f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dunia keinginan

Anak Kecil yang Kehilangan Masjidnya

Sontak, telinga saya terasa amat panasnya. Perih. Ternyata tangan seorang bapak-bapak berumur 40 tahunan sedang menjewer telinga saya hingga memerah.

Saya sedang shalat tarawih ketika itu. Umur saya sekitar 8-10 tahun. Bersama dengan tetangga saya, seperti biasa, kami menunaikan salat tarawih berjamaah selayaknya anak kecil di malam-malam bulan suci Ramadhan.

Apa sebab saya dijewer? Saya ketahuan bercanda saat imam telah memulai rakaat pertama.

Anak kecil seumuran saya ketika itu, pergi ke masjid tak hanya untuk shalat. Mereka (dan saya tentunya) juga pergi ke masjid dengan semangat refreshing. Apalagi kalau bukan untuk bertemu teman satu komplek/sekolah?

Sialnya, momen refreshing yang seharusnya menjadi selingan, justru terbawa sampai imam telah mengumandangkan takbir. Setelah shalat dimulai, saya dan teman saya masih saja saling bercanda. Hingga kemudian, terjadilah peristiwa yang menyebabkan telinga saya merah itu.

 ***

Saya kesal, tapi tak bisa merespons apa-apa. Toh, sebenarnya niat bapak itu baik. Beliau hendak memperingatkan saya agar tidak bercanda di masjid. 

“Ini tempat suci, tempat ibadah. Kalau mau main, pulang saja sana”, mungkin kalimat seperti itulah yang akan keluar dari lisannya.

Tapi, untuk anak-anak kecil seumuran saya saat itu, kalimat-kalimat bijak di atas terasa luhur sekali. Saking luhurnya, pikiran anak kecil belum bisa mencapainya. Anak kecil, yang dijewer oleh seorang bapak-bapak tua di masjid, mungkin sudah paham bahwa masjid adalah tempat ibadah.

Namun, mereka belum paham bahwa bercanda di masjid secara berlebihan bukanlah hal yang elok. Yang mereka pahami adalah mereka akan bertemu teman-temannya di masjid. Kemudian, mereka mengobrol soal anime favorit atau kejadian lucu saat di sekolah.

Anak kecil itu berangkat ke masjid dengan perasaan senang. Tapi, mereka bisa pulang dengan membawa segudang trauma. Mereka bisa kehilangan masjid.

Baca Juga  Anak Nakal Haruskah ke Pondok Pesantren ?

Apa sebabnya? Tak lain dan tak bukan, ini tentang nasehat atau cara kita mengingatkan anak-anak kecil.  Niat kita mungkin baik, tapi cara yang salah dalam menasihati justru bisa membuat mereka semakin antipati.

 ***

Masjid punya posisi yang amat penting dalam dinamika keagamaan umat Islam. Sejak masjid pertama yang dibangun Kanjeng Nabi SAW, yaitu Masjid Quba hingga jutaan masjid yang tersebar di seluruh dunia saat ini, semuanya punya fungsi keagamaan yang begitu sakral. 

Perintah mendirikan shalat berjamaah di masjid memiliki pahala lebih besar, yaitu 27 derajat lebih tinggi dibanding shalat sendirian. Selain ibadah mahdhah (yang telah ditentukan tata caranya), di masjid juga sering dilaksanakan ibadah ghairu mahdhah. Misalnya, mengadakan tablig akbar atau ceramah keagamaan yang biasanya mengundang ustaz-ustaz kondang. 

Namun, fungsi masjid sejatinya tidak hanya berkutat soal fungsi keagamaan yang sempit. Fungsi masjid sebenarnya lebih luas, misalnya sebagai tempat musyawarah dan sekolah. Pada zaman Nabi SAW, masjid dijadikan sebagai pusat kegiatan kenegaraan dan keagamaan sekaligus.

Orang sering datang ke masjid tak hanya pada waktu-waktu shalat wajib. Mereka justru sering datang lebih awal atau menunggu jeda antar waktu shalat dengan berkonsultasi kepada Kanjeng Nabi SAW. 

Mulai soal urusan dapur sehari-hari hingga masalah umat dan agama Islam didiskusikan di tempat sujud itu. Oleh karenanya, masjid menjadi ramai 24 jam. Azan hanya sekadar tanda bahwa waktu shalat telah tiba. Selebihnya, kebutuhan masyarakat akan masjidlah yang menuntun mereka berduyun-duyun mendatanginya.

