f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mengglorifikasi hantu

Sebaiknya Tak Mengglorifikasi Hantu pada Anak

“Nak, jangan ke sana! Nanti diculik hantu, lo!” Teriak seorang perempuan di ujung senja.

Peringatan dan teriakan di atas mungkin sudah menjadi hal yang lazim. Orang tua menggunakan senjata bahwa akan ada setan yang menculik anak-anak tersebut. Anak-anak yang diperingatkan akan langsung lari tunggang langgang.

Cara yang mungkin kelihatannya simpel. Tetapi, lebih lanjut mari kita renungkan kembali bahwa tindakan tersebut membuat kita sebagai orang tua terkesan mengglorifikasi atau memuliakan adanya hantu. Meski dalam Islam kita tahu setan, jin, dan makhluk gaib itu ada dan perlu kita imani (percayai) keberadaaannya.

Dalam Islam kita ketahui bahwa mengimani perkara ghaib merupakan keharusan. Dengan adanya iman kepada hal ghaib kita telah menjadi insan yang bisa menerima segala perkara di luar nalar. Sebagai contoh peristiwa saat Nabi Muhamad Saw. pertama kali bertemu dengan Jibril hingga perjalanan Isra Miraj.

Dan banyak lagi peristiwa suci, peristiwa kenabian yang merupakan sesuatu bersifat ghaib. Sebagaimana Allah menekankan pada Surat Al-Baqarah ayat 3, yang artinya “Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan.”

Sudah jelas berarti bahwa mengimani adanya hal yang gaib di semesta adalah modal awal untuk beriman. Termasuk di dalamnya adalah mengimani adanya makhluk gaib.  Namun, yang salah di sini bukan berarti dengan adanya makhluk gaib tersebut lantas kita sebagai orang tua menakut-nakuti anak dengan hal-hal tersebut.

Hal ini patut diwaspadai mengingat kita seperti nampak sedang mengkampanyekan untuk “memuliakan” hantu-hantu ini. Sebagai orang beriman, tentu kita yakin adanya hal-hal yang tidak kasat mata. Mereka bertempat dimana saja, dan sebagai sesama makhluk Allah kita seyogyanya hidup bertetangga dengan baik.

Baca Juga  IMMawati dan Generasi Strawberry: Bagaimana Nasib Penerus Nyai Walidah dan R.A Kartini?

Hal ini disebabkan karena kita sebagai manusia dan mereka sebagai makhluk ghaib sebenarnya dalam penciptaannya memiliki tujuan yang sama, yaitu beribadah. Lalu, mengapa dalam prakteknya kita memanfaatkan keberadaan “mereka” untuk menakut-nakuti anak-anak agar patuh kepada kita.

Benar bahwa adanya rasa takut adalah hal yang wajar. Sangat wajar sehingga dengan adanya rasa takut itu anak menjadi lebih berhati-hati dan waspada.

***

Saya adalah contoh dari orang yang sering di takut-takuti di masa kecil. Bukan hanya oleh orang tua saya, melainkan orang dewasa di sekitar saya. Mereka membuat saya terus-terusan berpikir bahwa hantu-hantu ini mengganggu saya.  Salah satunya adalah melalui kalimat yang menakut-nakuti, dan aneka komik horor. Efeknya saya menjadi ketakutan sekali.

Lalu, sekarang ini saya perhatikan persebaran “glorifikasi” makhluk gaib ini semakin marak. Tidak hanya melalui orang dewasa, tetapi juga melalui berbagai media sosial.  Hal ini tentu saja mengkhawatirkan saya sebagai orang tua.

Walaupun, banyak yang memberi klaim bahwa cerita horor yang disebarkan adalah sebagai iktibar, tetap saja anak-anak tidak melihatnya seperti itu. Otak kecil mereka akan memberikan gambaran sesuai dengan doktrin masyarakat bahwa hantu itu seram.

Saya pun mengakui sebagai orang dewasa memiliki kecanduan terhadap kisah horor, baik yang di media tulisan, maupun video. Saya pikir untuk hiburan, ujung-ujungnya saya sering merasa ketakutan sendiri.

Rasa takut ini membuat saya pada saat tertentu takut untuk melakukan ibadah salat tahajud. Padahal harusnya saya tidak takut. Harusnya saya takut hanya kepada Allah. Sayangnya, akibat doktrin dari kecil saya jadi punya rasa takut tersendiri.

***

Berkebalikan dengan ada yang takut dengan adanya makhluk ghaib. Belakangan kita juga tidak asing dengan konten orang yang melawannya. Mereka bergerak ke ladang, ke tempat angker khusus untuk “menghajar” makhluk-makhluk itu. La, apa iya islam sebagai rahmatan lil alamin memiliki tuntunan seperti itu?

Baca Juga  Terminologi Hijrah Kini Mengalami Kemarau Pemaknaan

Bukankah dengan menghajar mereka kita telah berbuat zalim?

Haduh, ada individu yang penakut saking penakutnya sampai mau ibadah saja takut. Ada pula individu yang pemberani, sampai saking beraninya mereka ditantang.

Dua konsep aneh yang berkembang di masyarakat, yang mau tidak mau membahayakan anak kita. Anak kita bisa saja salah dalam menerapkan “cara” untuk hidup berdampingan makhluk-makhluk ini.

Maka dari itu, sebagai orang dewasa yang menjadi penakut karena lingkungan, saya menghimbau kita perlu untuk mengubah cara kita memandang makhluk-makhluk ini. Kita harus mengerti dan berikan pengertian, bahwa Allah menciptakan mereka setara dengan kita sebagai makhluk. Mereka sama dengan kita memiliki kewajiban untuk beribadah.

Jadi, makhluk gaib bukan untuk ditakuti melainkan kita percayai keberadaannya. Kita berusaha untuk bisa hidup dengan baik dan berdampingan dengan baik. Tidak memuliakan mereka, tidak pula merendahkan mereka. Hal ini perlu kita pastikan agar kelak anak-anak kita bisa tumbuh menjadi orang yang arif dan bijaksana. Mereka bisa dengan baik hidup tanpa merasa takut berlebihan pada selain Allah Swt.

Bagikan
Post a Comment