Belajar Bersepeda Aman Bagi Anak Melalui Kanal Youtube
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan beberapa anak yang bermain di TK karena mungkin sangat rindu ke sekolah atau sekedar bermain. Yang menjadi perhatian saya adalah kedua lutut anak tersebut terlihat babak bundas. Meski bekas lukanya telah mongering, saya tak membayangkan betapa nyerinya saat luka masih basah.
Ketika saya tanyakan penyebab kepada orang tuanya ternyata karena mereka sering bermain sepeda dan terjatuh. Mereka baru senang-senangnya bersepeda, dari pagi bangun tidur bahkan sampai jelang magrib baru mau pulang. Masa pembelajaran daring ini banyak anak-anak yang sudah bisa naik sepeda meski badannya harus terluka, mereka tak jera.
Pada suatu ketika saya mendengar seorang bapak bilang bahwa pohon teh-tehan yang menjadi pagar belakang rumah saya juga bermanfaat untuk anak yang belajar naik sepeda. Bila mereka jatuh menabrak teh-tehan akan lebih aman bukan menabrak beteng (pagar dari tembok). Sekilas pernyataan bapak tadi membesarkan hati keluarga saya yang belum bisa mbeteng, namun kenyataannya nyungsep di pohon teh-tehan pun sakit, apalagi kena batangnya pasti mblarut-mblarut kulitnya.
Bersepeda Melatih Kognitif dan Motorik Anak
Belajar bersepeda memang hal yang paling menyenangkan pada diri anak; karena selain sebagai aspek bermain ternyata itu juga sebagai salah satu indikator perkembangan aspek kognitif dan motorik anak. Aspek kognitif berkenaan dengan pengetahuan fungsi dan bagian-bagian sepeda. Sedang untuk motorik ada dua macam pertama motorik halus bagaimana anak memposisikan tangan memegang stang pada sepeda; untuk motorik kasar berupa posisi kemampuan kaki mengayuh dan menjaga keseimbangan.
Dari berbagai hal tersebut di atas, harapannya para orang tua mengetahui betapa pentingnya proses belajar bersepeda dan meminimalisir terjadinya cedera pada anak. Salah satunya adalah orang tua dapat menerapkan “safety” atau keamanan bagi anak terutama yang sedang belajar bnaik sepeda.
Bila kita melihat para goweser yang saat ini sedang marak di masa pandemi memakai helm, maka secara keseluruhan keamanan bersepeda itu belum lengkap. Saat masih kecil dulu di TVRI saluran televisi kebanggaan saya satu-satunya, sering menanyangkan olah raga yang salah satunya adalah balap sepeda.
Sekilas bisa kita lihat mereka memakai perlengkapan helm, pelindung siku, pelindung lutut serta kaos kaki dan sepatu. Tumbuh mindset saya bahwa memakai perlengkapan kemanan hanya ketika “lomba balapan sepeda”.
***
Masa kecil saya sungguh sangat berbeda dengan sekarang ketika mempunyai anak berusia 20 bulan, yang sejak kecil memang sudah sering diberikan tontonan atau sekedar “rungon-rungon” oleh ayahnya berupa beberapa video yang diunduh dari media sosial Youtube. Yang pasti video itu rekomendasi saya dari konten memiliki nilai-nilai pendidikan karakter, religi juga sebagai kategori nursery rhymes.
Awalnya konten favorit anak saya hasil dari unduhan itu dari beberapa saluran kartun Indonesia seperti Balita (Baba Lili dan Tata), Diva the Series, Nussa Rara Official, plus lagu-lagu dimasa kecil saya di “Lagu Anak TV”. Berangsur saya liat beberapa saluran kartun serupa berbahasa inggris yang sangat bagus untuk pengembangan karakter bagi Pendidikan Anak Usia Dini. Jatuh hatilah saya pada channel You Tube ABC Kids TV yang pengembangannya menjadi Cocomelon, Super Jojo, dan Little Angle. Tokoh dari ketiga chanel itupun cocok dengan usia anak saya, yaa batita yang menggemaskan dengan awalan huruf “J” semua.
