Perlakuan Orang Tua dan Guru di Era New Normal
Oleh: Artha Pradhika*
New normal dianggap langkah efektif dalam mengatasi perkembangan pandemi Covid-19 yang sulit dibendung. Namun, pro dan kontra tentu saja muncul dengan berbagai dalih penguatan. Salah satunya ekonomi, yang dirasa menjadi alasan kuat ditetapkanya new normal.
Kita ketahui, saat ini memang aktivis ekonomi melambat, bahkan dapat mencapai titik lumpuh. Seperti bom waktu yang akan meledak dan menghancurkan tatanan ekonomi-sosial masyarakat. Disitulah dasar yang kuat untuk menyelenggarakan era baru yang disebut dengan new normal.
Ekonomi memang menjadi alasan logis untuk mengeksekusi new normal ini, namun dampaknya tetap saja ke berbagai bidang. Salah satunya sektor pendidikan, yang akan sangat bimbang dengan penerapannya.
Urgensi New Normal di Bidang Pendidikan
Sehingga pertanyaan mendasar muncul, mengenai implementasi new normal dalam sektor pendidikan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan keputusannya, nomor HK.01.07/MENKES/328/2020, tentang panduan pencegahan dan pengendalian Covid-19 di tempat kerja seperti perkantoran, industri atau tempat usaha lainnya. Lantas bagaimana sektor pendidikan?
Dalam aturan tersebut, tentu saja memuat protokol yang wajib dijalankan oleh pekerja atau perusahaan di dalamnya. Sangat sederhana, cukup memberikan pemahaman kepada pihak perusahaan dan lembaga. Barulah kemudian bisa diteruskan dengan sosialisasi kepada pekerja di dalamnya. Demikian pula dengan berbagai daerah/lembaga yang ingin menerapkan new normal.
Skema new normal dalam sektor pendidikan, perlu mempertimbangkan beberapa aspek. Mengingat anak menjadi elemen penting di sektor ini. Kita bisa ambil contoh dari negara lain, seperti Singapura, Jerman, dan Korea Selatan yang lebih dahulu menjalankan skema ini. Siswa dan mahasiswa menggunakan sistem rotasi, dan mengelaborasi dengan model dalam jaringan (daring).
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur misalnya, yang tetap melangsungkan tahun ajaran sesuai jadwal. Hanya saja, skema pembelajaran dibuat dengan cara shift. Penggabungan antara tatap muka dilakukan dengan standar protokol kesehatan dan daring. Seminggu menggunakan tatap muka dan seminggu daring secara bergantian.
Aspek Perkembangan Anak
Era new normal di sektor pendidikan harus memperhatikan banyak pertimbangan. Karena pada aspek ini, anak-anak juga harus mendapat pendampingan khusus, berikut juga bagi guru dan orang tuanya. Sehingga, sosialisasi terhadap orang tua, tenaga pendidikan dan siswa harus juga dilakukan secara masif.
Belum lagi, kebiasaan baru yang hadir di era new normal, akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Harlock mengatakan bahwa perkembangan adalah perubahan secara progresif yang diakibatkan oleh akibat interaksi atau pengalaman. Artinya, perkembangan anak dengan kebiasaan-kebiasaan baru tidak hanya berpengaruh terhadap fisik, namun juga psikologisnya.
Pemahaman ini juga perlu dibedakan untuk tingkatan jenjang pendidikan bagi siswa. Misalnya, jenjang SMA/SMK atau Universitas dapat dipahamkan dengan lebih mudah. Lain lagi dengan jenjang siswa yang baru menuju dewasa. Pun, untuk strata di bawahnya, harus mendapatkan perhatian ekstra.
Penerapan New Normal dengan Taksonomi Bloom
Peran orang tua dan guru begitu diperlukan dalam memahamkan kebiasaan-kebiasaan baru. Oleh karena itu, dalam penerapannya perlu pemahaman khusus terhadap 3 aspek. Ketiganya mengambil prinsip yang dikemukakan oleh Maria Montessori dan taksonomi-nya Benjami S. Bloom, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pertama, cognotive domain (ranah kognitif). Orang tua dan guru harus melihat dari segi kognitif anak, terutama memahamkan Covid-19 berikut cara mengantisipasinya. Bahasa komunikasi yang digunakan haruslah mudah untuk diterima sesuai dengan usia anak. Memahamkan kepada anak juga dapat dibantu dengan berbagai media, termasuk media visual.
Kedua, afektif domain (ranah afektif). Komunikasi yang dilakukan guru dan orang tua tentu saja tidak hanya berpengaruh terhadap pola pikir. Akan tetapi juga memperhatikan mental dan emosional anak. Tidak dipungkiri, seperti halnya orang dewasa, stimulus yang diterima dalam pikiran anak bisa menimbulkan kecemasan dan ketakutan dalam diri.
Di era new normal, akan banyak perubahan kebiasaan anak yang sifatnya signifikan. Penolakan yang timbul dalam diri anak, sebisa mungkin diantisipasi dengan memberikan ketenangan dan kenyamanan. Khususnya dalam proses memahamkan pengetahuan Covi-19 kepada anak.
Ketiga, psychomotor domain (ranah psikomotorik). Ranah ini lebih menekankan pada ketrampilan anak. Bentuknya dapat berupa perilaku-perilaku yang ditunjukan menghadapi era new normal. Aktivitas sebelum kehadiran Covid-19 dan sesudahnya jelas sangat berbeda. Maka dari itu, orang tua dan guru dapat menanamkannya dengan model pembiasaan hidup bersih dan sesuai protokol kesehatan. Cuci tangan, menggunakan masker, menjaga kebersihan, social distancing dan lain sebagainya. Tentu saja ini harus dibarengi dengan keteladanan, untuk pendidikan yang lebih efektif maksimal.
New Normal Harus Memperhatikan Tatanan Baru Yang Berkelanjutan
New Normal diharapkan tidak hanya mengacu pada tataran kebijakan saja, namun juga harus memperhatikan semua sektor, tak terkecuali pendidikan. Penerapan ini harapannya tidak sekedar menghambat laju penyebaran Covid-19. Namun juga, tentang bagaimana memelihara generasi bangsa di masa mendatang.
Apabila new normal tetap diberlakukan pada ruang sekolah. Upaya terbaik harus terus dilakukan oleh orang tua dan guru, khususnya lingkup sekolah menengah ke bawah. Pemahaman terhadap aspek yang disebutkan tadi semestinya dijalankan dengan baik, agar dapat membangun pemahaman mendasar tentang new normal dan Covid-19.
Anak/siswa mampu memahami tanpa memberikan dampak negatif terhadap mental dan emosional. Dibarengi dengan pembiasaan pola hidup sehat yang sesuai dengan protokol kesehatan. Dengan begitu, anak mampu berkembang dengan optimal. Sehingga nantinya, dapat pula menciptakan tatanan hidup sehat selama new normal yang berkelanjutan.
*Penulis adalah Alumnus Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Staf Pengajar di SD N 1 Argoyuwono Ampelgading Kab. Malang Jawa Timur.
