Meneguhkan Kembali Sikap Modernis KH. Ahmad Dahlan

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Pada masa hidupnya KH. Ahmad Dahlan pernah bertanya pada perempuan; “Tidakkah kalian malu disaat kalian melahirkan persalinannya dilakukan oleh lelaki”?

Pertanyaan di atas karena keresahan beliau tentang kondisi perempuan yang masih belum mampu menjadi pelopor dalam Ilmu kedokteran. Dari keresahan itulah KH. Ahmad Dahlan berpesan kepada perempuan agar menjadi dokter dengan menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya sebagaimana lelaki.

KH. Ahmad Dahlan selaku Tokoh utama dibalik berdirinya Ormas Muhammadiyah, yang merupakan Ormas terbesar kedua di Indonesia itu bahkan melangkah lebih jauh. Beliau  sampai turun tangan merintis Musala (Mushola) khusus untuk perempuan.

Inilah keunikan Kiayi dan Ulama yang kerap dipanggil dengan sebutan “Sang Pencerah” tersebut. Beliau tidak semata berkutat pada ranah gagasan dan retorika, melainkan menerapkannya langsung dengan tindakan nyata.

Sayangnya, sikap dan pribadi KH. Ahmad Dahlan yang demikian, sekarang memudar diteladani oleh kader-kader Muhammadiyah. Kebanyakan kader-kader Muhammadiyah lebih banyak berkutat dalam ruang diskusi, seminar, dan dialog daripada menerapkannya.

Kiai Dahlan dalam Dakwahnya

Sepanjang hidupnya KH. Ahmad Dahlan tidak pernah menulis buku, kecuali catatan-catatan singkat tentang larangan menziarahi kuburan bagi perempuan. Kh. Ahmad Dahlan lebih banyak bertindak, bekerja, dan berusaha menciptakan sesuatu yang baru daripada berpetuah lewat lisan dan tulisan. Dengan sikap demikian tentu beliau mencontohkan langsung gerakan modernis yang menjadi misi Muhammadiyah.

Di tambah lagi di era modern yang dengan pesat berkembang dimana ruang dan waktru seakan dengan mudah ditembus, yang menandakan bagaimana melejitnya kemajuan teknologi. Kader-kader Muhammadiyah masih minim akan karya ciptaan yang berkaitan dengan perangkat-perangkat teknologi. Katakanlah misalnya aplikasi “Android”, yang mengubah aktivitas hidup menjadi serba instan dengan dilakukan dalam jejaring, kader-kader Muhammadiyah masih belum mampu menawarkan sesuatu yang sama. Dapat dilihat dari betapa sangat minim aplikasi yang diciptakan.

Bahkan walau itu aplikasi untuk membayar kuliah tanpa harus ke Bank. Contoh lainnya ialah di bidang otomotif seperti kendaraan, baik itu sepeda motor, mobil pribadi, angkutan umum, ataupun kereta dan pesawat yang dapat digunakan oleh masyarakat akar rumput. Berbagai macam kendaraan ini juga belum mampu diciptakan oleh kader-kader Muhammadiyah.

Kader Muhammadiyah Dituntut Produktif

Indonesia pernah bahkan masih meresahkan akan macetnya jalanan umum akibat meluapnya kendaraan yang dimiliki masyarakat. Bagaimana tidak, sebagaian besar masyarakat kita sekarang ini memiliki lebih dari satu kendaraan di setiap rumahnya. Namun sampai sekarang masalah itu masih belum mendapatkan solusi yang “Fresh” dan mencerahkan dari kader-kader Muhammadiyah.

Oleh karena itu, di usianya yang ke-108 tahun ini, dibidang otomotif perlu kiranya kader-kader Muhammadiyah menciptakan kendaraan yang bisa dipakai oleh siapa saja dan manfaatnya bisa dirasakan oleh siapa saja. Demi terciptanya ketertiban berkendara dan kelestarian lingkungan, sebab tidak banyak digususr untuk membangun jalan.

Meneguhkan Kembali Sikap Modernis KH. Ahmad Dahlan

Seandainya saja pada masa hidup KH. Ahmad Dahlan di Indonesia sudah ada laptop, “Smartphone” atau “Android” bahkan roket seperti masa sekarang. Besar kemungkinan Beliau akan menyarankan kader-kadernya untuk menekuni masing-masing bidang tersebut untuk mewujudkan misi modernis-nya Muhammadiyah. Namun sayangnya pada masa itu semua jenis barang di atas masih sangat terbatas dan adanya hanya pada negara-negara Eropa.

Karena itu, sekarang ini sikap KH. Ahmad Dahlan yang lebih suka bekerja, menciptakan dan membangun sesuatu yang baru sangat perlu untuk diteguhkan kembali. Kader-kader Muhammadiyah harus melahirkan ciptaan-ciptaan yang sesauai dengan perkembangan serta Konteks zaman, agar Muhammadiyah tidak ketinggalan.

Kader-kader Muhammadiyah tidak seharusnya berkutat pada persoalan memajukan pendidikan, peralatan Rumah Sakit, pengembangan metode belajar dan pengobatan dengan barang dan perangkat yang masih dibeli dari Luar Negeri. Tetapi kader-kader Muahmmadiyah harus menciptankannya dengan tangannya sendiri.

Tidak bisa kita nafikkan bahwa dalam instansi-instansi yang dimiliki Muhammadiyah, baik itu pendidikan, rumah sakit dan amal usaha lainnya. Lebih spesifik lagi misalnya dari sekian banyak Universitas Muhammadiyah, baik meja dan kursi yang digunakan masih merupakan produk luar negeri. Belum lagi  peralatan elektronik seperti LCD yang digunakan saaat proses belajar, kebanyakan alat-alat itu ialah impor dari Negara serta ciptaan orang-orang yang bahkan tidak mengenal Muhammadiyah yang di pundaknya mengandang kata Modernis. Yang seharusnya Muhammadiyah menjadi penentu harga dan penjual, bukan hanya menjadi penawar harga dan pembeli.

Waktunya Muhammadiyah Membalik Keadaan

Hasil ciptaan ini pada dasarnya sangat berpengaruh bagi perekonomian Negara luar, mata uang mereka benar-benar diperhitungkan karena kebutuhan masyarakat akan produk yang mereka buat. Jika Muhammadiyah mampu membalikkan keadaan, tentunya akan sangat berdampak juga pada perekonomian dan pengaruh mata Uang Indonesia. Singkatnya, kemampuan memproduksi dan menciptakan sesuatu yang baru ini akan merambat pada segala sector seperti, ekonomi, politik bahkan mendorong majunya suatu Negara.

Dari sini, sebenarnya penulis merasa aneh apabila terdapat masalah politik, krisis ekonomi dan ketimpangan sosial, tapi kebanyakan kader Muhammadiyah menyalahkan pemerintah. Padahal (bagi penulis) seharusnya kita yang mengoreksi diri. Berupaya menghadirkan solusi dan jalan keluar. Paling tidak dimulai dari lingkungan terdekat.

Leave a Comment