Bersepeda Aman Versi Kanal Youtube Lokal
Bahasan saya bukan tentang aneka kanal tersebut di atas;, namun saya lebih mengkritisi tentang adanya beberapa perbedaan bersepeda aman yang divisualisasikan melalui beberapa saluran di atas. Untuk Indonesia seperti Balita dan Diva the Series hampir sama sekali tidak saya temukan penggunaan alat perlindungan dan keamanan bersepeda dari lagu “jadoel” yang akrab di telinga kita yang berjudul kring-kring ada sepeda. Saya jadi ingat bahwa lagu itu sering sekali saya nyanyikan di depan “Kruciel-kruciel” ketika tema kendaraan. Namun saya lupa sama sekali tak menjelaskan bersepeda amankarena berkiblat pada video yang saya tonton itu.
Untuk video dari chanel Nussa dan Rara Official terlihat ada yang menggambarkan salah satu safety tersebut. Contohnya ketika saya menonton video “Dahsyatnya Basmallah” yang menceritakan Nussa, Rara serta kucingnya yang bernama “Anta” menaiki sepeda. Nussa yang memakai helm memboncengkan Rara yang berhelm menggendong kucingnya juga menggunakan safety belt agar aman berboncengan “ngebut”.
Alur cerita si kucing digoda setan dari belakang hingga goyang-goyang, yang membuat Nussa kehilangan keseimbangan hingga akhirnya jatuh terpental. Di sini mereka merasa aman karena kepala telah dilindungi dengan helm, tidak seperti kepala kucing yang benjol. Namun bisa kita bayangkan bila anak berboncengan ngebut dan terjatuh sudah dipastikan siku tangan atau lutut “benyok-benyok”.
Bersepeda Aman Versi Kanal Youtube Luar Negeri
Perbandingan bersepeda aman saluran luar negeri seperti ABC Kids TV/Cocomelon, Super Jojo, dan Little Angle dengan saluran Indonesia di atas akan sangat berbeda. Ketika belajar bersepeda dan bermain sepeda di video saluran luar negeri tersebut memakai peralatan keamanan yang lengkap; mulai dari helm, pelindung siku dan pelindung lutut dan sepatu.
Sebagai contoh adalah video dengan judul “No No Play Safe Song” yang sudah merilis video berbahasa Indonesia. Di sini menceritakan bayi “Super Jojo” belajar naik sepeda roda tiga bersama kakaknya menggunakan safety lengkap; juga dilengkapi dengan penjelasan manfaat perlengkapan tersebut seperti yang dicontohkan kedua kakaknya. Begitu juga di video dengan judul Ride a Bike atau You Can Ride a Bike produksi saluran ABC kid TV/Cocomelon yang menceritakan kakak bayi ”JJ” berlatih naik sepeda roda 2 dengan safety lengkap bersama kakak dan adiknya yang naik sepeda roda 3.
Berbagai alat perlengkapan belajar dan bermain sepeda bagi anak dalam video tersebut sesungguhnya memiliki nilai edukasi keamanan yang sangat luar biasa bagi orang tua dan anak. Pertama secara fisik saat anak belajar naik sepeda baik itu roda 2 atau roda 3 sangat perlu memakainya sebagai perlindungan dari cedera yang fatal dari organ tubuh seperti kepala, tulang siku tangan dan lutut kaki.
Kedua secara psikologis melatih rasa percaya diri dan meniadakan rasa takut berlebihan atau trauma berlebih saat belajar naik sepeda. Ketiga orang tua dapat lebih mudah memotivasi anak untuk belajar naik sepeda.
***
Maka dari itu orang tua perlu mempertimbangkan untuk melengkapi alat keamanan ketika orang tua membelikan sepeda baru. Terlebih yang tinggal di komplek perumahan berbasis pagar-pagar tembok dengan jalan “pavling block”. Meskipun secara perhitungan finansial akan sangat membengkak. Harga helm sepeda kecil dengan standar SNI hampir sama dengan harga helm motor orang dewasa.
Hemmm tapi lebih mahal mana daripada harga ketika anak anda menderita secara fisik dan psikologis mengalami cedera bagian kepala atau tulang lutut kaki?
Meskipun kalau dilihat di sekitar kita bila anak bersepeda memakai peralatan keamanan lengkap akan disebut sebagai “cah nggaya”; atau alih-alih malah dibilang akan mengikuti lomba bersepeda. Sesungguhnya keamanan ini tidak hanya diperlukan bagi anak yang belajar atau bermain sepeda; namun juga yang suka bermain sepatu roda atau scooter.

Guru TK Pertiwi 55 Bantul dan pemerhati Pendidikan anak.