Berbeda dengan realitas saat ini. Masjid hanyalah tempat salat. Konsep masjid berhenti pada fungsi-fungsi ibadah ritual. Orang baru akan ke masjid, jika mereka mendengar azan. 

Baca Juga  Pentingnya Menanamkan Pendidikan Karakter pada Anak

Lagipula, di zaman modern ini, kebutuhan apalagi yang bisa (dan hanya bisa) dipenuhi di masjid selain shalat berjamaah? 

Saya yakin jawabannya: tidak ada. Masyarakat tak suka lagi rapat di masjid. Kita lebih suka bermusyawarah di kafe-kafe. Dan, fungsi masjid akhirnya kian terpinggirkan. 

Urusan ekonomi, tentu masyarakat lebih memilih bank konvensional. Zakat, yang merupakan ibadah “pembunuh” ketimpangan ekonomi, hanya dihayati ketika hari raya. Esensi masjid sebagai pilar ekonomi umat akhirnya tinggal angan-angan belaka.

***

Mencermati fakta di atas, bukankah masjid (seharusnya) memiliki fungsi yang begitu sentral dan kompleks? Lantas, akankah anak-anak kecil kita, sengaja kita biarkan kehilangan masjidnya?

Anak-anak yang punya hobi ke masjid, apapun alasannya, harus mendapat perhatian khusus. Tidak, maksud saya bukan diawasi terus menerus hingga mereka merasa seolah dimata-matai oleh “intelijen ketertiban masjid”.

Yang saya maksud perhatian khusus ialah: menjaga cara bertutur dan bertindak kita agar sesuai dengan tabiat seorang anak kecil. 

Tabiatnya mereka memang kerap kali lari-larian di masjid. Suara tertawa mereka pun terkadang sangat mengganggu. Pada saat-saat imam baru saja takbir, kadang bercanda mereka belum berhenti, bahkan tak jarang baru saja akan dimulai.

Yang perlu kita lakukan bukanlah membentak atau bahkan menindak mereka secara fisik. Ucapan yang bernada keras atau pukulan tangan, tak ubahnya seperti “perintah” bagi mereka (anak kecil) untuk tidak kembali lagi ke masjid.

Saya mengalaminya dan mungkin banyak di antara kita yang pernah merasakannya. Pada rentang usia saat SD, otak kita mudah merekam tindakan-tindakan negatif yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita. Tak terkecuali, yang diniatkan sebagai kebaikan.

Selama yang tampak adalah negatif, otak anak kecil akan melihatnya sebagai ancaman. Mereka tak peduli niatan luhur macam apa yang terselip di baliknya. Sekarang bisa Anda bayangkan, kalau tindakan-tindakam negatif itu banyak direkam dan terpatri kuat dalam memori seorang anak, di sebuah tempat bernama masjid.

Baca Juga  Kiat Pengasuhan Orang Tua Milenial Serta Strategi Problema Keluarga di Era 4.0

Apa yang akan muncul dalam benaknya? Bukankah tindakan gegabah kita justru dapat membuat mereka kapok dan bahkan menjauh dari masjid?

***

Masalahnya tidak berhenti sampai di titik itu. Masjid juga merupakan representasi tradisi keagamaan, dalam hal ini agama Islam. Jadi, mendekatkan anak pada masjid juga merupakan usaha untuk mendekatkan dunia anak dengan dunia keagamaan. Semata-mata agar mereka tumbuh menjadi dewasa dengan kebijaksanaan yang terpancar dari nilai-nilai agama.

Selain itu, pada umur yang masih belia, anak kecil cenderung membutuhkan tempat bernaung. Mereka membutuhkan supporting system dari lingkungannya untuk membentuk jati diri mereka. 

Jika pada masa awal-awal pertumbuhan, anak kecil punya pengalaman negatif terhadap masjid (sebagai representasi agama), bukan tidak mungkin, mereka akan mencari supporting system di luar masjid. 

Kalau sudah begini, fungsi sosial masjid tak akan lagi ada yang menggerakkan. Anak muda akan tumbuh dengan sikap yang menjaga jarak dengan masjid, bahkan dengan agama itu sendiri. Akhirnya, masjid menjadi kian terasing, anak-anak kecil kehilangan masjidnya, dan yang paling parah: kehilangan gairah beragama.

Bagikan
Post a Comment