Menuju Perempuan yang Subjek Dakwah
Pertama perlu kita setujui bahwa pesan mulia agama, seperti perdamaian dan toleransi adalah sesuatu yang butuh disuarakan dan diejawantahkan secara nyata. Upaya itu harus dipahami dalam kerangka proses secara terus menerus. Harapannya, subjek yang menyuarakan adalah yang pertama-tama mengejawantahkan hingga kemudian berhasil menarik lebih banyak subjek lain. Keseluruhan proses itu dalam Islam istilahnya adalah dakwah.
Masalahnya kemudian, subjek dakwah masih hanya laki-laki yang mendominasi. Jika ditanyakan mengapa hal itu jadi masalah? Maka ceritanya begini. Sebagai lulusan pesantren, menghadiri acara pengajian demi mendengar dakwah adalah makanan sehari-hari saya. Suatu ketika, artikel saya lolos untuk diseminarkan di acara mubādalah Fahmina Institute, Cirebon. Nah, di acara yang ternyata adalah lautan perempuan itu, saya pertama kalinya menjadi minoritas, sebagai laki-laki.
Misteri Sulitnya Perempuan Jadi Subjek Dakwah
Pengalaman pertama jadi minoritas benar-benar semacam psychological striking force (daya tonjok psikologis) yang terngiang sampai lulus kuliah dan pulang kampung, ke Kota Garut. Maklum di kampung, sarjana yang baru kuliah agama di kota langsung diminta mengisi pengajian di tajug dan masjid. Namun, ketika saya mengisi beberapa acara dakwah (dengan metode ceramah tentunya) banyak menemui teman-teman perempuan lama yang jadi jemaah. Padahal mereka itu adalah para juara kelas dan perempuan-perempuan paling berprestasi di kampung.
Sembari memenuhi undangan acara-acara dakwah itu, saya menyempatkan diri untuk membuat pengamatan kecil-kecilan. Hasilnya, ternyata dalam pengajian dan acara keagamaan apa pun, mayoritas jemaah adalah selalu perempuan. Bahkan, dalam konteks pendidikan agama yang lebih luas, saya cari data-data penguat. Para juara kelas di sekolah umum dan madrasah, anak berprestasi dalam musābaqah (lomba-lomba keislaman), para peserta pengkaderan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), saya amati dan hasilnya masih sama: mayoritas perempuan.
Tapi kemudian, ketika saya telusuri “subjek” dalam setiap acara keagamaan, selalu adalah laki-laki. Misalnya saja dalam kegiatan keagamaan khusus perempuan, seperti Nasyiatul Aisyiyah (NA), Aisyiyah dan pembinaan perempuan di sekolah. Demi lebih membuktikan, saya kumpulkan jadwal pengajian di setiap masjid hampir ke seluruh desa. Begitu juga dalam setiap acara pengkaderan IPM dan kegiatan Pesantren Ramadhan. Hasilnya yakni pemateri atau subjek acara selalu laki-laki.
***
Kesimpulan pengamatan itu, yakni “mengapa perempuan yang punya pengalaman baik dalam pelajaran dan mayoritas dalam kegiatan sosial-keagamaan, hanya jadi jemaah? Bukankah banyak materi dakwah yang akan lebih baik dan efektif jika perempuan yang menyampaikan kepada jemaah yang mayoritas perempuan juga? Seperti fiqh an-nisā, tarbiyyah an-nisā atau perjuangan perempuan dalam sejarah Islam, misalnya?”
Dalam scope yang lebih luas dari sekadar kampung, saya juga berkesempatan diskusi dengan Pimpinan Daerah Aisyiyah bidang Tabligh. Jawabannya ternyata dalam skala kota Garut keadaannya sama persis. Pada acara penyambutan mahasiswa program Pendidikan Kader Ulama Perempuan (PKU-P) LPDP, Prof. Nasaruddin Umar juga mengatakan demikian dalam skala nasional. Tersebut bahwa kuota 50 orang sulit terpenuhi karena selain kurangnya kualifikasi standar LPDP, yang signifikan adalah masih sangat sedikitnya peminat. Maka program PKU-P LPDP angkatan pertama tanpa seleksi lagi oleh pihak Masjid Istiqlal, jadi 25 orang harus diterima semua. Berdasar fakta itu intinya, dalam skala nasional pun keadaannya masih sama.
