Amanah, Kunci Sukses Jadi Pemimpin (1)
Oleh : Fathan Faris Saputro
Memahami Amanah
Amanah memiliki akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Orang yang beriman disebut mukmin yang dapat mendatangkan keamanan dan dapat menerima amanah. Kuatnya hubungan antara iman dan amanah tergambar pada sebuah hadits yang mengatakan tidak beriman orang yang tidak berlaku amanah. Jika demikian, berarti tidak akan bisa memberikan rasa aman orang yang tidak bisa amanah. Itulah mengapa pentingnya sifat amanah bagi seorang pemimpin.
Seorang manusia, pada dasarnya dituntut untuk berlaku amanah kepada Allah dalam hubungannya sebagai saudara dan amanah kepada diri sendiri. Amanah kepada Allah dapat dilihat pada seberapa jauh Ia melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang amanah kepada Allah, Ia akan melaksanakan perintah-Nya semaksimal mungkin, menggunakan semua potensi yang dimilki untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan sungguh-sungguh.
Adapun amanah kepada sesame manusia memiliki makna yang lebih luas. Amanah tidak hanya berkutat dengan janji yang harus ditepati. Orang yang tidak melakukan janjinya, tidak amanah. Tidak hanya soal itu, amanah berkaitan dengan pelaksanaan apa-apa yang dipercayakan atau dititipkan. Jadi, amanah sesama manusia bisa berkaitan dengan ulama yang berlaku adil terhadap jamaahnya, pemimpin yang berlaku adil terhadap rakyatnya, guru yang berlaku adil terhadap muridnya, termasuk suami yang berlaku adil terhadap istrinya.
Amanah terhadap diri sendiri berarti berbuat sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi diri sendiri baik dalam urusan akhirat maupun urusan dunia. Demikian juga, seseorang yang berlaku amanah kepada dirinya tidak akan berbuat hal yang dapat membahayakannya baik semasa di dunia maupun di akhirat kelak. Dari beberapa pembagian amanah adalah menyampaikan ditarik benang merah bahwa amanah adalah menyampaikan sesuatu kepada orang yang berhak menerimanya, tidak mengambil atau melakukan sesuatu yang bukan haknya dan tidak menghalangi orang lain agar mendapatkan haknya.
Bagaimana Mengetahui Pemimpin yang Amanah ?
Dalam konteks kepemimpinan, bagaimana cara mengetahui seseorang amanah atau tidak? Gampang, lihat saja pengalamannya terjun dalam berbagai aktifitas di berbagai lembaga yang pernah Ia jalani. Apalagi dengan bantuan teknologi seperti saat ini, tidak terlalu sulit mencari informasi mengenai sosok calon pemimpin yang ideal. Namun perlu diingat, mencari seorang pemimpin yang amanah, bukan hanya amanah dalam tugasnya sehari-hari, namun amanah juga dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya. Itulah pemimpin sejati yang bersikap amanah. Ringkasnya, amanah berkaitan dengan akhlak seorang pemimpin.
Syarat dasar lain untuk menjadi seorang pemimpin adalah memiliki kecakapan. Kemampuan ini sangat penting bagi seorang pemimpin, terlebih seperti saat ini yang membutuhkan banyak kemampuan baik dalam hal berkomunikasi, kepemimpinan, maneerial, organisasi, dan sebagainya. Kemampuan menjadi sangat penting, sebab bisa jadi orang yang amanah tapi tidak mempunyai kemampuan yang baik pada akhirnya Ia terjebak dalam kesalahan. Misalnya Ia dijebloskan kedalam penjara karena tidaktahuannya. Ini sangat mungkin dan sudah banyak terjadi.
Dalam memimpin negara, Nabi Yusuf diberikan pemahaman dan hikmah oleh Allah Swt., sebagaimana yang termaktub dalam surat Yusuf ayat 22: “Dan tatkala dia cukup dewasa, kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf [12] : 22) keteledanan lain dari kepemimpinan Nabi Yusuf adalah budi pekertinya yang baik dan mulia. Seorang pemimpin adalah tauladan bagi masyarakatnya. Bagaimana mungkin seseorang yang ingin menjadi teladan tidak mempunyai budi pekerti yang luhur. Budi pekerti ini harus menjadi acuan ketika memilih seorang pemimpin.
Kepemimpinan Nabi Yusuf
Nabi Yusuf juga selalu berlaku ikhlas dalam berbuat termasuk dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Keikhlasan ini akan menjadikan seorang pemimpin benar-benar bekerja untuk rakyatnya, memberikan apa yang dimiliki tanpa memikirkan apa yang dapat diperolehnya oleh orang lain. Apakah di saat sekarang keikhlasan ini masih tetap ada pada para pemimpin kita? Wallahhua’lam semoga saja para pemimpin kita diberi kebesaran hati untuk bersikap ikhlas dalam mengemban tugasnya.
Nabi Yusuf juga dikenal sebagai pemimpin yang pandai memberi solusi. Bagi seorang pemimpin, kepandaian sangat dibutuhkan termasuk pandai memberikan solusi dari berbagaai permasalahan yang dihadapinya. Kepandaian Nabi Yusuf dalam memberikan solusi terlihat ketika ia ditanya tentang arti mimpi raja mebgenai tujuh ekor sapi yang kurus-kurus. Dikisahkan, bahwa arti mimpi tersebut adalah aka nada tujuh musim yang subur kemudian diikuti dengan tujuh musim paceklik. Tidak hanya dalam menakwilkan mimpi, ketika mimpi raja tersebut terbukti, hanya Nabi Yusuf yang dapat melaluinya dengan selamat. Ia sudah mempersiapkan jauh-jauh hari kebuutuhan yang dibutuhkan ketika masa paceklik, hingga akhirnya seluruh masyarakat Mesir mengantung. Kepada Nabi Yusuf untuk segala kebutuhan makannya.
