f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendidikan reproduksi

Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi Sejak Dini

Maraknya kasus kekerasan seksual kepada anak-anak beberapa waktu terakhir, cukup menyita perhatian masyarakat. Tidak sedikit tindakan-tindakan asusila tersebut dilakukan oleh orang terdekat. Tanpa adanya pemahaman mengenai pendidikan seksual, anak akan sulit untuk melawan perlakuan menyimpang tersebut. Sayangnya, masih banyak orang tua dan masyarakat yang merasa tabu dan apatis untuk membicarakan pendidikan kesehatan reproduksi kepada anak.

Dilansir dari BKKBN, hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2012 mengungkapkan bahwa angka kehamilan remaja pada usia 15-19 tahun mencapai 48 dari 1.000 kehamilan. Tingginya angka kehamilan remaja ini menjadi salah satu penyumbang jumlah kematian ibu dan bayi di Indonesia.

Menurut data Infodatin HIV/AIDS Kemenkes RI, tingkat kejadian HIV pada usia 15-24 tahun mencapai hingga 4,400 kasus pada tahun 2014. Berdasarkan faktor risiko, hubungan seksual antar pria dan wanita tanpa pengaman tergolong sebagai penyebab utama dari infeksi HIV sepanjang lima tahun terakhir. Pada tahun 2015, infeksi HIV akibat seks penetrasi vagina yang tidak aman mencapai 46,2 persen.

Masih minimnya pendidikan kesehatan reproduksi pada anak di Indonesia saat ini merupakan masalah yang sangat pelik. Adat ketimuran yang kental ditambah dengan unsur agama yang ketat membuat sebagian besar orang menganggap pendidikan kesehatan reproduksi adalah hal yang tabu. Padahal, membekali anak dengan pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) yang memadai sangat krusial untuk membantu anak memahami batas-batas norma sehingga melindunginya dari resiko pelecehan hingga penyimpangan seksual.

Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bukanlah Pornografi.

Sayangnya, hingga saat ini pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah terus ditolak oleh banyak pihak. Alasannya, pendidikan kesehatan reproduksi dicurigai sebagai kegiatan kontraproduktif dan mengarah pada pornografi. Padahal, minimnya akses formal terhadap hal tersebut di Indonesia membuat anak dan remaja cenderung untuk memuaskan rasa ingin tahunya melalui saluran lain, seperti internet, film porno, dan teman sebaya yang pada umumnya tidak tepat dan bisa jadi berbahaya.

Peran orang tua sangat dibutuhkan sebagai pendidik utama anak, untuk melibatkan mereka dalam diskusi seksualitas dan kesehatan reproduksi. Ketika orang tua berbicara tentang seksualitas dengan anak-anak mereka, orang tua bisa memastikan bahwa informasi yang mereka dapatkan adalah informasi yang tepat. Orang tua harus menjadi sumber pertama anak mengenai kesehatan reproduksi.

Rasa penasaran mengenai seputar kesehatan reproduksi adalah langkah alami dari pertumbuhan anak untuk belajar tentang tubuhnya. Pendidikan kespro membantu anak untuk lebih memahami tentang tubuh dan membantu mereka mencintai tubuh mereka sendiri. Mendiskusikan seksualitas merupakan bagian penting dari komunikasi terbuka dengan anak. Komunikasi terbuka yang dilakukan sejak dini; sikap jujur antara orang tua dengan anak adalah penting, terutama saat mereka beranjak remaja.

Orang Tua Berdiskusi dengan Anak Pengetahuan Seputar Kespro

Pendidikan kespro juga memberikan kesempatan bagi para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai keluarga. Misalnya, jika keluarga percaya bahwa hubungan seksual harus diakukan setelah menikah; ini dapat dijadikan topik diskusi dari pembicaraan orang tua dengan anak. Jika hal-hal seperti ini tidak pernah didiskusikan sebelumnya, ada kemungkinan besar bahwa anak remaja tidak akan menerima pesan ini. Riset menunjukkan bahwa anak-anak yang sudah mendapatkan pendidikan kespro di rumah dari orang tuanya cenderung untuk tidak terlibat dalam perilaku seksual berisiko.

Saat membicarakan tentang seks dengan anak, pastikan bahwa diskusi tersebut sesuai dengan umur mereka. Jelaskan topik dengan bahasa yang sederhana agar anak paham, dan jangan pula langsung memberikan “kuliah umum” dengan berbagai topik dalam satu waktu sekaligus. Anak-anak cenderung menunjukkan rasa penasaran mereka terhadap kehamilan dan bagaimana bayi dibuat, dibanding dengan mekanisme seks itu sendiri.

Sejak kecil, anak sudah harus bisa mengetahui dan membedakan bagian tubuh, termasuk genitalia. Hindari penamaan ambigu seperti “anu” ataupun lainnya untuk membantu anak belajar memahami tubuhnya sendiri; agar mereka bisa mengidentifikasi masalah dengan tepat saat ketika orang tua mencurigai adanya kekerasan seksual yang terjadi pada anak. Jadi, gunakan istilah yang benar sejak awal: payudara, dada, puting, penis, vulva, vagina, testis.

Beda Umur, Beda Cara menyampaikan.

Saat berbicara dengan anak remaja, sampaikan tidak hanya fakta dan informasi seputar seksualitas, namun juga perasaan, pendapat, dan sikap mengenai isu-isu tertentu, seperti seks oral atau isu-isu seksualitas secara umum, sesuai dengan konteks nilai keluarga, agama, atau personal. Beri tahukan risiko dari setiap kondisi secara objektif, termasuk dari sisi emosional, infeksi menular, dan kehamilan tidak diinginkan.

Jika anak remaja menonton film porno, jangan panik. Jangan pula memarahinya. Gunakan kesempatan ini sebagai pembuka diskusi mengenai apa saja yang telah ia lihat dan sampaikan padanya bahwa penasaran tentang seks itu adalah hal yang lumrah. Sebagai orang tua, diwajibkan untuk menggunakan kesempatan ini untuk meluruskan ‘fantasi’ dan risiko dunia nyata yang mungkin terjadi dari film-film porno, dan bahwa seks adalah hal personal dan privat bagi orang dewasa.

Berbagai faktor seperti tekanan teman sebaya, rasa ingin tahu dan kesepian, misalnya, mengarahkan beberapa remaja dalam aktivitas seksual dini. Tapi, tidak usak usah terburu-buru. Ingatkan kepada anak-anak bahwa seks adalah perilaku orang dewasa. Sampai saat itu, masih banyak cara lain untuk mengekspresikan kasih sayang.

Jelaskan pula bahwa tidak ada seorang pun yang harus merasa diwajibkan untuk berhubungan seks atas dasar paksaan atau ketakutan. Segala macam seks atas dasar paksaan adalah bentuk pemerkosaan, tidak peduli pelaku adalah orang asing maupun yang mereka kenal baik. Selalu tekankan pada anak-anak bahwa tidak adalah tidak, dan pengaruh alkohol maupun obat-obatan akan merusak kemampuannya dalam mengambil keputusan soal seks, dan bisa berujung pada kekerasan seksual.

Jadi, sudah tidak ada alasan lagi untuk menunda pendidikan kespro untuk anak. Hal ini menjadi sangat penting d itengah gejolak pergaulan anak-anak dan remaja yang semakin mengkhawatirkan. Lebih baik mencegah daripada menyesal di kemudian hari.

Bagikan
Post a Comment