f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu

Ibu Pekerja dan Stunting pada Anak

Sepanjang jalan menuju pasar terdapat begitu banyak warga yang membersihkan masjid. Terdengar alunan musik bernuansa islami dari berbagai corong mikrofon menyapaku di sepanjang jalan. Ramadan mubarak itu akan tiba. Begitulah sapaan untuk tamu mulia ini. Satu tahun lamanya penantian bulan yang penuh dengan keberkahan. Tentu penyambutan untuk kedatangan bulan Ramadan ini juga luar biasa.

Motor ini seakan tahu tujuannya hendak ke mana. Sesampainya di tempat keramaian yang khas dengan bau amisnya, dengan lancarnya aku memarkirkan motor. Padahal belum lama rasanya  menikmati jalanan dan khayalan dengan nuansa Ramadan.

Ibu paruh baya penjual bumbu menjadi tempat pertama yang kutuju. Bumbu gulai ikan dan santan segera aku dapatkan di sana. Bumbu yang dikemasnya tanpa tambahan penyedap rasa. Ini sudah menjadi pilihan utamaku. Terlalu banyak masakan penuh micin di sini membuat aku cukup selektif dalam memilih menu masakan. Hal itu merupakan salah satu alasan yang membuat aku tetap konsisten untuk memasak.

Pura-pura Gaptek atau Pesan Makanan via Online?

Pekerjaan sebagai wanita karir memang sungguh melelahkan. Akan tetapi kembali lagi, kita yang memilih untuk menjadi wanita pekerja jadi kita juga harus punya solusi ketika menghadapi kelelahan itu. Big NO untuk mengedepankan ego kelelahan akan tetapi anak tidak cukup asupan yang bergizi. Kita berada di zaman yang butuh sesuatu tinggal pencet, tapi aku termasuk orang tua yang pura-pura gaptek akan hal itu.

Berpura-pura gaptek seolah olah membuka aplikasi pesanan instan tersebut merupakan hal yang sulit bagiku. Di saat teman-teman banyak mengajariku mau makan tinggal pesan online sudah beres. Di saat itu juga aku memilih untuk memasak lebih baik. Aku hanya butuh sekali masak sudah bisa makan untuk sehari. Kapan pun aku merasa lapar, hanya tinggal buka kotak bekal.

Baca Juga  Perlukah Mengenalkan Rasa Bersalah dan Penyesalan Sedini Mungkin?

Beda dengan pesanan online di saat perut sudah keroncong kemayoran, aku harus menunggu beberapa saat dari penyajian restoran hingga pengantaran oleh kurirnya. Cukup menyita waktu. Mungkin inilah pemikiran pura-pura gaptek alias kuno yang akan aku pelihara sampai kapan pun.

Menyiapkan Bahan Masakan Bukan Perkara Sulit

Sambil menenteng bumbu yang sudah ku beli, aku berjalan menuju hamparan ikan-ikan. Kupilih beberapa jenis ikan untuk menghiasi kulkas satu minggu ke depan. Udang, teri, tahu, tempe, cabai dan teman gilingannya, serta sayur mayur untuk di olah juga tak lupa kubeli.

Satu jam merupakan waktu yang sangat cukup bagiku untuk menjelajahi pasar tersebut. Tidak butuh waktu lama untuk membawa tentengan belanjaan sampai di rumah.

Berbagai macam belanjaan kubuka satu per satu. Ikan dan udang segera kubersihkan dan kubumbui. Cukup dengan memberikan jeruk nipis dan garam sudah bisa disimpan di freezer. Sebelum di tata rapi di kulkas, kuraih kain bersih untuk membersihkan kulkas. “Sambil mendayung, dua tiga pulau terlampaui”. Peribahasa yang semakin aku pahami ketika aku sudah menjadi seorang Ibu.

Tahu yang dari tadi terlihat ingin menyapa untuk diperhatikan, kumasukkan ke dalam panci berisi air, segera kurebus ditaburi sedikit garam. Ini juga solusi agar lebih tahan lama ketika di tata di dalam kulkas.

Cabai dan teman seperjuangannya ku bersihkan dan di blend hingga halus. Sudah halus, langsung kumasukkan ke penggorengan. Cabai yang di goreng setengah masak ini membuatnya jauh lebih awet ketika di tata di dalam kulkas. Begitulah salah satu solusi dari aku untuk bisa konsisten menyajikan makanan keluarga dengan masakan sendiri.

Inilah metode yang aku lakukan sebagai ibu pekerja. Tentunya 5 hari kerja atau bahkan lebih sangat menyita waktu aku di luar rumah. Hari libur selalu aku sempatkan untuk berbelanja bahan makanan. Dan tiap harinya kuutamakan waktu di rumah untuk mengolah makanan dengan masak sendiri daripada berselancar mengutak-atik handphone.

Dengan begitu aku jadi ikut berkecimpung untuk menurunkan angka stunting saat ini. Untuk ikut berkecimpung terhadap kecerdasan anak. Untuk ikut terjun melahirkan anak cerdas dan jauh dari kata stunting. Ya, stunting menjadi buah bibir akhir-akhir ini.

Baca Juga  Lima Hal Penting Ketika Mengizinkan Anak-Anak “Mondok” Pada Masa Pandemi
Stunting dan Peran Ibu Pekerja

Stunting merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian pemerintah saat ini. Penderita stunting tidak hanya gagal tumbuh tapi berpengaruh terhadap kecerdasannya. Menurut penelitian Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpAK, anak yang mengalami gizi buruk di bawah usia satu tahun, 25 persen dari mereka berisiko memiliki tingkat kecerdasan di bawah 70, dan 40 persen lainnya berisiko memiliki IQ antara 71-90.

Sementara anak normal atau rata-rata memiliki IQ 85-115. Siapa yang tidak ingin memiliki anak dengan IQ yang tinggi.

Tingkat IQ anak dengan gizi buruk berdampak pada terganggunya kemampuan akademis mereka. Ketidakmampuan pada otak ini dapat terjadi karena pola makan yang salah, yakni tidak mengandung lemak, karbohidrat dan protein hewani. Begitulah kata dr. Damayanti.

Begitu juga untuk meningkatkan IQ-nya. Maka, hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian stunting ini adalah dengan memastikan terpenuhinya kebutuhan nutrisi anak. Dokter Damayanti juga mengingatkan orang tua untuk mencukupi nutrisi anak hingga usia dua tahun karena dampak yang irreversible atau tidak bisa diubah lagi.

Sangat penting asupan nutrisi anak. Kalau bukan kita Ibunya, siapa lagi yang akan memperhatikan anak kita.

Jadilah ibu pekerja yang tidak mau kalah dengan kemajuan tumbuh kembang anak yang memiliki waktu lebih banyak bersama orangtua mereka. Kita bekerja untuk apalagi kalau bukan untuk masa depan mereka. Maka kita mulai menjaga masa depan mereka sejak dini.

Tidak ada yang salah dengan wanita yang memilih untuk mengisi waktunya dengan bekerja di luar. Akan tetapi akan salah seorang wanita tersebut jika ia lupa dengan tugas utamanya. Ibu. Satu kata berjuta makna. Itulah tugas utama yang harus diingat seorang wanita ketika sudah menjadi orang tua.

Baca Juga  Membangun Rumah Tangga dengan Harmonis

Penulis: Jemirda Sundari Y

Editor: Nur Laila Oktavianingrum

Bagikan
Post a Comment