Kebiasaan Baru Masyarakat Jabodetabek di Sektor Lingkungan Hidup
Akhir-akhir ini, kata ‘new normal‘ terus ramai diperbincangkan media. Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita (kompas.com, 2020) new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal. Namun, dengan tambahan agar menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.
Semenjak Covid 19, tidak sedikit perilaku masyarakat yang berubah, mulai dari kebersihan, bekerja, perilaku berkendara serta masih banyak lainnya. Penulis pernah menulis tentang Covid mengubah total kebiasaan orang Indonesia dan ternyata hingga saat ini tulisan tersebut masih relevan.
Terlepas dari pro kontra new normal, ada ibrah yang kita peroleh, tentu kebiasaan baru ini tetap akan terjadi. Karena, secara tidak langsung kita akan senantiasa berhati-hati dan menerapkan praktek hidup yang lebih sehat.
Covid dan Dampak Lingkungan di Jabodetabek
Semenjak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jabodetabek, banyak perusahaan yang membuat kebijakan bekerja di rumah. Begitu pun sekolah, menerapkan belajar di rumah. Dengan ditetapkannya PSBB banyak masyarakat yang mengurangi penggunaan kendara pribadi ke arah Jakarta. Operasional kendaraan umum pun dibatasi mulai dari kereta api hingga transjakarta mengurangi jam operasional serta armada yang digunakan. Sehingga polusi udara yang dihasilkan semakin menurun dan Jakarta menjadi sangat sejuk.
Kompas.com (2020) merilis tepat di Hari Bumi beberapa waktu lalu yang jatuh pada Rabu (22/4/2020). Berdasarkan data AirVisual dari website IQAir.com pukul 14.00, kualitas udara di Jakarta berada di angka 56 parameter konsentrasi PM2.5 14.4 mikrogram per meterkubik. Dengan angka tersebut, kini Jakarta menduduki peringkat 38 dunia di antara kota penyumbang polusi terbesar.
Ini tentu menjadi kabar baik, karena beberapa waktu lalu Jakarta sempat menduduki peringkat pertama kota penyumbang polusi terbesar. Membaiknya kualitas udara di Jakarta sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
Selain itu, kebijakan PSBB dan bekerja dari rumah membuat masyarakat lebih banyak memesan makanan dari rumah. Atau bahkan, memasak bersama keluarga di rumah, sehingga mengurangi produksi sampah yang ada.
Biasanya masyarakat membeli air mineral saja harus mengunjungi mini market serta berbelanja menggunakan plastik. Bahkan tidak sedikit yang mampir di restoran hanya untuk sekedar minum. Akibatnya, menambah jumlah sampah plastik dari sedotan.
Dengan adanya Covid-19, ini tentu produksi sampah akibat kebiasaan masyarakat yang membeli makan atau minum di luar berkurang. Walaupun, penggunaan plastik masih besar tetapi tidak menghasilkan sampah yang cukup signifikan seperti hari-hari biasa.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta (cnnindonesia.com 2020) menyebut jumlah sampah dari Jakarta menuju Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bantargebang, Bekasi, berkurang signifikan sejak penerapan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah pada 16 Maret akibat Virus Corona. Kepala DLH DKI Jakarta Andono Warih menyatakan penurunan itu rata-rata mencapai 620 ton per hari.
Ini menjadi sebuah kabar baik bagi lingkungan hidup di Jakarta. Sangat jarang masyarakat tidak memproduksi sampah dalam jumlah banyak, ini hanya terjadi saat covid-19 dan mampu mengurangi produksi sampah masyarakat Jakarta.
Kebiasaan Baru Saat Covid-19 Harus Dipertahankan
New Normal menganjurkan masyarakat untuk melakukan aktivitas seperti biasa dengan menggunakan protokol kesehatan. Selain itu, perlahan PSBB DKI Jakarta mulai menerapkan masa transisi di mana banyak fasilitas umum seperti perkantoran, restoran, tempat perbelanjaan yang akan di buka dalam waktu dekat. Dengan menggunakan protokol kesehatan serta pembatasan pengunjung diharapkan dapat membantu pemulihan kegiatan perekonomian. pulih.
Namun dengan kembalinya aktivitas seperti biasa, dikhawatirkan kondisi udara Jakarta yang sudah mulai membaik malah menurun kembali. Tetapi, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat agar kondisi lingkungan di Jakarta tetap baik walaupun masyarakat sudah bisa beraktivitas seperti biasa.
Pertama, masyarakat dapat menggunakan transportasi umum ketika berangkat bekerja ataupun sekolah. Karena, saat ini integritas transportasi di Jakarta sudah cukup baik terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota penyangga Jakarta. Masyarakat harus dibiasakan kembali menggunakan transportasi umum serta berjalan kaki agar mengurangi kemacetan dan juga polusi udara. Jika ini konsisten dilakukan oleh seluruh masyarakat yang bekerja atau sekolah di Jakarta, maka kualitas udara di Jakarta akan terus membaik.
Kedua, pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta Pemerintah Kota atau Kabupaten yang berdekatan dengan Jakarta harus menyiapkan transportasi umum dengan jumlah armada yang memadai serta menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.
Penulis yakin jika ini dilakukan secara bersama, akan lebih mudah menjaga kualitas udara di Jakarta serta Kota-kota sekitar Jakarta, karena tidak sedikit pekerja yang tinggal di sekitar Jakarta menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor ke tempat mereka bekerja.
Ketiga, kebiasaan masyarakat memesan makanan secara bersama atau memasak di rumah selama pandemi harus tetap dilakukan. Walaupun aktivitas sudah kembali normal, membawa bekal atau memesan makanan secara kolektif akan memberi dampak baik terhadap lingkungan.
Dampak baik terhadap lingkungannya adalah mengurangi konsumsi sampah jika masyarakat terbiasa membawa bekal dan menggunakan tempat makan yang digunakan berkali-kali serta memesan makanan secara kolektif akan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Tentu penulis berharap dengan kebiasaan baru masyarakat pasca pandemi akan membawa dampak baik terhadap lingkungan di Jabodetabek, karena dengan memperbaiki kualitas udara akan membuat masyarakat hidup lebih sehat.
Selain itu penggunaan produksi sampah juga akan mengurangi potensi banjir yang selama ini belum bisa dilakukan oleh seluruh pihak. Dengan demikian new normal selain memperbaiki ekonomi, tentu akan memperbaiki kondisi lingkungan di Jabodetabek
*Penulis adalah Ketua PW IPM Jawa Barat Bidang PIP dan Kader Muhammadiyah Hijau Komite Jakarta Raya
Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik.
