f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kebahagiaan

Sebuah Konsep Berpikir Tentang Letak Kebahagiaan Sesungguhnya

Oleh : Ferdy Aprizal*

Kebahagiaan adalah suatu hal yang ingin dirasakan  setiap orang. Sebab kebahagiaan adalah perasaan positif yang bisa memberikan sebuah motivasi dalam menjalani kehidupan dan mencari kebahagiaan lainya. Tolak ukur kebahagiaan tiap orang tentunya berbeda tergantung bagaimana interpretasi mereka melihat kebahagiaan itu sendiri. Namun ada sebuah konsep dimana kebahagiaan sesungguhnya datang dari memberi kepada sesama.

Manusia adalah makhluk sosial artinya kita selalu terhubung satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung. Tindakan memberi kepada orang lain adalah hal yang sering kita alami. Akan tetapi apakah selama ini ketika kita memberi sesuatu kepada orang lain, kita sudah pernah benar-benar merasakan apa itu kebahagiaan sesungguhnya ? Atau kita hanya melakukannya  karena kita percaya bahwa melakukan hal yang baik seperti memberi adalah hal yang perlu untuk dilakukan.

Definisi Kebahagian Di Mataku

Apa itu kebahagiaan sesungguhnya ? Menurut saya kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain, kita tidak merasa ada sesuatu yang kurang dari apa yang kita miliki setelah memberi melainkan merasa lebih terpenuhi. Masih banyak sekali pengertian di luar sana terkait apa itu kebahagiaan sesungguhnya dari aspek memberi.

Salah satunya adalah ketika kita melakukan sebuah kebaikan, kebaikan tersebut akan dirasakan juga oleh diri kita sendiri namun apakah hal tersebut sesuai dengan konsep dari kebahagiaan sesungguhnya ? Menurut saya tidak. Sebab ketika kita mengharapkan kebaikan akan datang kepada kita saat memberi kepada orang lain dan hal tersebut tidak terjadi. Maka kita tidak dapat mengatakan sebuah tindakan memberi bisa membuat kita tahu apa arti dari kebahagiaan sesungguhnya.

Mengapa seseorang ingin memberi, seseorang biasanya memberi ketika mereka merasa cukup dan dalam kondisi yang bisa memberi. Namun tak jarang juga seseorang memberi walaupun dalam kondisi yang tidak ideal untuk memberi namun tetap melakukannya biasanya hal tersebut terjadi karena adanya sebuah dorongan dari beberapa emosi seperti rasa peduli, simpati, dll.

Teori Kebutuhan Abraham Maslow

Menurut Abraham Maslow yang merupakakan salah satu tokoh psikologi; ia memiliki sebuah teori terkait 5 kebutuhan dasar manusia,yang salah satunya adalah kebutuhan untuk pemenuhan harga diri. Yang dimaksud dari maslow adalah, bahwasannya manusia memiliki sifat untuk bisa melakukan sesuatu yang sekiranya bisa memberikan kepuasaan bagi diri sendiri. Walaupun, hal ini sendiri biasanya dilatarbelakangi karena adanya dorongan ingin diakui oleh orang lain.

Baca Juga  Enam Cara Mengatasi Overthinking

Wajar memang sebagai manusia kita ingin dilihat sebagai individu yang peduli terhadap sekitar. Sebab pada saat kita bisa mendapatkan kesan yang baik dari orang lain. Kita cenderung memiliki motivasi lebih untuk melakukan hal-hal yang sekiranya bisa membuat rasa pemenuhan diri kita tercukupi.

