f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kunci sukses

Amanah, Kunci Sukses Jadi Pemimpin (2)

Amanah, Kunci Sukses Jadi Pemimpin (1)

Oleh : Fathan Faris Saputro

Kunci Utama Sukses

Melanjutkan yang kemarin, kunci utama suksesnya kepemimpinan Nabi Yusuf adalah sikapnya yang amanah. Sejak awal nabi Yusuf mengatakan, “Saya adalah orang yang pandai menjaga”. Ungkapan tersebut bisa diartikan, “Saya adalah oraang yang amanah”. Ternyata benar, setelah Ia menjadi seorang bendahara Negara, Ia menjadi seorang pemimpin yang amanah. Amanah pada dasarnya adalah jujur, dapat dipercaya.

Amanah merupakan tuntunan iman. Lawan dari amanah adalah khianat dimana khianat adalah salah satu ciri kekhafiran. Rasululullah Saw. Bersabda: “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah, dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Orang yang telah kehilangan sifat amanah, Ia akan menjadi orang yang mudah berbohong dan berkhianat. Sedangkan bohong dan khianat merupaka ciri-ciri dari orang yang munafik. Amanah seringkali dikaitkan dengan harta dan kedudukan. Pada kedua hal ini lah amanah dituntut untuk untuk dilaksanakan. Namun, pada dasarnya, amanah berlaku lebih luas lagi terutama dalam melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Itulah amanah Allah yang berlaku kepada setiap Muslim.

Amanah yang Sebenarnya

Berkaitan dengan kepemimpinan, pada saat ini kata-kata amanah banyak sekali diumbar, namun rasanya sangat sulit mencari seorang pemimpin yang benar-benar amanah. Kita harus jeli dalam memilih seorang pemimpin, tidak hanya mempercayai apa yang diucapkannya. Alangkah baiknya juga untuk tidak percaya pada satu sumber yang mengatakan tentang seorang pemimpin. Sebab sudah jelas dalam  Islam, jika ada suatu berita yang datang, kita harus melakukan tabayyun (cross check) tentang kebenaran berita tersebut. Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw. Bersabda: “Jika amanah diabaikan maka tunggulah kiamat. Sahabat bertanya, ‘Bagaimanakah amanah itu disia-siakan, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Saw. Menjawab, ‘jika suatu urusan diserahkan  kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran’.” (HR. Bukhari)

Amanah dalam kepemimpinan dapat diartikan dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya, memberikan jabatan kepada orang yang berhak, menyerahkan tugas kepada orang yang berhak, menyerahkan tugas kepada orang yang selalu berusaha meningkatkan kemampuan terhadap tugas yang diembanya. Kepemimpinan dalam Islam jelas merupakan suatu amanah yang besar, jadi tidak setiap orang bisa mengembannya. Namun jika seseorang bisa mengembannya, maka kesejahteraan dan kemakmuran rakyat akan diperoleh.

Dari Abu Dzar beliau berkata: “Wahai Rasulullah mengapa anda tidak memberikan saya jabatan?” beliau mengatakan, wahai Abu Dzar, engkau ini lemah dan jabatan itu adalah amanah, sesungguhnya jabatan itu akan menjadi sebuah penghinaan dan penyesalan nanti pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memikulnya dengan sungguh-sungguh dan menunaikannya menurut hak-hak yang terdapat di dalam jabatan tersebut.” (HR. Muslim)

Baca Juga  Pilkada Berkualitas di Era Pandemi

Pentingan Kehadiran Pemimpin

Manusia sebagai makhluk social hidup dalam sebuah komunitas yang satu. Untuk itu, kehadiran seorang pemimpin mutlak diperlukan agar arah dan keberadaan kelompok tersebut dapat berjalan baik. Dalam Islam  sendiri, menunjuk seorang pemimpin sangat diperlukan bahkan jika hanya ada tiga orang terkumpul. Salah seorang di antara mereka harus ditunjuk menjadi pemimpin. Itulah ciri betapa pentingnya seorang pemimpin terutama dalam sebuah kelompok.