Self Image Para Pemimpin
Allah Swt., berfirman: “(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): ‘Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.’ Yusuf berkata: ‘supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa: maka apa yang kammu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk makan. Kemudian sesudah itu akan dating tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk mengahadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padatnya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur’.” (QS. Yusuf [12] : 46-49)
Nabi Yusuf juga senantiasa berbudi pekerti luhur, jujur dalam bersikap walaupun ia harus mempertahankan kejujurannya hingga penjara. Pada akhirnya, kejujuran Nabi Yusuf pun terbukti setelah Zulaikha mengakuinya jika ia lah yang bersalah. Nabi Yusuf juga dikenal sebagai pemimpin yang senantiasa berlaku adil kepada rakyatnya termasuk kepada saudara-saudaranya yang saat itu datang ke Negara Mesir. Sifat adil Nabi Yusuf tidak pandang bullu, tidak hanya kepada orang lain, tetapi kepada keluarganya sendiri ia berlaku adil. Nabi Yusuf juga dikenal sebagai pemimpin yang senantiasa berbuat baik dan takwa kepada Allah Swt.
“Dan demikian kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir: (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat kami kepada siapa yang kami kehendaki dan kami tidak menyiapkan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagii orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.” (QS. Yusuf [12] :57)
Mengajukan Diri sebagai Pemimpin
Sebelum Yusuf mendapatkan amanah sebagai bendahara Negara, ia berkata kepada raja mesir sebagaiman digambarkan Allah dalam firman-Nya. “Berkata Yusuf: ‘jadikanlah aku bendaharawan Negara (Mesir): sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan’.”) (QS. Yusuf [12] :55)
Ayat tersebut merupakan adil bahwa seseorang yang mempunyai kemampuan dalam sebuah bidang tertentu boleh meminta jabatan atau kekuasaan terhadap urusan tersebut. Artinya, seseorang boleh mengajukan diri menjadi pemimppin jika ia yakin mampu dan ia tidak melihat orang lain yang lebih mampu dari pada dirinya. Mampu dalam hal ini bisa jadi mampu dari segi keahlian maupun dari kejujuran, adil dan amanah.
Jika tidak demikian, jangan pernah meminta jabatan karena jabatan merupakan amanah yang besar pertanggungjawabannya baik di dunia maupun di akhirat. Mengajukan diri sebagai seorang pemimpin tidak boleh berdasarkan ambisi pribadi, karena ambisi jelas datangnya dari hawa nafsu.
“Rasulullah Saw. Bersabda kepadaku, ‘wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta sebuah jabatan. Sebab, jika diserahkan kepadamu jabatan dengan memintaknya, maka kamu akan terbebani dengan jabatan tersebut. Namun, jika kamu akan terbebani dengan jabatan tersebut. Namun jika kamu memperoleh jabatan itu tanpa memintanya, maka kamu akan dibantu dalam mengemban jabatan tersebut’.” (HR. Muslim)
Menyadari Potensi Diri
Yusuf menganjurkan diri menjadi bendahara Negara karena ia mampu menjaga dan juga berpengetahuan. Ia tidak mengatakan, karena ia tampan atau berpenampilan menarik. Jadi jelas, ia mengajukan diri menjadi seorang penguasa, dalam hal ini bendahara Negara karena ia yakin dapat bersikap amanah terhadap jabatan yang diembannya. Mengajukan diri untuk memiliki jabatan bukan berdasarkan ambisinya yang ingin berkuasa. (s)
Yusuf yang menyebutkan dirinya pandai menjaga dan berpengetahuan menjadi isyarat bahwa seseorang diperbolehkan menyebutkan kelebihan dirinya untuk kepentingan pekerjaan atau tujuan mulia lainnya. Namun jika tidak, hal itu dilarang karena perbuatan termasuk dalam kategori Nya.
Terbukti, setelah raja menyerahkan urusannya kepada Yusuf, ia banyak melakukan kemaslahatan bagi penduduknya. Ia juga mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah. Tidak sedikit yang menerima ajakanya, karena kedudukannya yang didukung oleh sikap adil dan amanah yang ditunjukkan Yusuf. Sehingga wajar saja, Yusuf yang memang disukai secara fisik, juga disukai perbuatanya baik oleh laki-laki maupun perempuan. Setiap orang menyukainya.
Ketika Yusuf memimpin, tanah-tanah di Mesir sedang subur-suburnya. Yusuf pun memerintahkan penduduknya agar menjaga dan merawat hasil pertanian yang melimpah dan memperluas lahan pertanian yang ada. Ketka musim panen tiba, Yusuf memerintahkan agar mengumpulkan semua bahan makanan hasil pertanian dan menympan di lumbung-lumbung penyimpanan yang telah dipersiapkan. Begitulah yang dilakukan oleh Yusuf setiap tahun, hingga datang masa-masa paceklik yang penuh kesulitan.
Bersambung…… (Kunci Sukses Nabi Yusuf)
*) Penulis adalah pegiat literasi dan juga mahasiswa Semester IV Program Studi Ilmu pendidikan Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Paciran, Lamongan
Pegiat literasi dan juga Koordinator Bidang Komunikasi dan Teknologi Informasi Kwarda Hizbul Wathan Lamongan.