Adapun bentuk dari pemberian bisa berbentuk materi maupun moral,dan melibatkan dua aktor utama yaitu pemberi dan penerima. Mengapa seseorang merasa membutuhkan pemberian dari orang lain dan mengapa orang lain ingin memberi kepada mereka ? Seseorang yang mendapat pemberian biasanya menyadari bahwa mereka tidak dapat melakukan sesuatu atau mendapatkan sesuatu tanpa adanya pemberian dari orang lain; atau mereka tidak dalam kondisi optimal untuk melakukan sesuatu secara independen. Namun di sisi lain seorang penerima juga bisa mendapatkan pemberian karena mereka juga telah memberikan sesuatu kepada orang lain. Contohnya seorang siswa mendapatkan nilai ujian yang sempurna dan mendapatkan penghargaan dari sekolah.

Teori Pengondisian Skinner

Di dunia psikologi sendiri hal ini disebut pengondisian di mana terdapat sebuah strategi untuk menciptakan sebuah perilaku yang diharapkan dapat terjadi (modifikasi perilaku). Salah seorang tokoh psikologi yang terkenal dengan teori operant conditioning B.F.Skinner, dengan sebuah mekanisme yang bisa mengkondisikan sebuah perilaku individu. Sebelum adanya respon dari sebuah stimulus kita bisa menempatkan sebuah Reinforcement (penguatan). Penguatan yang dimaksud adalah sebuah konsekuensi positif yang didapat setelah adanya respon, sehingga akan ada motivasi tersendiri untuk melakukan hal yang sama secara terus-menerus.

Lalu apa permasalahanya ? Mungkin banyak yang merasa bahwa kegiatan memberi seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Sebab apapun alasan seseorang untuk memberi setidaknya ada orang lain yang merasa terbantu karena pemberian tersebut. Namun yang menjadi perhatian saya di sini adalah alangkah lebih baik lagi apabila orang bisa mengetahui dan merasakan esensi lain dari kebahagiaan ketika memberi.

Sehingga ketika seseorang tidak bisa merasakan kebaikan seperti yang mereka harapkan setelah memberi, mereka bisa mendapatkan kebahagiaan sebelum atau saat kegiatan memberi tersebut berlangsung. Sehingga persepsi terkait sebuah kegiatan memberi menghasilkan kebaikan bagi orang lain dan diri sendiri. Kemudian berubah menjadi memberi tanpa adanya harapan adanya balasan sebab kebahagiaan yang didapatkan tidak harus berasal dari balasan yang kita terima melainkan dari apa yang kita lakukan yaitu memberi.

Baca Juga  Cara Bertemu dengan Diri Kita Sendiri

Bahagia itu Memberi tanpa Berharap Balasan

Apa yang akan terjadi ketika kita memiliki pola pikir, bahwasanya kebahagiaan akan didapatkan sebagai pemenuhan diri tanpa harus mengharapkan sebuah balasan. Kita akan terbiasa melakukan sesuatu tanpa adanya rasa pamrih kepada orang lain. Kita juga bisa mengukur apakah kegiatan memberi tersebut benar-benar perlu dilakukan atau tidak. Sebab dengan adanya hal tersebut, secara tidak langsung kita juga bisa secara optimal melakukan segala sesuatu secara independen . Hal ini tentu baik mengingat selama ini kita sering kali bergantung dengan bantuan orang lain.

Kegiatan memberi tidak lagi dianggap sebagai sebatas kewajiban terhadap sesama. Melainkan merupakan hal yang menjadi salah satu kegiatan yang bisa memberikan kebahagiaan dan motivasi untuk melakukan hal-hal baik lainya. Dan pada akhirnya kegiatan memberi akan menjadi hal yang membuat diri merasa lebih terpenuhi. Tidak karena balasan dari apa yang kita lakukan namun apa yang kita lakukan itulah yang mengisi bagian yang tadinya diberikan kepada orang lain. Pada saat hal tersebut terjadi itulah perasaan dari kebahagiaan sesungguhnya dari memberi kepada orang lain.

Selain itu ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang bernama Ed Obrien, ph.d. seorang psikolog yang berasal dari University of Chicago Booth school of Bussiness. Di dalam penelitianya melakukan sebuah tindakan memberi secara rutin bisa memberikan rasa bahagia yang tahan lama. Penelitian ini berdasarkan eksperimen Ed dengan teman-teman nya yang dimana, mereka menggunakan 96 responden dari kalangan mahasiswa.

