Santri pondok pesantren, generasi yang terkurung dalam jeruji penjara suci. Didikan dalam wadah pesantren dengan konotasi jauh dari kata keren. Seringkali mendapatkan gunjingan bahkan dianggap remeh atau anak buangan yang sudah menjadi santapan sehari-hari dalam mengalami ujian kehidupan. Berlaku sopan, malah dikira kurang pergaulan. Terlalu baik, ibarat sok asik. Memberi petuah, malah dikira sedang ceramah. Ya, seperti itu lah anggapan banyak orang yang tak mengenyam pendidikan di pesantren.
Pada dasarnya, menjadi santri merupakan suatu pilihan. Di mana mereka berkeinginan menambah ketaqwaan kepada Tuhan tak lupa guna menambah ilmu untuk mengarungi dunia yang kian semu. Ini pilihan yang mereka ambil, bukanlah kepasrahan akan takdir. Jalan masuk ke pesantren tidaklah semudah yang ada dalam bayangan banyak orang. Para santri menjalani banyak tes, mulai dari tes pengetahuan umum, tes pengetahuan keagamaan, tes baca tulis Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Banyaknya tes yang mereka jalani bukanlah sekedar ilusi. Maka, seseorang yang beranggapan jika santri adalah sosok buangan merupakan pengertian klasik yang tidak dengan bukti fisik. Mereka hanya mampu menyuarakan tanpa melihat bagaimana keadaan. Mereka hanya berpacu pada berita semata, tanpa melihat realitanya. Lantas, seperti apakah dunia pesantren sesungguhnya?
Santri Pondok Kreatif Membangun Negeri Inovatif
Santri itu kreatif, santri itu inovatif, serta santri pondok itu hebat dan bermartabat dan itu anggapan saya mengenai dunia pesantren. Mereka mendapat pendidikan di alam terbuka, agar tak terkungkung jiwa. Belajar dengan hidup sederhana agar tak terlena akan dunia. Tak lupa memperkuat mental, agar tak terjerumus dalam pedihnya maksiat.
Sebagai pelajar non pesantren, tidak banyak yang dapat saya sampaikan mengenai dunia pesantren. Namun, menurut literatur yang saya baca, pengalaman dari santri, dan opini-opini yang merajalela, dapat saya simpulkan jika santri buangan bukanlah makna yang tepat untuk santri. Menjadi santri bagi saya adalah idaman. Mereka belajar ilmu dunia agar tak terlena dan belajar ilmu akhirat agar tak tersesat.
Di sini saya akan berkaca pada sebuah pondok pesantren modern di daerah saya, yaitu Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor. Mengapa saya memilih pesantren ini?
Pondok Pesantren Gontor, begitulah orang menyebutnya. Merupakan salah satu pesantren terbesar di Indonesia dan menjadi cikal bakal pondok pesantren modern di Indonesia. Dalam sistem pengajarannya, pondok pesantren Gontor tidak berpacu pada ilmu agama dan ilmu umum saja, namun juga bagaimana cara mengajarkan ilmu tersebut. Karena sejatinya ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.
Walaupun berada di daerah pedesaan, santri-santri pondok pesantren sangatlah beragam. Mulai dari sabang sampai merauke, semua ada di pondok ini. Bahkan, banyak pula santri dari negara-negara tetangga yang memilih mengenyam pendidikan di pesantren ini. Tidak heran jika bahasa yang kami pakai sehari-hari bukanlah bahasa daerah. Pesantren Gontor mengharuskan santrinya menguasai 3 bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-harinya.
Cara Unik dan Jitu Belajar di Pondok Pesantren
Cara pengajaran pondok ini pun relatif berbeda dari pesantren lainnya. Jika pesantren lain hanya mengandalkan dakwah secara lisan, maka pesantren ini memiliki cara berbeda. Selain berdakwah secara lisan, Pondok Gontor juga berdakwah dengan memanfaatkan media, mulai dari nasyid, film pendek, majalah, dan lain sebagainya. Sangat kreatif bukan?
Berbicara mengenai kreatifitas seorang santri, tentu tiada batasnya. Mari bergeser sedikit ke cabang Pondok Gontor yang terletak di Magelang, yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 5 Darul Qiyam. For your information, Pondok Gontor memiliki banyak cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu cabang yang cukup terkenal yaitu Gontor 5 Magelang.
