebih esensial. Jangan sampai hanya sekedar pada lapisan yang terluar saja. Lapisan yang kasat mata atau bersifat badaniah. Akan tetapi, harus mampu menyentuh lapisan yang paling dalam atau yang bersifat ruhaniah.

Cinta tidak semestinya dikotori oleh perilaku yang mengarahkan pada cinta yang berkualitas rendah. Luapan cinta harus tetap pada garis batas ketaatan agar tercipta kedamaian dan ketentraman. Karena hadirnya cinta dalam kehidupan merupakan anugerah dari Tuhan.

Anugerah yang membuktikan tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Sebagai umat beragama tentu kita sadar bahwa keberadaan cinta yang di hadirkan Tuhan untuk mewujudkan sikap manusia yang saling berkasih sayang.

Pesan Tuhan : Saling Berkasih Sayang Antar Sesama

Tuhan mengatakan kepada manusia agar saling berpesan untuk berkasih sayang. Dari yang disampaikan Tuhan tersebut kita dapat mengambil pembelajaran. Untuk saling berpesan dengan berkasih sayang sesama hamba Tuhan. Membantu terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan. Mengajak kepada kebaikan serta mencintai sesama makhluk-Nya.

Kesadaran bahwa Tuhan Maha Cinta juga wajib kita bangun. Tuhan sendiri pun mensifati diriNya yakni Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Penciptaan langit dan bumi serta seisinya bukan tidak mungkin atas dasar cinta kepada makhlukNya.

Baca Juga  Peran Perempuan dalam Kemanusiaan dan Toleransi

Sadar atau tidak, ketika kita melafalkan bismillahirahmanirrahim. Sebenarnya, dalam kalimat tersebut menandakan bahwa Tuhan itu Maha Cinta. Atas dasar kesadaran Tuhan itu Maha Cinta. Sudah semestinya mampu kita jadikan sebagai sumber pembelajaran.

Hal ini memberikan kesempatan kepada kita untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang memiliki akal dan mampu berpikir memiliki tugas untuk menghidupkan cinta. Mengarahkan pada jalan yang lurus serta jalan yang tegak dan tidak merusak ataupun mengotori kemurnian cinta.

Arah cinta yang bermuara pada wujud cinta yang berkualitas sudah selayaknya dirawat dan dijaga. Kecintaan Tuhan kepada makhlukNya serta pesan untuk saling mengasihi, bisa kita terapkan dalam praktek percintaan. Namun, bukanlah hal yang gampang untuk mewujudkannya. Sudah disampaikan sebelumnya bahwa perihal yang terpenting untuk bisa terwujud adalah tetap pada batas-batas ketaaatan.

Kita harus mampu menjaga dan merawat kewarasan akal. Karena terkadang kewarasan bisa hilang, ketika sudah berurusan dengan yang namanya cinta. Harus diketahui pula bahwa luapan cinta tidak boleh melanggar aturan. Dengan adanya aturan inilah mampu menjadikan manusia lebih teratur, tentram dan tenang. Alhasil, tercipta kedamaian, ketenangan dan kententraman.

Lantas Bagaimana Mengaktualisasikan Cinta yang Berkualitas ?

Hal yang bisa diterapkan agar cinta yang berkualitas teraktualisasikan. Pertama, kita harus menjaga dan merawat perasaan. Dengan menjaga perasaan atau hati orang lain. Maka, tindak tutur  dan tindak laku kita tidak akan melukainya, tidak akan menyakitinya, tidak akan menghinanya, dan tidak berlaku kasar.

Kedua, menjaga dan merawat kewarasan akal. Tuhan telah menciptakan manusia dengan akal. Dengan akal inilah kita mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Jangan sampai mengarah pada perilaku kebodohan yang dapat merugikan orang lain maupun diri sendiri.

Baca Juga  Dalam Doa

Yang terakhir adalah menjaga dan merawat harga diri. Dalam hal ini kita harus mampu mengontrol diri jangan sampai terjerumus dan terjebak pada perilaku yang dilarang oleh agama.

Rahmania, dapat disimpulkan bahwa kekuatan dalam merawat perasaan, akal dan harga diri mampu memperkokoh kepribadian sebagai seorang manusia. Dengan mengambil pembelajaran yang bersumber pada Tuhan Maha Cinta. Pada akhirnya, kita akan mengaktivitaskan cinta dalam kehidupan yang bermuara pada perdamaian dan berujung pada cinta kita kepada Tuhan. Wallahu a’lam. (Editor : Vika)

Bagikan
Post a Comment