f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
reuni

Kotak Amal yang Tak Menjadi Amal

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika terorisme yang selama ini kita berantas bersama, ternyata sedikit banyaknya masyarakat itu sendiri tanpa sadar ikut mendanainya. Bahkan mungkin beberapa persen uang di dompet kita atau sebatas uang kembalian setelah belanja yang kita masukkan ke kotak amal justru pernah sangkut menjadi penyokong aksi mereka.

Hal ini lazim terlintas di benak saya ketika beberapa waktu lalu muncul berita terbongkarnya modus pengumpulan dana teroris menggunakan kotak amal fiktif. Menurut keterangan kepolisian, hal tersebut bahkan jumlahnya mencapai ribuan dan tersebar di banyak kota. Sayangnya tidak semua bisa diungkap. Itu artinya kotak amal fiktif masih “bergentayangan” khususnya di kota-kota yang dimaksud.

Kita tentu tahu selama ini mudah sekali untuk menemui kotak amal di berbagai tempat, mulai dari pasar, rumah makan, warung, hingga tempat perbelanjaan modern. Tujuannya juga beragam. Sayangnya sulit membedakan mana yang benar-benar untuk bantuan dan yang penipuan. Atau mungkin selama ini kita juga tak pernah menduga jika di antara sekian banyak kotak amal itu ada yang fiktif.

Adanya penyalahgunaan ini kembali menyadarkan kita bahwa uang yang kita sumbangkan dengan niat kebaikan dan keikhlasan nyatanya memang masih rentan penyelewengan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Meskipun umumnya kita memberikan uang dengan nominal kecil, tapi pernahkah terpikir bagaimana jika uang tersebut diakumulasikan?

Sebagai gambaran saja, anggaplah ada 100 orang yang menyumbang seribu rupiah dalam 1 hari. Dari sini sudah terkumpul Rp100.000. Selama 10 hari, akan terkumpul Rp1.000.000. Ini baru terkumpul dari 1 kotak. Bayangkan jika kotak amal tersebut jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Silakan hitung sendiri. Meski demikian, kita tidak bermaksud menggeneralisir. Tentunya memang ada pihak yang memerlukan sumbangan dari masyarakat dan hanya punya akses kotak amal dalam pengumpulan dananya. Ini sah-sah saja.

Baca Juga  Manusia Pergerakan dan Era Disrupsi
Masyarakat yang Dermawan

Indonesia selama ini memang dikenal sebagai negara yang warganya sangat dermawan. Setidaknya ini tercermin dari laporan Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index tahun 2018 yang menempatkan Indonesia di posisi puncak sebagai negara paling dermawan.

Di satu sisi, ini menjadi berita yang sangat baik dan bisa sedikit mengharumkan nama bangsa, namun di sisi lain hal ini juga menjadi tempat suburnya aksi penipuan sumbangan. Mudah sekali untuk orang-orang tak bertanggungjawab memanfaatkan kedermawanan tersebut. Berbekal membuat kotak amal dengan gambar dan kata-kata menarik, lembaran uang bisa mereka dapatkan tanpa harus susah payah.

Sayangnya hal seperti ini sering luput dari perhatian. Beritanya pun tak bertahan lama. Seolah-olah masalah ini sudah selesai. Padahal kita tidak bisa menganggap enteng hal tersebut. Terlebih ketika dana yang terkumpul tersebut tidak hanya untuk konsumsi pribadi melainkan sudah pada level kejahatan besar seperti terorisme. Itupun yang sudah terungkap. Bagaimana jika ternyata masih ada kejahatan lainnya yang belum diketahui. Tentunya tak bisa diselesaikan hanya dengan kalimat “biarkan saja mereka berbohong, serahkan semuanya kepada Tuhan”. Seolah semua ini tak bisa diatasi dan akhirnya pasrah.

***

Saya pribadi selama ini termasuk orang yang enggan memberikan uang ke kotak amal meskipun sering saya temui di banyak tempat. Saya tidak punya waktu dan keahlian jika harus meneliti terlebih dahulu apakah kotak amal tersebut asli atau palsu. Kalaupun mau menyumbang, saya lebih memilih menyumbang ke kotak yang ada di masjid atau musholla sekitar rumah. Bagi saya bersedekah di kotak amal masjid/musholla lebih aman karena pengelola, penggunaan serta pelaporannya lebih jelas.