Menjadi pesantren cabang mungkin akan mendapat gunjingan bagi beberapa kalangan. Menganggap bahwa sarana prasarananya kurang, tertinggal, sehingga tidak banyak orang yang tertarik. Eitss, kalian salah sahabat. Gontor 5 Magelang yang notabene-nya pesantren cabang ini banyak sekali peminatnya loh bahkan sering mendapat julukan sebagai surganya Gontor. Wah, MasyaAllah banget kan. Apa lagi meragukan ke indahan pesantren ini yang berdiri kokoh terimpit oleh pemandangan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu memberikan kesan eksotis. Aliran sungai, hamparan persawahan, dinginnya kolam renang, dan pemandangan pohon kelapa seakan menjadikannya sebagai replika surga dunia.
Karya Santri
Selain pemandangannya yang terkesan indah ide santri Gontor 5 juga sangat piawai dalam memanfaatkan media, terlebih Youtube dengan nama channel Gontor TV Millenial. Mereka melakukan dakwah melalui lagu-lagu islami, band, film pendek, dan lain sebagainya. Innallaha Ma’ashobirin, Lima Perkara, 90 Langkah, STIR (Sabar, Tawakal, Ikhlas, Ridho), dan Syurga di Atas Awan adalah beberapa contoh nasyid karya mereka.
Kepiawaian santri Gontor 5 dalam memanfaatkan media, membuktikan bahwa salah satu karya mereka yang pernah viral dan terkenal luas baik di dalam maupun luar negeri. Karya yaitu Dzikir Zakat, sebuah parodi dari lagu Gen Halilintar yang berjudul Ziggy Zagga pembawaan parodi ini juga sangat mencerminkan kehidupan seorang santri, tidak hanya mengaji namun juga berprestasi.
Dzikir zakat sukses menjadikan Pondok Gontor semakin terkenal di banyak kalangan. Lirik lagu yang menceritakan kehidupan santri masa kini membuat stigma santri buangan itu hilang. Sehingga, lagu tersebut memberikan motivasi terkait kehidupan dunia maupun akhirat. Setelah berkaca dari Pondok Gontor, khususnya Gontor 5 Magelang, dapat kita ambil pengetahuan jika santri itu bukanlah anak buangan namun justru kebanggaan dan memiliki kreativitas tanpa batas yang tidak kalah dengan generasi lainnya.
Santri Ideal Idaman Mbak Santri
Santri milenial. Ya, itulah anggapan yang cocok untuk santri masa kini. Mereka berdakwah tidak monoton dengan ceramah di masjid, sekolah, maupun lembaga pendidikan lainnya. Mereka juga mengikuti perkembangan zaman agar tak terkesan tertinggal oleh peradaban dengan pemanfaatan media dakwah melalui lagu-lagu islami seperti yang saya sebutkan di atas merupakan kontribusi nyata santri dalam membangun negeri.
Bagi saya menjadi seorang santri adalah idaman. Selain mempelajari ilmu dunia, mereka juga mempelajari ilmu akhirat sebagai bekal menjalani kehidupan. Mengingat jika dunia ini penuh dengan maksiat sehingga seringkali membuat tersesat. Namun, santri In Syaa Allah mampu menangkal itu semua.
Terlihat dari fisik dan juga pola pikir seorang santri, mereka sangatlah idaman. Wajahnya yang berseri-seri karena kuatnya iman yang mereka miliki. Basuhan air wudhu membuat banyak orang halu. Outfit yang jauh dari kekinian, namun malah menggoda iman. Ya, baju koko dan gamis membuat mereka terkesan manis. Sarung dan peci yang mereka gunakan pun mampu meluluhkan hati. Sungguh indah ciptaan-Mu Tuhan. Mari, sudahi stigma mengenai santri buangan. Pesantren sebagai tempat menimba ilmu merupakan sebuah pilihan. Jangan berkaca pada satu sisi saja, namun lihatlah pula realitanya. Faktanya santri masa kini mampu bersaing di era digitalisasi. Banggalah menjadi seorang santri yang berguna bagi negeri.
Editor: Kholifatul Husna