Memberi = Merasa Bahagia dalam Jangka Waktu yang Lama

Pada eksperimen tersebut mereka memberikan uang kepada para partisipan dan harus digunakan dalam waktu 5 hari. Uang tersebut boleh digunakan untuk membeli kebutuhan pribadi atau diberikan kepada orang lain. Selang 5 hari berlalu para partisipan diminta untuk menceritakan apa yang mereka lakukan pada uang tersebut. Bagi mereka yang menggunakan untuk diri sendiri mereka cenderung merasa bahagia. Namun hanya dalam jangka waktu yang singkat. Sedangkan bagi mereka yang memberi uang tersebut kepada orang lain mereka bisa merasakan rasa bahagia lebih lama.

Ed dan teman-temannya menyimpulkan bahwa orang yang menerima cenderung lebih memperhatikan apa yang ia terima sedangkan orang yang memberi, lebih fokus bagaimana reaksi dan perasaan menyenangkan yang didapat dari tindakan yang ia lakukan.

 Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” ; butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk mendefinisikan apa arti dari kata-kata tersebut. Namun ada satu hal yang saya sadari dari pepatah tersebut yaitu masih sangat sedikit orang yang mau melakukan kebaikan seperti memberi. Jadi, itulah mengapa perumpaan tangan di atas lebih baik. Karena hanya segelintir orang yang sadar bahwa kebahagiaan dengan versi yang lebih baik ada pada mereka yang bisa memberi kepada orang lain.

Baca Juga  Menciptakan Pelayanan Kesehatan di Masa Pandemi dengan Penguatan Kesejahteraan Psikologis

Kegiatan memberi dan menerima adalah hal yang mulia. Namun kita tidak bisa mengelak bahwa di suatu kondisi tertentu kita bisa menjadi seorang pemberi atau penerima secara terus menerus. Keduanya harus dilakukan secara seimbang agar kita bisa mengerti bagaimana rasanya kepedulian orang lain terhadap apa yang kita terima. Selain itu, juga bagaimana perasaan kebahagiaan pada saat bisa memberi kepada orang lain. Berilah apa yang menurutmu bisa kamu berikan walaupun hanya sebuah senyuman, sebab satu tindakan yang kamu lakukan saat ini berpengaruh terhadap orang lain. Bahkan kebaikan yang kamu lakukan juga bisa memicu kebaikan yang lain untuk hadir.

Teruslah Memberi Tanpa Berharap Balas

Teruslah memberi tanpa adanya harapan kamu akan mendapatkan balasan,namun mulailah berpikir bahwa dengan memberi kamu merasa lebih terpenuhi. Bahagia menjadi penerima tidaklah salah namun, semoga setelah menerima kamu juga akan mencoba memberi kepada orang lain. Saya teringat kata-kata dari marchela FP di buku nya “Nanti kita cerita tentang hari ini’’ yaitu. ”dunia sudah memiliki banyak orang baik namun kita butuh lebih banyak lagi”.

Jadilah salah satu dari orang tersebut karena kamu adalah salah satu hal yang tidak kalah penting dengan hal lainya, yang menentukan apakah hal-hal baik masih menjadi hal yang di inginkan di masa yang akan datang. Kebaikan masih akan terus berjalan pada saat giliran kamu untuk memberi. Teruskanlah hal tersebut kepada orang lain biarkan hal tersebut tetap mengalir dan hadir di dalam kehidupan kita. Sampai pada akhirnya kebahagiaan sesungguhnya dari memberi tidak lagi menjadi hal yang asing bagi kita. Dan menjadi sebuah kebiasaan yang akan terus dilakukan untuk dunia yang lebih baik lagi.

*)Penulis adalah mahasiswa Psikologi UMM

Bagikan
Post a Comment