Dari Subjek-Objek Menuju Subjek-Subjek
Jalan keluarnya tidak lain adalah mendorong seintens mungkin lahirnya dā‘iyah, muballighah, pendakwah atau ulama perempuan. Kehadiran perempuan sebagai subjek dakwah akan mampu menggeser aktivitas dakwah dari yang umumnya subjek-objek menuju subjek-subjek. Maksudnya, dunia dakwah hari ini, secara umum, masih terjebak pada perspektif bahwa sang pendakwah adalah “subjek” sedang jemaah adalah “objek”. Terlebih jika yang dimaksud dengan “jemaah” adalah jemaah perempuan (yang mayoritas itu) dan yang dimaksud dengan pendakwah adalah pendakwah laki-laki (yang selama ini mendominasi itu).
Ketika perempuan menjadi subjek dakwah—minimal dalam kegiatan khusus perempuan lagi—maka, perspektif menuju subjek-subjek akan lebih mudah terbangun. Jemaah tidak akan dipandang sebagai “objek dakwah” yang pasif, yang membutuhkan bimbingan dan siraman rohani terus-menerus secara satu arah. Namun pada posisi subjek-subjek, baik pendakwah atau jemaah, akan lebih “menyadari” sebagai sesama perempuan yang saling memahami dalam menghadapi masalah. Selain bahwa jemaah adalah subjek yang dapat memahami materi dakwah secara aktif, bahkan mampu berdialog secara terbuka dan progresif.
Sayangnya sampai saat ini, teramat sulit mencari seorang pendakwah (terutama laki-laki) senior yang total mengkader generasi penerus perempuan. Alasan-alasan berupa pengalaman biologis perempuan rupanya masih dipandang masalah utama. Selain itu mitos-mitos psikologis perempuan juga masih sering terdengar, seperti “perempuan itu pemalu”, “cenderung emosional daripada logis”, dst. Demikianlah mengapa masih teramat sulitnya mencetak perempuan sebagai subjek dakwah.
Perempuan yang Subjek: Solusi Masalah Intoleransi
Harus kita akui memang bahwa masalah intoleransi masih menghiasi jagat tanah air. Terlebih jika menengok media sosial, maka baik gejala-gejala maupun kasus-kasus dari kecil sampai besar, sebegitu memprihatinkannya. Padahal pesan agama begitu jelas, Rasul ke dunia ini untuk menyebarkan rahmah (QS. Al-Anbiyā [21]:107), menyempurnakan akhlak (HR. Ahmad, al-Baihāqī, al-Bazzār), bukan untuk menyusahkan (QS. Tāhā [20]: 2), melainkan memudahkan dan memberi kabar gembira (HR. Bukhārī, Muslim).
Sangat mungkin masalah intoleransi yang marak terjadi adalah salah satu akibat dari dominasi laki-laki dalam “panggung menyuarakan ajaran Islam”. Sebab dalam sejarah, sejak Kartini (w.1904) dan Nyai Ahmad Dahlan (w.1946) di Jawa, Dewi Sartika (w.1947) dan Lasminingrat (w.1948) di Sunda, Rahma el-Yunusiah (w.1969) dan Roehana Koeddoes (w.1972) di Sumatera, sampai sekarang muncul gelombang baru—yang menggembirakan—berupa Konferensi Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), sulit mencari akar-akar intoleransi menyertainya. Rupanya sikap penyayang sebagai kelebihan perempuan adalah modal besar dalam menyuarakan Islam, benar adanya.
Kelahiran perempuan sebagai subjek dakwah adalah harapan besar bagi masalah-masalah seperti intoleransi. Proses dakwah yang terus-menerus, dari hati ke hati, berposisi subjek-subjek, penuh kepercayaan dan kasih sayang, adalah jawaban paling rasional. Sebab menghilangkan gejala sekaligus kasus intolerasi, tidak serupa menghapus kemarau oleh hujan sehari.
Beruntung sejak jauh-jauh hari, beberapa pihak telah memulainya. Seperti guliran wacara oleh KUPI, gerakan pengajian subuh oleh pimpinan wilayah Aisyiyah Jawa Barat, program PKU-P LPDP oleh pemerintah dan Masjid Istiqlal, sampai adanya website-website berwacanakan perempuan seperti rahma.id, mubadalah.id, dan masih banyak lagi. Semua itu adalah modal untuk optimis bahwa kelahiran generasi perempuan sebagai subjek dakwah, tidak lagi mulai dari titik nol.
Penulis : Atropal Asparina
Pengurus Bidang Kepesantrenan SMK Muhammadiyah Tarkid, Garut.

“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
