f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
remote control

Menghidupkan Dakwah Profetik

Oleh : Alfiana Yuniar Rahmawati*

Rahmania, aktivitas dakwah menjadi kewajiban seluruh umat muslim pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kewajiban ini diemban untuk meneruskan misi kenabian dalam menyebarkan agama islam. Menghidupkan dakwah sama hal-nya dengan menghidupkan Islam. Itu artinya Islam akan semakin berjaya ketika gerakan dakwah senantiasa didengungkan.

Komitmen seorang muslim dengan dakwah islam mengharuskan dirinya untuk memberikan contoh hidup yang baik melalui lisannya, sekaligus memberi gambaran tentang islam yang sebenar-benarnya. Persetujuan dan keputusan untuk menganut dan melaksanakan ajaran Islam yang diharapkan haruslah bersifat optional decision.

Maksudnya dalam mengajak ke jalan Allah tidak boleh memaksa, mengintimidasi, menipu atau menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan Islam. Dalam etika berdakwah, nabi tidak pernah memaksakan umatnya untuk masuk ke dalam agama Islam. Beliau selalu menghadirkan Islam dalam akhlak mulianya sehingga Islam dapat diterima oleh siapapun.  

Sosok Nabi yang memiliki potensi sempurna baik secara fisik dan psikis, kemudian dibimbing oleh Allah SWT melalui wahyu, kehidupan yang memadai. Motivasi yang terus berkembang untuk berfikir kritis, kontemplatif dan berbuat kongkrit demi kemajuan dan keselamatan umat merupakan role model yang patut dicontoh dalam kehidupan termasuk dalam berdakwah mensyiarkan ajaran agama Islam.

Dari psikologi kenabian ini, maka pengembangan ilmu dapat masuk pada wilayah yang lebih praktis-operasional seperti kecerdasan profetik (prophetic intelegence). Kecerdasan kenabian ini dapat dipahami sebagai potensi atau kemampuan berinteraksi, menyesuaikan diri, memahami dan mengambil manfaat serta hikmah kehidupan rohani dan jasmani, lahir dan bathin, serta dunia dan akhirat yang seimbang melalui nurani dan psikologi (dakwah profetik).

Konsep Dakwah Profetik

Profetik berasal dari kata prophetic yang berarti kenabian atau berkenaan dengan nabi. Dalam konsepnya, dakwah profetik memiliki tiga pilar utama yang bertujuan untuk membentuk khoiro ummah sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT “.

Pada ayat di atas kata khair al-ummah diikuti dengan tiga kata dibelakangnya yaitu kata yang terkait dengan amar ma’ruf, nahi munkar, dan iman kepada Allah SWT. Ketiga konsep ini sejalan dengan apa yang ditawarkan oleh Kuntowijoyo dalam konsep ilmu profetik yaitu humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (iman kepada Allah).

Baca Juga  Islamic Worldview dalam Studi Hubungan Internasional

Dalam implementasinya, dakwah profetik haruslah didasari ketiga pilar di atas yaitu humanisasi untuk selalu meningkatkan hubungan martabat sesama manusia, liberasi untuk membersihkan diri dari kotoran, kelemahan, kekurangan, dan keterbelakangan, serta nilai transendensi yang menjadi orientasi dan visi hidup seorang da’i. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha dalam meningkatkan pemahaman keagamaan saja. Melainkan dakwah harus lebih berperan menuju pelaksanaan ajaran agama islam secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Aktivisme Dakwah

Pada hakekatnya, dakwah merupakan kegiatan yang bertujuan pada perubahan positif dalam diri manusia. Perubahan positif ini diwujudkan dengan peningkatan iman karena mengingat sasaran dakwah adalah iman, serta penguatan dalam memegang teguh al-qur’an dan al-hadits. Ukuran teks al-qur’an maupun al-hadits lebih stabil dibandingkan dengan ukuran akal yang senantiasa dinamis.

Disamping itu, prinsip menjalankan dakwah harus sesuai dengan rambu-rambu syariat Islam. Dalam prosesnya, dakwah melibatkan unsur da’i (subjek), maddah (materi), thoriqoh (metode), washilah (media), mad’u (objek) serta maqashid (tujuan) dakwah yang melekat dengan tujuan Islam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Ruang lingkup aktivitas dakwah juga sangatlah luas. Dakwah tidak hanya terbatas dipahami sebagai upaya penyampaian ajaran Islam melalui pengajian, khutbah jum’at, dan ceramah di atas mimbar saja.

Di era teknologi dan informasi yang semakin canggih ini, dakwah dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja. Pengemasan dakwah juga bisa bervariasi seperti ceramah dalam bentuk video pendek, iklan maupun tulisan-tulisan yang berisi motivasi, materi keagamaan, maupun quotes-quotes islami.

Dakwah Profetik Bukan Provokasi

Kemudahan berdakwah pada era teknologi ini, kerapkali memicu adanya isu propaganda atau provokasi atas nama agama. Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas dakwah. Beberapa konten dakwah yang ada, mengedepankan ujaran kebencian, kebohongan publik (hoax), sampai pada penyebaran isu radikalisme dan terorisme. Sepanjang tahun 2019, Kemenkominfo telah memblokir sekitar 1500 situs yang mengandung konten radikalisme dan terorisme. Selain konten radikalisme, Kemenkominfo juga melakukan pemantauan dan memblokir konten pornografi karena dinilai bertentangan dengan nilai asusila dan nilai ajaran agama Islam.

Baca Juga  Ucapan Hari Raya; Mengapa Minal Aidin Wal Faizin?

Melihat fenomena di atas, sudah seharusnya kesadaran berdakwah ala rosulullah atau dakwah profetik ini menjadi kunci yang harus selalu ditanamkan. Dalam aktivitas mengajak dan menyeru kepada kebaikan harus senantiasa didasari tiga konsep dakwah profetik, yaitu nilai humanisasi, liberasi dan transendensi.

Nilai-nilai profetik yang diajarakan oleh Rosulullah SAW seperti selalu jujur dalam menunjukkan kebenaran, menggunakan akhlakul karimah dalam mengajak kepada kebaikan, serta tidak pernah menghujat siapapun yang tidak sepaham harus menjadi landasan rasionalitas bagi semua gerakan yang dapat membangun kesadaran umat dalam beragama. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan ajaran islam yang sesungguhnya seperti yang diajarkan pada masa Rasulullah SAW. Di samping itu, menghidupkan dakwah profetik juga dapat meminimalisir maraknya dakwah provokasi yang justru meresahkan umat Islam.

*Penulis adalah Mahasisiwi magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Bagikan
Comments
  • Zahid

    Bagus isinya

    Juni 24, 2020
Post a Comment