f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
guru

Kurangi Penggunaan Smartphone dengan Outbond Sederhana

Smartphone di era digital seperti sekarang ini telah menjadi “dewa” bagi seluruh lapisan usia di masyarakat, tak terkecuali anak-anak dan bahkan balita. Akibat terlalu sering melihat orang tuanya berinteraksi dengan smartphone, anak-anak akhirnya melakukan hal yang sama.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh James Baldwin, bahwa anak-anak tidak pernah mau mendengarkan nasihat yang dituturkan orang tua. Tetapi anak-anak juga tidak pernah gagal untuk meniru setiap tingkah laku yang dilihatnya dari orang yang lebih tua. Jika orang tua terlalu sering mempertontonkan aktivitasnya untuk menggunakan smartphone, maka anakpun juga akan mencontoh hal yang sama. Mereka pun ingin selalu berinteraksi dengan kotak ajaib yang berisi banyak hal menyenangkan tersebut.

Karenanya, tak jarang terlihat pemandangan seorang anak berusaha merebut dan meminta smartphone dari tangan ayah atau ibunya. Jika ibu dan ayahnya tak kunjung mengabulkan, mereka kemudian akan mengeluarkan jurus andalannya: menangis! Jika sudah begitu, maka menurut yang saya amati, orang tua akan dengan mudah memberikan smartphone yang sedang dipegangnya. Mengingat orang tua tentu tidak mau kerepotan dengan tangis anaknya, terutama jika sedang berada di tempat umum. Dengan alasan yang sama, orang tua akhirnya memberikan smartphone secara mandiri kepada anak. Meskipun pada dasarnya anak belum pantas dan belum membutuhkan smartphone tersebut untuk kebutuhan sehari – harinya.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Seperti halnya kata pepatah bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, maka hal yang sama seharusnya juga dilakukan oleh orang tua untuk masalah smartphone ini. Orang tua hendaknya menggunakan smartphone saat tidak sedang bersama anak, sehingga anak tidak kepincut untuk juga memegang dan menggunakannya. Orang tua tidak perlu khawatir bahwa jika tanpa smartphone nantinya anak akan bosan dan menangis, karena smartphone dapat diganti dengan berbagai alternatif lainnya. Seperti berkebun, berolahraga, gotong royong membersihkan rumah, hingga melakukan outbond sederhana.

Baca Juga  Layangan Putus: Perlindungan untuk Pemain Anak

Salah satu yang dapat orang tua lakukan secara langsung dengan piranti yang murah meriah dan tersedia di lingkungan adalah dengan melakukan outbond sederhana. Tak perlu dipikirkan bahwa outbond harus dengan permainan yang banyak menghabiskan alat dan bahan yang rumit dan mahal. Arena outbond juga bisa dilakukan dengan sederhana dengan memanfaatkan apa yang telah tersedia di alam.

Contohnya yaitu dapat dengan permainan tradisional seperti engklek; dakon; petak umpet; tembak-tembakan; tebak nama benda dalam bahasa asing; hingga mengumpulkan sampah dan memilahnya menjadi sampah organik dan non-organik, setelah itu mengolahnya menjadi pupuk kompos dan kerajinan tangan. Dengan melakukan modifikasi dan kreasi pada beberapa permainan dan kegiatan tersebut, anak tentu tidak bosan dan tertantang untuk mengikutinya.

Mulai dengan Outbond Sederhana

Orang tua dapat memberlakukan sistem reward and punishment untuk setiap “kemenangan” dan “kekalahan” anak. Orang tua dapat mencontoh penyelenggara kegiatan outbond yang telah profesional dalam melakukannya. Misalnya yaitu dengan memberikan makanan ringan kepada anak yang telah berhasil mencapai target dan memberikan coretan di wajah pada anak yang gagal menjalankan misi.

Dengan begitu, akan terjalin komunikasi dua arah. Di mana anak juga ikut merespon dan menggerakkan seluruh otot-otot tubuhnya serta memutar otak dan memikirkan strategi agar dapat memenangkan permainan. Sehingga kemampuan psikomotoriknya juga akan ikut terasah. Hal ini tentu berbeda dengan smartphone yang hanya memberikan komunikasi satu arah, di mana anak hanya duduk terdiam dan melihat apa yang ditontonkan. Sehingga akan akan malas untuk bergerak. Akibatnya, kemampuan psikomotorik anak akan sulit untuk terasah, bahkan juga akan menimbulkan dampak lain. Seperti sikap anti sosial manakala seorang anak hanya berkutat pada smartphonenya dan tidak mau bersosialisasi dengan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Baca Juga  Perawat dan Masa Depan Edukasi Seks bagi Anak

Maka dari itu, outbond sederhana di luar rumah dengan ide-ide sederhana buatan orang tua sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi anak. Terlebih di saat masa pandemi ini. Siswa sudah terlalu banyak berhadapan dengan smartphone karena pembelajaran dilakukan secara daring. Dan sebaiknya tidak diperparah dengan penggunaan-penggunaan lain seperti bermain game maupun sosial media secara berlebihan.

*Pertama kali dimuat pada hari Senin, 20 Juli 2020 di Opini Koran Radar Selatan

Bagikan
Post tags:
Post a Comment