Kita juga bisa menyumbangkan uang kecil yang kita miliki, sama persis dengan menyumbangkannya ke kotak amal yang selama ini banyak bertebaran di berbagai tempat. Bedanya saya merasa lebih tenang saja terutama setelah adanya berita kotak amal fiktif.

Baca Juga  Perempuan, Khalifah di Meja Makan

Di satu sisi, harus pula kita akui bahwa masalah menyumbang ke kotak amal ini sangatlah dilematis. Semisal mengkampanyekan untuk tidak lagi memberi sumbangan ke kotak amal yang tidak jelas, nampaknya akan menjadi sesuatu yang masih mengundang pro kontra. Ini sudah pernah diterapkan kepada pengemis dengan diterbitkannya peraturan di beberapa daerah. Penerapannya tentu saja tak terlepas dari perdebatan panjang yang membuat masalah ini semakin rumit.

Belum lagi bagi sebagian orang, hal ini tidak terlalu dipedulikan. Sekadar mengeluarkan uang seribu dua ribu, itupun jarang, memang apa salahnya. Menyumbangkan uang ke pihak manapun juga merupakan hak tiap orang dan tak bisa diatur-atur. Terlebih jika sebelumnya baru saja membaca buku atau mendengar video ceramah dari youtube tentang keutamaan bersedekah. Hmmm rasanya ingin memasukkan uang setiap kali melihat kotak amal.

Sementara itu orang yang mengkampanyekannya berpotensi mendapat anggapan sebagai orang yang pelit, kikir, su’udzhon, tak punya hati, dan sebagainya. Di satu sisi fakta mengecewakan tentang kotak amal fiktif kian terbuka. Memunculkan segolongan masyarakat yang antipati pada praktik tersebut. Kondisi ini tak heran membuat masyarakat menjadi terbelah. Masalah kian bertambah. Padahal kita tahu kedua pihak sama-sama memiliki niat yang baik.

Peran Pemerintah

Saya kira tidak heran jika kemudian masyarakat hanya bisa berharap pada pemerintah dan pihak terkait untuk menengahi masalah ini. Peran mereka sangat diperlukan. Merekalah yang punya wewenang dan kemampuan untuk mengatasi masalah ini di samping peran aktif masyarakat. Sampai kemudian kotak amal bisa menjadi aliran dana terorisme, seharusnya ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak khususnya pemerintah.

Saran saya, ada baiknya jika pemerintah nantinya lebih dulu mengutamakan pencegahan adanya kotak amal fiktif daripada menerapkan kebijakan larangan memberi sumbangan ke kotak amal. Lagipula memberikan sanksi kepada masyarakat pastinya juga tidak mudah dalam pengawasannya. Lebih baik pengawasan itu langsung ditujukan kepada kotak amal yang bertebaran di mana-mana.

Baca Juga  Arti Sebuah Nama dalam Islam

Selain itu pemberian sanksi kepada masyarakat yang melanggar aturan, saya rasa akan menjadi pemandangan yang janggal. Apakah tidak aneh jika seseorang harus mendapat sanksi hanya karena ia dengan iklas memberikan uangnya membantu orang lain. Karena itulah, pencegahan berupa pengawasan yang ketat terhadap kotak amal ini menjadi langkah awal yang harus terlaksana.

Apabila ini bisa menjalankannya dengan baik dan konsisten, tentulah masyarakat yang dermawan bisa benar-benar nyaman dalam beramal. Begitupun pihak yang memang memerlukan dana juga bisa terbantu. Kiranya ini menjadi kerjasama yang baik. Pada akhirnya kotak amal benar-benar bisa menjadi ladang amal bagi mereka yang memiliki kesadaran untuk berbagi. Bukan malah sebaliknya, kotak amal hanya menjadi kedok untuk memperkaya diri sendiri atau kelompok tertentu. Wallahu a’lam.

Editor: Lailatul Qoderia

Bagikan
Post a Comment