Ketika Wajah dan Tubuh Ada dalam Kendalimu
“Beauty begins the moment you decide to be yourself” Coco Chanel
Everybody is pretty vs pretty is effort, benarkah? Beberapa hari lalu jagat media sosial diramaikan oleh lagi-lagi persoalan yang penting, tapi kerap kita anggap sepele, yakni body shaming. Pro dan kontra muncul saat influencer Michelle Halim mengunggah di laman story foto penampilan model terbaru label Victoria Secret dengan tubuh curvy. Istilah curvy berbeda dengan “gemuk”, tubuh curvy terlihat besar di daerah yang tepat dan ramping di bagian lain. “I miss VS Angels, kenapa jadi gini sekarang,” tulis Michelle.
Menurutnya, kini Victoria Secret sudah tidak lagi mengontrak para perempuan bertubuh langsing untuk dijadikan model. Tak sampai di situ, ia juga membandingkan pemeran utama serial Gossip Girl yakni Blake Lively dengan pemeran Gossip Girl versi reboot terbaru, Jordan Alexander. Mengunggah potret kedua aktris tersebut, Micelle Halim menilai Jordan Alexander terlihat burikdaripada Blake Lively, “Kenapa zaman sekarang semuanya makin burik,” tulisnya di Instagram story.
Komentar Michelle yang menyinggung standar kecantikan tersebut, lantas menjadi viral setelah sejumlah akun membagikannya di Twitter dan Instagram. Tak pelak, warganet menjadi geram karena selebgram itu dianggap telah melakukan body shaming. “Tidak ada standar dalam kecantikan. Katanya jadi menteri kecantikan, tapi kok body shaming,” tegur warganet.
Akibat viralnya opini Michelle, dikutip dari laman Wolipop; menurut dia pendapat tentang model Victoria Secret dan film seri dicomot tidak lengkap hanya sepenggal. Kemudian dibagikan oleh banyak akun yang tidak dikenal, digiring, diperluas, disambungkan dan diartikan sendiri. “No reaction, buat apa menanggapi akun yang hanya ambil konten aku sepenggal-sepenggal dan membuat asumsi sendiri? Kita harus pandai dalam memilah tanggapan,” ujar Michelle.
**
Teguran tersebut bukannya tanpa alasan, seperti kita ketahui brand Victoria Secret kerap menjadi sasaran kritik; sebab mereka kerap mengobjektifikasi perempuan dan melanggengkan stereotype seksis. Kini, walau terlambat, mereka mulai menyadari pentingnya inklusivitas dalam industri fashion yang selama ini lekat dengan standar kecantikan mainstream.
Dalam koleksinya yang terbaru yang akan dirilis tahun 2022; Victoria Secret kini memilih sejumlah model bertubuh plus size untuk memeragakan koleksi terbarunya yang lebih variatif dari segi ukuran. The Angels, supermodel Victoria’s Secret yang terkenal dengan perawakannya yang tinggi dan langsing serta kerap mengenakan sayap malaikat besar; akan digantikan dengan tujuh atlet perempuan dan aktivis.
Melansir berbagai sumber, para model di antaranya adalah Megan Rapinoe, atlet sepakbola perempuan dengan bayaran termahal di AS; Eileen Gu, juara dunia ski gaya bebas berdarah Amerika-Tiongkok; Amanda de Cadenet, jurnalis dan fotografer Inggris yang kerap mengampanyekan isu feminisme; hingga Adut Akech, pengungsi asal Sudan. Agaknya mereka memiliki semangat yang sama untuk mendorong perubahan positif.
Ide merayakan inklusivitas ini, telah lebih dulu digaungkan oleh merek Nike yang pernah merilis kampanye yang menampilkan plus size model Paloma Elsesser dengan salah satu sport bra, yang sempat viral pada tahun 2016. Inovasi tersebut juga semakin sering dilakukan oleh brand kecantikan lainnya semenjak Rihanna meluncurkan Fenty Beauty Pro Filt’r Soft Matte Longwear Foundation-nya yang terdiri dari 40 jenis shade yang diperuntukkan bagi perempuan yang memiliki kulit putih pucat hingga gelap eksotis.
Bentuk Tubuh dan Standar Kecantikan
Sementara itu jika mengenai bentuk tubuh seperti yang dilansir dari laman The Sun, setiap orang memiliki tipe tubuh yang berbeda, yang ditentukan oleh gen dan hormon kita hasilkan selama masa pubertas. Secara umum, terdapat tiga tipe bentuk tubuh berdasarkan gen, yaitu: Ectomorph, Mesomorph, Endomorph.