Dalam Islam, pemimpin merupakan khalifah Allah di muka bumi. Tanggung  jawab seorang  pemimpin bukan hanya kepada manusia saja tapi juga haruss dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Pertanggung jawaban di hadaapan manusia bisa direka-reka dan disesuaikan dengan keinginan. Namun pertanggung jawaban di hadapan Allah menyeluruh, tidak akan  ada yang terlewat barang sedikit pun. Sebetulnya menjadi seorang pemimpin itu bukan sesuatu yang menyeangkan, tetapi tanggung jawab dan amanah  yang harus   diemban sebaik-baiknya.

Jika ia tidak mampu mengemban amanah, balasannya sangat pedih di akhirat kelak, begitu pula jika ia mampu mengembannya. Allah Swt. Berfirman:

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janji mereka dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi surge Firdaus mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Muminun [23] : 8-11)

Menggenggam Amanah

Pada zaman Rasulullah, pernah suatu ketika ada seorang Badui datang kepada Rasulullah Saw. Ia bertanya, “Ya Rasulullah, kabarkan kepadaku mengenai ajaran agama, apa yang terinngan dan apa yang terberat?” Rasulullah Saw., menjawab, “Adapun ajaran yang teringan yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat Rasulullah Saw., menambahkan, “Tidak sempurna agama seseorang, kalau dia tidak bisa menjaga dan memelihara amahah.”

Pemegang amanah yang sangat menentukan dalam kehidupan ini ada lima kelompok. Lima  kelompok ini mewakili seluruh elemen kehidupan manusia. Pertama, pemimpin yang memegang amanah dalam pemimpin yang berlaku adail. Kedua, ulama atau cendekiawan yang memegang amanah yaitu yang mengamalkan ilmunya. Ketiga, hartawan yang memegang amanah yaitu orang yang dermawan dengan hartanya. Keempat, karyawan yang amanah adalah yang rajin dan disiplin dalam bekerja. Kelima, fakir  miskin yang amaanah adalah mereka yang berdoa untuk kebaikan. Jika kelima kelompok ini menjalankan amanhnya masing-masing Rasulullah menjamin dunia akan damai dan sejahtera.

Baca Juga  Lebaran dan Pesan Allah untuk Seluruh Anak

Kisah Umar Bin Khattab

Landasan dari kepemimpinan adalah sikap-sikap amanah. Seseorang sahabat rasul yang utama, Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah, Ia berkata, “wahai umat Muhammad! Aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian. Seandaainya tidaklaah didorong oleh hadapan bahwa  saya menjadi orang yang terbaik di antara kalian, orang yang terkuat bagi kalian, dan orang yang yang paling teguh pengurus urusan kalian, tidaklah  saya menerima jabatan ini. Sungguh berarti bagi Umar menunggu datangnya saat perhitungan.” Sayyidina Umar sadar bahwa kepemimpinan bukan hanya janji untuk melayani sesuai  kesepakatan bersama. Umar paham bahwa seorang pemimpin juga harus berhubungan harmonis dengan Allah, menjalankan kepemimpinan sesuai dengan nilai-nilai yang diamanatkan-Nya.

Sejarah mencatat, bahwa Umar adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikaanurusan kaum muslim. Umar juga dikenal sebagi pemimpin yang menegakkan tauhid dan keimanan, menghancurkan syirik dan kekufuran, dan  menghidupkan sunnah dan menghilangkan bid’ah. Suksesnya kepemimpinan Umar tidak perlu diragukan beliau adalah tokoh besar setelah Rasulullah Saw., dan Abu Bakar. Pada saat beliau memimpin, kekuasaan Islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan beberapa daerah seperti Persia, Mesir, Syam, Irak, Azerbaijan, Basrah, Kufah, Tripoli bagian barat  dan Jurjain.

