Menulis dengan Gaya Rambo
Dulu saya penonton setia film bioskop. Hampir setiap minggu menonton. Tentu bioskop yang tidak mahal-mahal amat. Tidak kuat bagi kantong mahasiswa. Dari sekian film, saya terkesan dengan film Rambo. Anda pernah menontonnya? Tontonlah jika belum pernah.
Saya akan cerita sedikit film Rambo. Bukan sekadar cerita tetapi ada hubungannya dengan proses kreatif saya dalam menulis yang sudah saya geluti sejak semester 2. Rambo dibintangi oleh Sylverter Stallone, aktor laga terkenal di Amerika. Film ini bahkan dibuat berseri. Ada Rambo, First Blood (1982), Rambo: Fist Blood Part II (1985), Rambo III (1988), Rambo IV (2008), dan Rambo: Last Blood (2019). Tokohnya ada Jonhn Rambo, Kolonel Samuel Trautman, Will Teasle dan lain-lain. Pokoknya filmnya seru. Itu menurut saya.
***
Sebenarnya film itu film perang. Film yang mencerminkan bahwa Amerika menang perang melawan Vietnam. Meskipun kenyataannya tak demikian. Tentara Amerika sebenarnya kewalahan di Vietnam. Bagaimana tidak? Mereka biasa makan roti, fast food, susu dan makanan enak lainnya. Saat di Vietnam mereka harus makan di tengah hutan yang asing. Tapi dalam film tersebut, tentara Amerika tentu menang. Bagaimana tidak, yang membuat film juga Amerika?
Apa yang menarik? Di antara aksi Rambo saya jeli melihat senjatanya. Bukan pisau heartstopper-nya yang tajam dan seolah bermata. Tetapi saya tertarik pada senjata mesin dengan pelurunya yang banyak. Konon senjata jenis ini pernah digunakan dalam perang dunia. Senjata ini bisa menembakkan 800 butir peluru per menit dan jangkauannya 1.500 meter. Dengan senjata ini pula, Rambo tak terkalahkan.
Senjata jenis itu tentu sangat berguna untuk menghadapi musuh yang banyak dengan senjata lengkap. Misalnya saja, kita yang tak pandai memainkan senjata seperti Rambo tersebut asal punya keberanian menembakkan pasti bisa. Minimal dari sekian peluru satu dua di antaranya akan bisa menemukan sasaran. Coba Anda bayangkan saja terlebih dahulu seperti Rambo sedang menembak musuhnya di kamp tentara Vietnam.
Begini Caranya
Apa yang menarik dari senjata Rambo itu? Cara menembak seperti Rambo itu juga pernah saya lakukan. Bukan memakai senjata mesin. Tetapi saya pakai untuk metode menulis dan tembus di media cetak. Sejak zaman saya masih kuliah dulu.
Artinya begini. Karena tingkat kemampuan saya dalam menulis masih minim; budaya baca kurang, keprigelan menulis lemah, tidak kenal redaksi media maka cara satu-satunya yang saya lakukan dengan meniru gaya Rambo itu. Saya ingin redaktur bosan dengan tulisan saya lalu membuat salah satu tulisan yang dikirim. Jadi bukan sebaliknya. Dari situ saya berharap redaktur merasa kasihan dan bisa memuat tulisan saya itu. Sebuah cara dari orang yang lemah tetapi punya niat seteguh karang, bukan?
Apa yang terjadi? Ternyata resep itu manjur. Saya membayangkan membawa senjatanya Rambo dan menembak sasaran di lapangan. Satu atau dua peluru pasti mengenai sasaran, meskipun saya tidak ahli dalam menembak.
Saya punya pengalaman menarik. Dimuat atau tidak saya akan mengirimkan tulisan ke media yang saya tuju. Ditolak redaksi media 20 kali berurutan saja saya pernah, kok. Jika dalam rentang waktu tertentu belum dimuat akan saya kirimi lagi. Begitu seterusnya. Satu di antaranya ternyata lolos juga.
Bahkan saya punya cerita menarik saat mengirim sebuah tulisan tentang televisi di harian Pikiran Rakyat Bandung. Saya pernah mengirim satu artikel sampai 4 kali pengiriman dalam rentang waktu tiga bulan. Maklum yang saya tuju adalah rubrik mingguan.
Kiriman pertama ditolak, kemudian saya edit kirim ulang. Ditolak. Kirim lagi untuk yang kali ketiga dengan mengubah judul, masih ditolak juga. Lalu yang keempat saya tambahi data dan ganti judul. Lalu saya lupakan nasib tulisan itu. Eh, ternyata malah dimuat.
Apakah tulisan saya benar-benar berkualitas? Tidak juga. Saat itu memang teman yang saya tulis sedang ramai dibicarakan. Jadi, saya menyakini bahwa tulisan saya tak begitu berkualitas tetapi kan dimuat? Ya untuk apa berkualitas tapi tidak dimuat? Yang penting dimuat, batin saya waktu itu.
Ternyata ini resep yang jitu juga untuk menaklukan media, bukan? Jadi, saya hanya mencoba menerapkan gaya Rambo dalam memembak. Ya tentu saja kalau Rambo memang benar-benar ahli dalam menembak. Tapi gayanya bisa kita tiru.
***
Ada kasus menarik. Saat saya mengunjungi kantor redaksi harian Republika, entah tahunnya berapa saya lupa, saya ketemu dengan redaktur opininya. Iseng-iseng saya bertanya.
“Mas kenal seorang mahasiswa di Yogya bernama “X”? Kayaknya dia sering menulis di koran Republika ya?”.
“Kenal banget. Kenapa dik?”
“Dia ngirim tulisan mas?“ tanya saya lebih lanjut.
“Oh iya. Dia bulan ini ngirim 4 tulisan. Saya kasihan juga. Satu di antaranya akan kita muat. Tulisannya lumayan kok? “jawab redaktur opini.
Jadi sebuah tulisan bisa dimuat atau tidak tak melulu soal kualitas. Bisa karena pas temanya aktual, tidak ada yag mengirim bersamaan atau kasihan melihat penulis yang bolak-balik kirim tetapi ditolak. Ini pengalaman saya saja. Tetapi boleh Anda praktikkan.
Isoman hari ke-6 (29/12/20)
Penulis Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Twitter/IG: nurudinwriter
