f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Asap rokok

Asap Rokok dan Anak

Asap rokok adalah perihal yang tidak ada habisnya menjadi perdebatan di kalangan masyarakat. Meski sudah jelas peringatan bahaya merokok di kemasan, tetap saja perokok keras kepala. Merokok di tempat umum, dan membiarkan asapnya terhirup orang lain adalah tindakan yang egois. Namun perokok seringkali keras kepala dan tidak mempertimbangkan dampak yang mereka sebabkan pada orang lain terutama anak-anak. Faktanya banyak anak yang terkena infeksi saluran pernapasan akibat rokok. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas sisi keras kepalanya perokok dan dampak asap rokok pada anak.

Mulanya Perokok

Asap rokok yang sudah jelas banyak bahaya namun minim manfaatnya itu seringkali menjadi pilihan untuk pelarian seseorang saat stress. ”Biar ada inspirasi, biar bisa mikir.” Itulah yang perokok katakan saat mendapat pertanyaan mengapa mereka merokok. Banyak yang menjadi faktor seseorang menjadi perokok. Di Indonesia sendiri, merokok itu lekat dengan maskulinisitas. Sehingga ada anggapan ”gak nyebat gak lakik”. Hal itu membuat banyak anak tergoda untuk mencoba lalu ketergantungan.

Meskipun Mahal

Rokok memiliki berbagai macam merek dan rasa. Ada yang menghasilkan asap dengan kualitas tinggi dan ada juga yang rendah. Harganya pun juga bervariasi. Namun secara keseluruhan harga rokok tidaklah murah. Uang yang seharusnya bisa masuk dalam tabungan menjadi sia-sia karenanya. ”Kalau gak ada perokok, terus siapa yang ngasih negara pajak segede ini.” Itulah yang mereka katakan saat orang lain meminta mereka berhenti merokok. Meskipun mahal, mereka rela merogoh saku demi sebatang rokok.

Akan Berhenti, Katanya

Saat berdiskusi terkait rokok dengan si pelaku yang masih bujangan alias belum menikah, banyak sekali alasan yang mereka katakan. Namun saat melontarkan pertanyaan ”Kalau kamu nikah, emang tega tuh asap rokok kena anak sama istri?” Kebanyakan dari mereka biasanya akan terdiam sejenak lalu akan memberikan jawaban seperti ”Yaa beda cerita lah itu” atau ”Aku bukan pecandu rokok kok”. Meskipun enggan memberikan jawaban lebih lanjut, namun secara tidak langsung mereka sepakat bahwa asap rokok memang berbahaya terutama pada anak dan orang yang mereka cintai. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka denial. Sudah mengetahui pasti dampak asap rokok namun sudah terlalu candu untuk berhenti. Sehingga tidak jarang banyak yang mengaku akan berhenti merokok jika sudah berkeluarga. Namun sayangnya masih banyak perokok baik yang masih single maupun berkeluarga yang tidak bertanggung jawab atas asap rokok yang mereka hasilkan.

Baca Juga  3W sebagai Wujud ‘Syukur’ Saat Pandemi
Dampak Asap Rokok pada Anak

Kebanyakan perokok susah untuk berhenti sampai dampak itu mengenai keluarga atau mereka sendiri. Tidak merokok di depan anak saja tidak cukup. Bahkan setelah merokok pun, asap rokok masih masih menempel lekat di pakaian dan tubuh manusia. Lalu dengan sadar mereka kontak fisik dengan anak, dan membuat anak sebagai perokok pasif rentan terkena penyakit. Penyakit yang sering terpapar akibat asap rokok adalah ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut. Asap rokok menyebabkan saluran pernapasan menjadi radang. Radang itu menyebabkan anak lebih mudah batuk, sesak napas, infeksi telinga, asma hingga pneumonia. Bahkan pada bayi dapat menyebabkan sindrom kematian mendadak (SIDS).

Lindungi Anak dengan Tegas pada Perokok

Jika upaya membuat perokok sadar telah kita lakukan namun mereka masih tidak bergeming. Tidak ada cara lain selain melindungi diri sendiri dan anak kita dari paparan asap rokok itu. Buatlah batasan yang jelas kepada perokok, juga berikan edukasi yang cukup pada anak. Biasanya, lebih mudah menjaga anak kita dari paparan asap rokok orang asing, justru dengan orang terdekat lah yang sulit. Terlebih saat ada acara keluarga, tidak jarang ada anggota keluarga yang merokok di sembarang tempat tanpa peduli ada anak-anak di sekitar, atau merokok di dalam ruangan. Kita sebagai orang tua haruslah bersikap tegas. Coba untuk diskusikan dengan orang yang bersangkutan. Namun jika masih tidak mempan, tidak apa-apa untuk membatasi pertemuan.

Jangan Normalisasikan

Jangan normalisasikan asap rokok bertebaran di udara. Menasehati perokok memanglah hal yang sulit. Namun jangan menyerah. Mulailah dari diri sendiri. Pertama, jangan menjadi perokok aktif. Kedua, jangan mau menjadi perokok pasif. Sepertinya ungkapan ”Lo yang berbuat, kenapa gua yang kena” harus kita gaungkan di sini. Kita bisa membuat batasan yang jelas pada perokok. Tunjukkan bahwa kita tidak nyaman dengan asap rokok. Kita bisa mengatakannya secara verbal dan non-verbal. Katakan secara langsung atau bisa tunjukkan dengan gestur menutup mulut, menggunakan masker, mengibaskan udara, batuk, atau dengan sindiran halus lainnya. Terus tunjukkan bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan dan berdampak buruk pada orang lain. Saya percaya bawa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Sedikit banyaknya pasti berdampak. Jadikan ini sebagai ikhtiar kita untuk mencipatakan lingkungan dengan tingkat kesehatan yang lebih baik di masa mendatang.

Baca Juga  Perempuan, Multitasking, dan Physical Distancing

Referensi: more than 100 reasons (who.int)

Bagikan
Post a Comment