Manusia dan Wacana Semu Kebahagiaan
Sebagaimana yang kita ketahui, manusia merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna tetapi penuh dengan keterbatasan. Manusia seringkali terjebak dan membiarkan sifat lupa dan salah yang terus-menerus melekat pada dirinya. Manusia tidak berusaha memperkecil volume 2 sifat tersebut dengan cara memperbanyak doa dan istighfar. Serta melakukan upaya-upaya berupa amal shaleh, sehingga bisa meminimalisir dua sifat di atas.
Karena kurangnya usaha maka wacana-wacana dalam hidup mereka kebanyakan berorientasi pada dunia. Sifat manusia sendiri sering diselimuti dengan banyaknya angan-angan, emosional, dan hawa nafsu. Dimana secara manusiawi ingin dipuji, dilihat dan didengar. Oleh karena itu manusia seringkali melakukan wacana untuk memenuhi kebutuhan hidup yang membuatnya bahagia. Sehingga tak jarang manusia mencari kebahagiaan yang instan yang didasari oleh materi duniawi.
Setiap Orang Punya Definisi Kebahagiannya
Bahagia itu harus, sifatnya pasti dan sudah ada dalam diri manusia. Jangankan kakek-kakek, balita pun bisa merasakan bahagia dengan hal-hal sederhana. Sayangnya seiring tumbuhnya usia maka kesederhanaan itu pun mulai pudar hingga tergantikan oleh keinginan yang lebih. Semakin meninggi usia, maka kecerdasan pun mulai bertambah pula yang akhirnya berimbas pada hawa nafsu yang bergejolak di hati. Namun, apakah kebahagian yang kita rasakan adalah kebahagian yang sebenarnya? Atau hanya sekedar kebahagiaan semu belaka?
Semua orang ingin bahagia, sibuk mencari dan memperjuangkan kebahagiaan. Ada yang menganggap kebahagiaan terletak pada harta dan kemewahan sehingga mati-matian mencarinya. Ada yang merasa bahagia itu dengan memperturutkan nafsu syahwatnya. Ada yang yakin bahagia itu dengan jabatan dan kedudukan.
Ada juga yang mengaitkan kebahagiaan dengan popularitas, ketenaran dan rasa hormat. Adapun yang beranggapan kebahagiaan hanya didapat dengan kebebasan dari segala aturan, bahkan agama dianggap sebagai belenggu yang menghalangi kebahagiaan!
Subhanallah, padahal semua itu hanya kesenangan fana kehidupan duniawi. Kebahagiaan semu yang menipu, keburukan yang dihiasi setan hingga seolah indah memukau. Menyenangkan sesaat namun mewarisi duka dan petaka, kegundahan hati dan jauhnya jiwa dari ketenangan.
Banyak persepsi mengenai kebahagiaan sebagiannya sangat berorintasi pada duniawi. sebagiannya lagi ukhrawi, tak sedikit bahkan nihil orientasi. Namun tak perlu membandingkan bahagiamu dengan bahagianya. Kita hanya perlu memejamkan mata sebentar lalu melihat hidupmu dari sisi yang berbeda kemudian definisikanlah kebahagianmu sendiri.
Hakikat Kebahagiaan
Sungguh hakikat kebahagiaan di dunia adalah hati yang selamat, jiwa yang tentram, dada yang lapang serta tunduk terhadap ketetapan Allah dan nafsu yang selalu merasa cukup terhadap apa yang Allah gariskan. Adapun kebahagiaan di akhirat kelak pastilah surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.
Allah ta’ala mengabarkan tentang dunia “Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut : 64)
Berkata dalam tulisan beliau (al-Wasail al-Mufidah lil Hayatis-Sa’idah): “Sebab teragung dan mendasar untuk menggapai kebahagian adalah beriman dan beramal shalaih.” Kemudian beliau membawakan firman Allah “Barang siapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasannya beliau menafsirkan kehidupan yang baik dengan kebahagiaan.
