Saat Anak Harus Memilih
Sudah tak asing peribahasa ‘Hidup adalah pilihan’ terdengar di telinga kita. Life is choice. Hakikatnya hidup kita adalah sebuah pilihan, apakah ingin bahagia atau sengsara. Ingin sukses atau tidak, ingin kaya atau miskin. Ingin pintar ataupun bodoh. Semua itu tergantung pada apa yang kita pilih dan kita tempuh. Namun ingat shaliha! Di samping semua pilihan yang kita tempuh jalannya, ada Allah Azza wa Jalla yang sudah menuliskan takdir hidup kita, jauh sebelum kita dilahirkan kedunia. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Q.S. Al-An’am ayat 59, yang artinya :
“Dan kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur dan tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”.
Tapi ingat shaliha! Dengan ditulisnya atau ditetapkannya takdir kita, bukan berarti kita hanya menerima atau berpangku tangan saja. Semuanya harus tetap kita pilih dengan berbagai usaha dan doa. Karena tak ada usaha yang menghianati hasil. Tak ada kata kecewa dengan mengangkat tangan untuk berdoa. Dengan doa, itu artinya kita memohon yang terbaik akan sesuatu yang sudah atau sedang kita pilih. Jika nanti hasilnya mungkin tak sesuai harapan, apakah kita harus marah? Lantas jika marah, kita marah kepada siapa? Bukankah Allah sudah menakdirkan semuanya? Remainder nih… apa yang Allah berikan kepada kita, itulah yang kita butuhkan dan yang terbaik untuk kita. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 216, yang artinya :
“ ….. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
Bagaimana seorang anak harus memilih ketika Ayah dan Ibunya memutuskan untuk berpisah? Apa yang harus anak lakukan?
Anak adalah mahluk kecil tak berdosa yang lahir karena hubungan suami istri yang diikat dalam sebuah perjanjian besar (miitsaqaan ghalidza) yang dinamakan pernikahan. Anak lahir sebagai sebuah pengharapan bagi kedua orang tuanya. Bahkan dalam nama yang disematkan oleh orang tua terdapat sebuah doa di dalamnya. Posisi anak dalam Al-qur’an dibedakan menjadi empat, yaitu : pertama, anak sebagai qurrota ‘a’yun (penyejuk mata atau penyejuk hati) yang terdapat dalam Q.S. Al-Furqan ayat 74. Kedua, anak sebagai perhiasan dunia terdapat dalam Q.S. Al-Kahfi ayat 46. Ketiga, anak sebagai fitnah atau ujian terdapat dalam Q.S. At-Taghabun ayat 15. Dan keempat, anak sebagai musuh (‘aduwwun) terdapat dalam Q.S. At-Taghabun ayat 14.
Di samping itu, anak dalam pandangan ilmu psikologi menurut John Locke berarti pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Oleh karena itu, anak memerlukan figur contoh (role model) yang baik dalam kehidupannya. Tentu saja, lingkungan kehidupan terdekat anak adalah kedua orang tuanya. Jika orang tua memberikan contoh yang baik terhadap anak, misal : orang tua menanamkan nilai agama Islam dengan baik di rumah, maka anak pun akan menjadi baik dan terbiasa mengamalkan nilai-nilai agama Islam. Sebaliknya, jika orang tua memberikan contoh perlakuan yang buruk, baik itu dilakukan secara tidak sengaja atau bahkan sengaja, maka akan menimbulkan sikap yang kurang baik pula terhadap anak.
Maka, bagaimana role model bagi anak yang kedua orang tuanya memilih untuk berpisah?
Perpisahan atau perceraian Ayah dan Ibu tentu saja menggoreskan luka dalam hati anak. Tak dapat dipungkiri, luka itu pasti akan tersimpan dalam hati anak baik secara sengaja atau tidak sengaja. Dan lambat laun, luka itu akan kembali menyeruak hadir saat anak melihat keadaan di lingkungan sekitarnya.
Percayalah shaliha, meskipun perceraian itu dilakukan ketika usia anak masih dalam usia dini, tapi lukanya akan tetap ada terutama luka psikis. Hati anak akan tergores saat melihat teman-teman di sekitarnya membicarakan sosok ayah sebagai pahalawan, sosok ibu yang senantiasa menyuapinya, atau hal yang lainnya. Sedangkan, ia hanya tinggal dengan salah satu dari Ayah atau Ibunya, atau bahkan bersama dengan neneknya. Hati mana yang tak akan teriris ketika mendengar seorang anak yang bertanya :
“Kenapa dia pergi bareng ayah ibunya, ayah aku mana?” atau
“Kenapa kalau aku pergi sama ayah, ibu gak pernah ikut?”
Mungkin itu hal yang spele bagi kita orang dewasa. Namun bagi anak-anak, kehadiran sosok Ayah dan Ibu yang lengkap merupakan suatu keperluan untuk memberikan pengasuhan dan role model yang baik bagi dirinya.
***
Saat kedua orang tua berpisah, itu dapat menjadi salah satu faktor dari kenakalan remaja yang terjadi kelak. Karena anak tidak memiliki role model yang baik dari kedua orang tuanya, atau masing-masing dari orang tua sudah memiliki pasangan masing-masing yang mengakibatkan mereka lupa akan pengasuhan terhadap anaknya. Tanpa disadari, hal tersebut akan menjadi pemicu anak untuk melakukan kenakalan sebagai cara untuk menarik perhatian kedua orang tua terhadap dirinya.
Atau bisa saja, dengan kehilangan sosok ayah atau ibu karena kasus perceraian dapat membuat perilaku anak menjadi tidak sesuai dengan gendernya. Misal, perilaku anak laki-laki yang harusnya macho atau gagah, ini malah menjadi gemulai karena anak tidak memiliki role model yang menggambarkan sosok laki-laki real. Begitupun sebaliknya, ketika anak perempuan seharusnya bersikap lemah lembut, ayu dan lain sebagainya, anak ini malah bersikap keras, kasar, bahkan tomboy karena kehilangan sosok figure perempuan dalam hidupnya, yakni ibu.
Jadi, ketika seorang anak harus memilih antara ibu atau ayahnya, anak tidak bisa memilih. Karena keduanya sangat berarti bagi anak, terutama dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Itu artinya, anak lebih memilih untuk tetap bersama kedua orang tuanya membangun sebuah keluarga yang indah, yang mendampinginya hingga dewasa kelak. Ingat shaliha! Jangan sampai apa yang dipilih oleh kedua orang tua menyakiti hati anak, apalagi sampai membuat fisik dan psikisnya lelah. Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik, tak lupa juga selalu libatkan Allah Azza wa Jalla dalam mengambil setiap keputusan.
Referensi :
Al-Qur’anul Karim
Iqbal, Muhammad. Psikologi Pernikahan. Gema Insani. 2018.
Seorang mahasiswa semester 4 jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bandung, juga seorang tenaga pendidik di salah satu madrasah yang berada di kawasan Kab. Bandung. Terlahir sebagai anak bungsu tepatnya 20 tahun lalu di kawasan kab. Bandung. Media sosial yang dapat dihubungi, ig : euis_hamidah21.

Hanifah
Masyaallah, artikelnya sangat bermanfaat sekali. Jazakillah khairan katsiran