Bentuk tubuh ectomorph biasanya memiliki kerangka kecil dan sedikit lemak tubuh, mesomorf memiliki kerangka tubuh sedang, mengembangkan otot dengam mudah dan jenis tubuh ini mudah dalam menurunkan berat badan, dan endomorph memiliki kerangka besar dan bentuk tubuh melengkung.
Lalu bagaimana dengan standar kecantikan? Bukan rahasia lagi jika setiap brand baik kecantikan atau fashion telah lama terkungkung dalam stereotype seperti kurus, tinggi, langsing, berkulit terang, rambut hitam panjang, hidung mancung. Perempuan yang ingin menjadi model tentu mati-matian berusaha menjadi seperti yang diinginkan standar tesebut, bahkan hingga mengubah dirinya sendiri.
Namun, seiring dengan kampanye keberagaman; perlahan tapi pasti standar kecantikan mulai dipatahkan oleh kesadaran baru bahwa perempuan cantik adalah mereka yang dapat menerima diri apa adanya. Termasuk brand makeup internasional terus beranjak dan merangkul seluruh wanita secara lebih dekat dengan menolak stigma “cantik harus putih”.
Sayangnya kesadaran itu belum banyak diterima oleh perempuan sendiri, masih banyak sesama perempuan yang melakukan body shaming atas nama standar kecantikan. Body shaming didefinisikan sebagai tindakan membuat komentar yang tidak pantas dan negatif tentang berat atau ukuran orang lain. Seringkali, ini adalah sesuatu yang dialami oleh orang yang kelebihan berat badan, tetapi ada tren yang meningkat dalam mengkritik mereka yang terlihat ‘terlalu kurus’.
Body shaming kita temui di mana-mana, mulai dari majalah, surat kabar, acara televisi, film, percakapan antar teman, di Internet dan situs media sosial. Komentar bisa jahat dan terkadang digunakan dalam candaan yang tidak enak.
**
Beberapa contoh mengejutkan dari body shaming termasuk pembawa acara Fox News; yang mengatakan bahwa Kelly Clarkson harus ‘menjauhi pizza deep-dish untuk sementara waktu’. Sebuah foto kejam dari Kim Kardashian hamil yang disamakan dengan ikan paus menjadi viral di situs media sosial; dan mantan bintang Girls Aloud Cheryl Cole telah berkampanye melawan body shaming setelah menjadi sasaran ejekan kejam tentang tubuhnya yang ramping.
Mengapa body shaming sangat berbahaya? Penelitian telah menunjukkan bahwa body shaming dapat meningkatkan masalah yang berpengaruh pada kesehatan. Di sisi lain, seseorang yang terus-menerus diberi tahu bahwa mereka terlalu kurus mungkin mulai makan lebih sedikit karena stres atau karena mereka terlalu takut untuk menambah berat badan karena pengawasan.
Kita tidak bisa mengontrol tindakan dan komentar orang lain tetapi kita bisa menghentikan diri kita sendiri dari memasuki lingkaran setan body shaming. Caranya?
Setiap orang memiliki hari dan waktu yang buruk ketika mereka merasa ingin mengubah sesuatu tentang diri mereka sendiri. Cobalah untuk menerima siapa diri kita daripada menyalahkan diri sendiri. Jika kita berada di sekitar orang-orang yang mengeluh tentang penampilan mereka; alih-alih bergabung, menjauhlah dan lakukan sesuatu yang membuat kita merasa nyaman dengan diri sendiri.
Kembali pada tagline di atas, kamu akan memilih yang mana antara everybody is pretty atau pretty is effort? Kalau bagi penulis, cantik bukan berarti mulus tanpa jerawat, freckless, komedo, atau kerut. Bukan berarti harus kurus, curvy atau gemuk. Cantik adalah menerima diri sendiri, tidak tunduk dengan standar kecantikan orang lain, menyadari kadar kenyamanan setiap perempuan itu berbeda-beda, dan nyaman dipandang mata sendiri bukan orang lain. Tidak ada yang salah dengan semua itu karena your face and body is your rules. (*)
Petualang kopi dan menyukai ragam kuliner. Saat ini aktif di komunitas literasi Nulis Aja Dulu dan banyak menulis soal gaya hidup. Pengasuh akun gaya hidup dan perempuan ngopisore_talk ini dapat dijumpai atau diajak ngopi melalui akun Instagram @ecka_pramitha
