Melihat Sudut Lain dalam Kontestasi Politik Perempuan
Sejatinya manusia, baik laki-laki maupun perempuan dilahirkan memiliki tubuh. Tubuh ini berkembang beriringan dengan seksualitas manusia. Akhirnya, tubuh dan seksualitas menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Sepanjang manusia mengisi peradaban tubuh dan seksualitas selalu hangat diperbincangkan, sayangnya masih didominasi oleh pandangan patriarkal. Cara pandang, pembicaraan tentang tubuh, terutama tubuh perempuan oleh kalangan mereka sendiri sering direpresi bahwa perempuan tidak pantas membicarakan hal demikian.
Di Indonesia, tubuh dan seksualitas perempuan belum mendapat porsi pembahasan yang besar. Seakan perempuan yang membicarakan seputar tubuhnya acapkali dilabel binal, kegatelan dan sebutan lainnya yang mendorong ke arah menyempitkan. Selama dunia berputar perempuan selalu dinomor duakan. Mereka tak bisa bergerak leluasa seperti lelaki pada umumnya. Hal ini membuat kami refleksi panjang soal otoritas tubuh perempuan.
Di dalam buku Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan karangan Irwan Abdullah tubuh perempuan menjadi pembicaraan yang menarik perspektif Foucault. Sejak bayi perempuan menjadi kelas kedua, berbeda dengan jabang bayi laki-laki yang banyak diharapkan. Belum lagi asumsi bayi perempuan membutuhkan biaya ekonomi yang sangat tak terbilang pada saat perkawinan. Kasus ini juga memungkinkan perempuan pasca pernikahan mendapat perlakuan pemukulan, atau perlakuan kasar suami. Pada sesi tertentu membuat dirinya tergantung di ketiak kekuasaan laki-laki.
Untuk memantik isu ini, ada sebuah film yang sedang populer di Netflix berjudul Ganggubai Kathiawadi. Film garapan Sanjay Leela Bhansali dan diproduksi oleh Jayantilal Gada di tahun 2022 ini menceritakan otobiografi Ganggubai Kothewali. Di awal film seorang gadis muda cantik diajak pergi oleh kekasihnya bernama Ramnik. Digadang-gadang menjadi artis film, Ganggubai justru dijual kepada germo di daerah lokalisasi di Kamathipari. Selama diam di tempat tunasusila Ganggubai menjalani hari-hari dengan penuh penyiksaan. Tubuhnya kadang dibalut oleh luka berkepanjangan menjadi sasaran objek seksual.
Menolak diam di atas takdir Ganggubai perlahan menyusun perlawanan. Dirinya melakukan konsolidasi akbar dengan advokat terkenal bernama Rahim. Pasalnya selama menjadi pekerja seks tubuhnya diperlakukan kasar. Pertemuan dengan Rahim membuat dirinya terlindungi dan memiliki keistimewaan khusus dari yang lain. Berangkat dari tragedi ini membuat Ganggubai memiliki kekuatan lebih dan menempatkan posisinya sebagai nyonya. Nyonya yang memiliki kesadaran bahwa ketidakadilan terhadap tubuh perempuan harus dihapuskan.
Ganggubai memilih melibatkan diri sebagai pengelola yang memiliki nurani. Dirinya memperjuangkan pendidikan anak-anak yang lahir dari pelacuran, mengurangi takaran jam kerja, dan bersikeras maju sebagai pemangku aktor kebijakan di dalam pemilu. Dalam sebuah kesempatan dirinya memberikan pidato mengenai hak-hak perempuan dan bertemu menteri di New Delhi. Ada beberapa kebijakan yang diusung salah satunya legalisasi lokalisasi. Peran Ganggubai memberikan nilai positif bagi masyarakat di sana, diriya berkomitmen kuat bahwa perempuan tunasusila bisa duduk setara.
Kisah ini tentu memberikan sudut pandang lain soal dunia pekerja seks. Di dalam buku seks, uang dan kekuasaan karangan Thanh Dam Truong ada uraian khusus bagaimana pelacuran secara teori sosial dan politik. Didalam buku itu diuraikan bahwa pelacuran secara pengertian merupakan praktek hubungan seksual sesaat yang dilakukan dengan siapa saja (promiskuitas) untuk imbalan berupa upah. Pelacuran dikarakteristikan kedalam tiga unsur, pembayaran, promiskuitas, dan ketidakacuhan emosional.
Melihat pengertian ini, tak salah jika seorang Ganggubai di dalam pidatonya bertanya ke khalayak publik. ‘’ kalian di sini tentu semua memiliki pekerjaan baik bisnis, dokter, insinyur maupun guru. Sebagian menjual kecerdasan tetapi kami di sini menjual tubuh. Kami bekerja keras. Kalian tau apa pekerjaan tertua di dunia? pelacuran. Tanpa kami, surga pun tidak lengkap.’’ Dengan nada lirih Ganggubai mencoba memberikan stimulus bahwa dirinya manusia memiliki harga diri yang sama. Tentu kata-kata ini bisa membuat tersingung atau justru memiliki bobot polemik, tetapi dalam kacamata kemanusiaan Ganggubai telah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupanya. Film ini berakhir dengan hasil pemilu yang dimenangkan Ganggubai sebagai tokoh sentral memperjuangkan hak perempuan.
Disudut lain, saya teringat essai Goenawan Muhammad yang bercerita di Negara Italia ada peristiwa yang membuat kaget seluruh dunia. Tahun 1987 orang ramai mendukung anggota parlemen bernama Cicciolina, di usia yang menginjak 37 tahun dia memenangkan suara dan duduk di kursi kekuasaan. Uniknya, dia mantan pemain bintang porno. Dengan dada setengah terbuka Cicciolina menyampaikan rasa gembira. Meski duduk di kursi parlemen dia masih menjalankan pekerjaanya sebagai model majalah dewasa Playboy.
Dalam beberapa kesempatan Cicciolina kadang membuat lelucon seperti dia mau bermain seks dengan Usamah Bin Laden dan Saddam Husein asal mereka berdua menyelesaikan masalah perdamaian. Penyelesaikan konflik demikian dibilang unik, sekaligus menampar para politisi pada umumnya. Dia juga dalam pidatonya selalu berkata ‘’buah dadaku tak melukai siapa pun, sementara peperangan Usamah mengakibatkan ribuan korban’’. Cicciolina gencar mengampanyekan soal hak asasi manusia, selain itu dia juga terpilih kembali tahun 1991.
Perempuan memang tema yang selalu hangat diperbincangkan. Tak ada salahnya jika kita melihat dari sudut pandang berbeda tentang mereka yang berkiprah dalam kontestasi politik. Untuk menutup tulisan sederhana ini, saya mengutip perkataan film Queen Of The South, ratu mafia narkoba terkenal bernama Teresa Mendoza ‘’ there’s a flower that grows in the darkness. Lirio de los valles. So many reasons it should’t exist. It must be celebrated.’’ Bahwa ada bunga yang mampu tumbuh dalam kondisi gelap.

Pengelola Tambo Pustaka, Taman Baca Rumah Ilmu dan Mahasiswa jurusan Falsafah & Agama
