Atas Nama Milenial Saya Ragu Membenci Korupsi
Setengah-setengah tidak akan menghasilkan apa-apa. Setengah itu tidak baik. Setengah benar sama saja dengan tidak benar. Untuk mendapatkan bayaran penuh atas jabatan penuh, setelah sumpah yang lengkap dan jelas, tugas harus dilaksanakan sepenuhnya
“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”
(Pramoedya Ananta Toer)
*
Kurun waktu terakhir saya mulai malas untuk berkoar-koar dengan slogan Bung Karno tentang pemuda. Yah, ada satu kalimat sakti dari Bung karno tentang pemuda; selalu ada dalam forum-forum yang diisi oleh pemuda atau orang tua yang terus merasa muda (orang tua yang tidak sadar sudah tua dan menutup ruang tumbuh yang masih muda). Kalimat menggelegar Bung Karno itu adalah “beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.
Mengapa akhirnya saya memilih menghilangkan atau tidak lagi mengungkapkan kalimat tersebut? Karena apa yang diharapkan Bung Karno sudah tercapai, bahkan melebihi secara kuantitas. Tidak hanya sepuluh, ada banyak dan banyak sekali, yang lebih membahagiakan tidak hanya terpenuhi secara angka. Tapi pemuda yang pada gererasi ini lebih familiar dengan sebutan milenial ini, mereka berhasil mengguncangkan dunia.
Lalu-lalang tentang optimisme yang diungkapkan generasi milenial bangsa ini, karena semua itu berseliweran di status – status media sosial mereka. Tentang harapan dan mimpi – mimpi utopis tentang kejayaan mereka di masa depan, dituntun oleh cita – cita founding persons kita yang ditekskan dalam naskah suci sebagai pedoman perjalanan bangsa kita.
Yah, sebagai yang meresa milenial tentu lebih banyak berteman dengan sesama milenial. Mereka menyaksikan besarnya harapan meraka, tentang milenial sebagai aset bangsa, milenial sebagai penentu masa depan, atau sebagai harapan keberlanjutan bangsa di masa depan. Tapi apa iya demikian?
Tenang, optimisme ini ada benarnya, jika kita mengukur dari dunia perpolitikan Indonesia, milenial sudah memperlihatkan taringnya. Kita sebut saja Nadiem Makarim menjadi Mendikbud di usia 35 Tahun, ada Angela Tanoesudibjo jadi Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di usia 32 Tahun dan di DPR RI ada 10 orang yang duduk di Senayan sebelum berusia 27 Tahun. Rahmania bisa tracking siapa saja meraka, merekalah sejatinya yang akan menentukan masa depan bangsa. Tak ketinggalan milenial juga menguasai panggung influencer yang menjadi ciri generasi mereka, diwakili oleh Atta Halilintar dan Ria Ricis, siapa mereka?
*
Namun tunggu dulu, jika ingin merawat optimisme kalian sebagai milenial yang cenderung kelewat optimis untuk apa pun yang bersangkutan dengan kesempatan menaiki tangga sosial, maka sebaiknya jangan mentracking mereka-mereka. Jika memaksa, maka akan mendapati kabar buruk; bahwa tidak semua milenial akan menjadi penentu sejarah perjalanan bangsa, ada ketentuan khusus, harus lahir dari trah yang tepat.
Segelintir mereka itulah yang akan menentukan arah bangsa, sudah menjadi hukum sejarah bahwa semua ditentukan oleh yang segelintir, lalu milenial yang bejibun bagaimana? Juga akan menentukan, semua akan menentukan, namun tepatnya menjadi tenaga kerja murah pun masuk dalam dunia politik milenial hanya seperti orang impoten, lemah dan murah.
Hari – hari terakhir semakin membuktikan, milenial yang mengharap sebagai penentu masa depan bangsa tidak dapat diharapkan. Carut-marut situasi kebangsaan kita tidak membuat milenial merasa gelisah. Kita saksikan kebringasan elit-elit politik kita, para pejabat pemerintah, di semua sektor, secara berjamah mengamputasi lembaga anti rasuah KPK. Para milenial menyadari, bahwa bahaya korupsi adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan bangsa di masa depan. Milenial sadar kalau korupsi akan mengakibatkan kemiskinan, pengangguran, bahkan eksistensi negara jika terus digarong akan terancam
Milenial sepertinya sudah nyaman dan mungkin menyatu kalau bukan pelaku terhadap sesuatu yang bernama korupsi. Bisa jadi milenial sudah meyakini bahwa korupsi adalah sesuatu yang given dalam tubuh bangsa ini, sehingga harus disyukuri juga dinikmati. Sikap apatis itu begitu nyata, kealpaan milenial dalam merespon berbagai tindakan pembusukan terhadap agenda pemberantasan korupsi oleh KPK terus diobok-obok, dan milenial masih saja diam.
*
Paling segar dan masih diperbincangkan adalah penyingkiran pegawai KPK yang selama ini cukup garang dalam mengeksekusi koruptor adalah diadakannya Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Kegiatan yang dimaksudkan untuk perubahan status pegawai KPK menjadi ASN ini, berubah menjadi mimpi buruk. Kejadian ini tidak lebih dari upaya penyingkiran orang-orang kritis dalam tubuh KPK; poin-poin penilaian tidak ada kaitan dengan upaya penguatan kebangsaan terlebih dalam upaya pemberantasan korupsi.
Pertanyaan yang dimunculkan dalam TWK tersebut merupakan penghinaan terhadap apa yang sejatinya menjadi prinsip dan nilai yang sering disuarakan oleh milenial, pelecahan terhadap hak asasi, penghinaan terhadap individu yang diseleksi, soal pilhan keyakinan, soal orientasi seksual, soal pilihan politik dan hal – hal nyeleneh juga cenderung seksis. Semuanya tidak berhubungan dengan kebangsaan dan korupsi.
Mengapa milenial yang berharap menjadi suluh bangsa di masa depan menjadi acuh? Apakah merasa terwakili oleh yang segelintir itu? Milenial yang banyak bergerombol dalam organisasi kemahasiswaan, kepemudaan dan sebagaianya, semuanya tiarap, sebenarnya ada apa? Apa benar mengalami impoten? Optimisme tinggi untuk melakukan perubahan, tapi lemah dan murah di hadapan kekuasaan, kekuasaan menguat karena hasil korupsi. Saya berharap tulisan saya salah, karena saya milenial.
“Bagi generasi muda, perubahan itu terlalu lambat
Bagi kaum tradisionalis tua, perubahan itu menghujat”
(Dan Brown)
Mahasiswa Pascasarjana Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Makassar, Ketua Umum DPD IMM Sulsel

Tigor
Kita ia bagaimana? Kita yang pimpin milenial se Sulsel.
A. Sultan Agung
Keren Websitenya