f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
broken home

Broken Home Berdampak pada Anak dan Masa Depannya

Broken home terjadi karena tidak utuhnya struktur keluarga yang idealnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Selain tidak utuhnya anggota keluarga, broken home terjadi karena malfungsi keluarga atau terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuan membangun keluaga. Sebagian besar masyarakat mengetahui pemicu adanya broken home hanyalah perceraian. Namun ada faktor lainnya seperti kematian anggota keluarga, sengaja pergi menginggalkan keluarga, dan kekerasan dalam rumah tangga.

Broken home berdampak pada psikologis anak. Anak yang mengalami ketidakutuhan keluarga akan menjadi sensitif dan pesimis. Dampak ini terjadi dalam jangka waktu panjang. Sifatnya berubah menjadi sensitif dan pesimis ini akan berdampak sampai anak itu mempunyai keluarga sendiri.

Dampak Broken Home pada Anak

Saat masih kecil, si anak tidak bisa memahami apa yang tengah terjadi pada keluarganya. Mereka menyimpulkan sendiri penyebab keretakan keluarganya. Setelah mendapatkan alasan yang mereka karang sendiri mereka merasa ini adalah salah dari orang tua mereka. Anak tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya. Tidak jarang mereka melampiaskannya pada orang lain seperti teman-teman atau orang sekitarnya. Bentuk pelampiasannya bisa berupa kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Pemicu terjadi kemarahannya adalah hal yang membuat mereka sensitif.

Anak-anak broken home memiliki perasaan berasalah. Mereka mengira penyebab runtuhnya keharmoniasan rumah tangga. Hal ini berdampak pada kesulitan mengelola emosi. Mereka berpikir bahwa apapun yang mereka lakukan tidak pernah berhasil. Ini adalah akar dari beberapa gangguan mental seperti serangan panik dan depresi.

Sedari kecil mereka tidak bisa bersandar pada orang tua. Tidak ada tempat untuk berbagi cerita. Ketika melakukan kesalahan tidak ada orang tua yang menengahi dan memberikan pengertian. Apabila mereka merasa senang dan bahagia tidak ada yang memberikan apresiasi. Mereka menganggap hidupnya tidak berharga lagi. Tak jarang mereka merasa tidak nyaman bertemu dengan keluarga yang utuh karena ada perasaan iri dan berandai-andai memiliki keluarga yang utuh dan harmonis. Korban cenderung diam, tetapi diamnya mereka memendam beberapa hal seperti mudah curiga dan takut mengekspresikan emosinya.

Baca Juga  Peran Ibu dalam Melepas Rantai Toksik Kekerasan

Anak broken home yang kesulitan mengendalikan emosi berdampak pada keyakinan. Mereka memilki sifat rendah diri atau tidak pecaya pada kemampuan dirinya. Mereka menganggap diri mereka tidak sempurnya dibandingkan dengan anak yang terlahir dari keluarga yang utuh. Sikapnya tidak yakinnya ini mencakup tidak yakin untuk membangun hubungan, keluarga, maupun pernikahan. Ketakutan mereka adalah tidak mampu membangun keluarga dan berakhir gagal seperti keluarganya.

Dampak Broken Home Jangka Panjang

Ketika anak-anak korban broken beranjak dewasa sifat-sifat yang terbentuk karena broken home sulit diubah. Itu sudah menjadi karakter mereka. Para peneliti psikolog mengatakan bahwa memori yang terekam ketika masa kanak-kanak akan selalu terkenang dan membentuk karakter ketika dewasa kelak. Masa kanak-kanak adalah masa perkembangan kognitif seperti berpikir, belajar, dan mengingat.

Anak yang sulit merubah kebiasaan melampiaskan kemarahan dengan kekerasan cenderung menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Mereka akan bersikap impulsif. Tidak memikirkan dampak atas tindakannya karena dari awal kekerasan adalah bentuk kekecewaan dan kemarahan. Ketika masih kecil tidak ada yang memberikan arahan bagaimana cara mengolah emosi. Dampaknya mereka menganggap melakukan kekerasan adalah hal lumrah ketika mereka kecewa dan marah.

Beberapa kajian literatur mengungkapkan bahwa banyak korban KDRT masih mempertahankan rumah tangga karena masih mengharapkan pelaku berubah. Seringkali pelaku berubah baik dan meminta maaf setelah melakukan kekerasan dengan dalih “khilaf”. Fakta ini berkaitan dengan dampak anak broken home yang memiliki rasa bersalah. Pelaku KDRT merasa bersalah karena telah melakukan kekerasan karena itu adalah bentuk meluapkan kemarahan. Sedangkan korban bisa saja mempertahankan rumah tangganya karena merasa bersalah belum menjadi figur keluarga yang baik. Istri yang menjadi korban merasa belum bisa melayani suami dengan baik. suami yang menjadi korban merasa belum bisa menafkahi keluarganya dengan baik.

Baca Juga  Baku Jaga dalam Membesarkan Anak
Sudah Banyak Korban Broken Home Berhasil Membangun Keluarga

Mengesampingkan kasus sebelumnya, banyak korban broken home yang berhasil membangun rumah tangga. Mereka berhasil membangun rumah tangga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Berhasil mewujdukan visi dan misi yang telah dirancang bersama. Namun tanpa sadar masih ada efek broken home yang masih terasa. Biasanya korban memiliki rasa sensitif yang tinggi. Mereka sangat posesif terhadap anggota keluarga lainnya. Suami korban menaruh curiga kepada istri. Tidak jarang suami yang tidak memperbolehkan istirnya untuk bekerja. Mereka melakukannya bukan tanpa alasan. Suami takut para istirnya terlalu sibuk di luar rumah dan melakukan hal yang tidak bisa terbayangkan seperti selingkuh. Begitupun dengan istri terdapak broken home. Mereka akan menaruh curiga yang besar ketika suaminya tidak berada di rumah atau jangkauannya.

Meskipun demikian, masih banyak korban broken home yang dapat membangun hubungan keluarga yang sehat. Mereka tidak mau anak-anaknya ataupun pasangannya merasakan apa yang mereka rasakan. Pengalaman orang tua mereka memberikan pelajaran penting baginya bagaimana membangun keluarga yang baik. Mereka bisa belajar bagaimana menghargai pasangan dan memahami bahwa anak sedang belajar apa yang dilakukan orang tuanya.

Bagikan
Post a Comment