Prof Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih akrab disapa Buya Hamka beranggapan bahwasanya Islam mengajarkan kepada manusia empat jalan yang menghantarkan kita kepada kebahagiaan. Pertama, harus ada i’tiqad, yaitu memotivasi diri dengan sebenar-benarnya. Kedua, memiliki keyakinan yang kuat akan sesuatu yang dikerjakannya.
Ketiga, iman, yaitu yang lebih tinggi dari sekedar keyakinan, sehingga dibuktikan oleh kata dan perbuatan. Keempat, ad-diin yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah dan benar-benar meyakini akan jalan Allah yang telah dipilih untuknya.
Takut Mati : Menjauhkan Manusia dari Kebahagiaan
Ada pula sifat-sifat yang menjauhkan manusia dari kebahagiaan, antara lain ialah takut mati. Pada dasarnya perasaan ini menimpa mereka yang tak tahu mati. Mereka tidak tahu kemana jiwa raganya pergi sesudah mati. Disangka setelah tubuhnya hancur maka jiwanya pun ikut hancur. Sedangkan alam ini kekal dan orang lain terus mengecap nikmat, sementara dirinya tak ada lagi di sana.
Pikiran semacam ini, menurut Hamka, tidaklah beres. Dalam Islam sendiri, kematian adalah belas kasihan Tuhan kepada hamba-hambaNya. Manusia disuruh pergi dari dunia, dan kemudian dipanggil pulang.
Agama menyadarkan kita bahwa kematian itu telah pasti bagi kita. Oleh karenanya kita harus sungguh-sungguh berusaha memperbaiki hidup. Agar sesudah hidup itu kita peroleh kematian yang nikmat adanya, yaitu kematian dalam keadaan memperoleh ridha Allah. Orang seringkali membayangkan apa yang akan dijumpainya sesudah mati.
Mereka yang takut mati barangkali sudah menyadari dosanya lebih banyak daripada kebaikannya, sehingga takut kalau harus di-hisab. Tetapi ada pula orang seperti Bilal bin Rabah ra. yang mengatakan dirinya bahagia di saat menghadapi sakaratul mautnya. Lantaran dengan kematian itulah ia bisa berkumpul kembali dengan Rasulullah saw. yang sangat ia cintai.
Pesan Hamka : Cukuplah Menjadi Manusia yang Apa Adanya
Oleh karena itu, Hamka pun berpesan, jika ingin jadi orang kaya, maka cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada. Peliharalah sifat qanaah, jangan bernafsu mendapatkan kepunyaan orang lain. Hiduplah sepenuhnya dalam ketaatan kepada Allah saja. Kekayaan hakiki ialah mencukupkan apa yang ada, baik banyak maupun sedikitnya, sebab ia adalah nikmat dari Allah.
Jika kekayaan melimpah, ingatlah bahwa harta itu untuk menyokong amal dan ibadah. Tetaplah menjadi pribadi sederhana dan biasa saja, itu lebih membuatmu berwibawa dan dicintai siapapun. Daripada nampak wah yang menjadikan orang iri, dengki, dan sungkan padamu.
Sederhana bukan berarti tampil kusut atau kumuh, biasa saja seperti halnya penampilan orang lain, bersahaja walau kau telah berpunya. Harta tidak dicintai karena ia merupakan pemberian Allah, dan ia dipergunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.
Semua kenikmatan dunia yang hadir lewat materi maupun sisi emosional yang memukau. Ketika orang lain menunjukkan ekspresinya yang baik, sifatnya tidak pasti dan penuh dengan kemungkinan yang lain. Terlalu ketergantungan pada sesuatu yang tidak pasti justru beresiko menyakitimu dan menghasilkan dosa.
Lagipula, dalam hal-hal yang semu inilah kehidupan kita sering diuji. Harus menggantungkan diri pada sesuatu yang sering dijadikan bahan ujian kehidupan? Padahal kita membutuhkan sesuatu yang pasti-pasti saja untuk berbahagia saat menjalani kehidupan.
Maka dari itulah, kita harus memperhatikan kepada siapa kita bermaksiat supaya kita tidak terjatuh ke dalam kubangan jeratan setan sehingga jeratan setan yang berawal dari wacana menjadi rencana yang berhasil diproyeksikan. (Editor : Vika)