Pemimpin Bagi Diri Sendiri

Dalam Islam, selain pemimpin social, setiap orang juga merupakan pemimpin bagi dirinya sendiri. Pasalnya, setiap dari kita akan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan selama di dunia ini. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw., bersabda “setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinanya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tetang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah memimpin di rumah suaminya dan atas anaak-anaknya dan ia diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuanya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam ilmu modern, seorang pemimpin adalah orang yang mampu menggunakan kemampuannya, nalurinya, sikapnya, sehingga orang lain yang dipimpin dapat bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Pemimpin juga dikatakan sebagai orang yang mampu mempengaruhi orang lain dalam situasi tertentu, melalui komunikasi, dengan tujuan mencapai satu titik tertentu. Tidak heran jika seorang pemimpin selalu menjadi titik pusat dari suatu tindakan. Keberhasilan atau kegagalan suatu kelompok  selalu dikaitkan dengan siapa pemimpinannya.

Mari kita simak nasihat Imam Ghazali kepada murid-muridnya. Saat itu, Imam Ghazali sedang berkumpul dalam sebuah majlis bersama murid-muridnya. Untuk menguji kemampuan murid-muridnya dan memberikan nasihat, untuk menguji kemampuan murid-muridnya dan memberikan nasihat, beliau  mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. “Apakah hal yang paling berat di dunia ini?” itulah salah satu pertanyaan yang beliau ajukan.

Baca Juga  Tak Ada yang Nyaman di Zona Nyaman

Para murid pun menjawab, ada yang menyebut baja, ada yang menjawab besi, ada yang mengatakan gajah, dan sebagainya. Imam Ghazali menggelengkan kepala. Tidak ada seorang murid punyang dapat menjawabnya dengan tepat. Imam Ghazali kemudian mengatakan bahwa semua jawaban muridnya benar. Namun yang dimaksud oleh Imam Ghazali, yang paling berat di  dunia ini adalah memegang amanah.

Amanah Membawa Keadilan

Amanah dapat berupa kepercayaan dari orang lain baik berupa barang ataupun bukan. Amanah merupakan segala  sesuatu yang mewajibkan seseorang yang menerimanya untuk menunaikannya dengan benar. Termasuk dalam amanah adalah perintah Allah Swt., untuk menjalankan perintah-Nya serta laragan-Nya. Bahkan hadirnya kita di dunia ini adalah amanah untuk menjadi khalifah Allah guna memakmurkan bumi ini. Allah Swt., berfirman:

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikirkan amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33] : 72)

Jelas, amanah bukan sesuatu yang sederhana. Tidak hanya terkait dengan harta dan jabatan saja. Amanah berkaitan dengan akal dan jiwa untuk melaksanakan berbagai kewajiban sebagaimana mestinya dan menjauhi larangan sebagaimana mestinya. Itulah amanah yang merupakan urusan besar di mana seluruh semesta menolaknya. Namun demikian, banyak di antara kita yang mengambil amanah padahal kita sadar tidak akan mampu melaksanakannya. Allah pun menyebut manusia sebagai zalim dan amat bodoh.

Dalam kepemimpinan, amanah merupakan kunci suksesnya kepemimpinan yang dilaksanakan. Pemimpin yang amanah dapat menghadirkaan keadilan. Keadilan akan membawa nada kerukunan. Sedangkan kerukunan dapat membawa suatu masyarakat pada kesejahteraan. Demikian sebaliknya, seorang pemimpin yang tidak amanah hanya akan membawa kehancuran pada rakyat yang dipimpinnya. Itulah, betapa pentingnya amanah bagi seorang pemimpin.

*) Penulis adalah pegiat literasi dan juga mahasiswa Semester IV Program Studi Ilmu pendidikan Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Paciran, Lamongan

Bagikan
Post tags:
Post a Comment