f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
generasi z

Tafsir Al-Insyirah untuk Generasi Z

Berdasarkan survei dengan judul Deloitte Global 2022 Gen Z dan Millenial Survey menyebutkan ada beberapa sumber kekhawatiran yang Generasi Z alami. Generasi Z yang lahir pada kisaran tahun 1996-2012 memiliki beberapa sumber kekhawatiran, di antaranya; biaya hidup 29%, krisis iklim 24%, kehilangan pekerjaan 20%, kesehatan mental 19%, dan kekerasan seksual 17%. (Deloitte, 2022).

Dampak Khawatir yang Berlebihan

Ragam kekhawatiran itu mengantarkan Generasi Z pada kehidupan yang mereka jalani dengan tergesa-gesa, keliru, dan tidak sedikit yang menyimpang.

Ada di antara Generasi Z yang menjalani hidup dengan sangat kaku dan ambis. Mereka hilir mudik mengikuti kegiatan yang mereka pikir dapat menghindarkan diri dari segala kecemasan dalam hidup. Namun, pada akhirnya mereka hanya mendapatkan kelelahan karena terlalu banyak berkegiatan.

Adapula di antara generasi muda itu yang tidak dapat membendung kekhawatiran. Akhirnya, dengan pikiran yang pendek dan sikap kebinatangan. Mereka berubah menjadi manusia yang kehilangan fitrahnya sebagai makhluk yang baik (ahsan taqwim).

Mereka berbuat kriminal. Mencuri hak orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka menjadi pemerkosa dan pelaku pelecehan seksual karena tidak dapat menahan nafsu hewaninya. Mereka rela berbohong, pragmatis, dan egois hanya untuk memenuhi hasrat pribadi.

Kondisi yang Mengenaskan

Beginilah kondisi kita hari ini, generasi muda yang dicanang-canangkan dapat menjadi penerus bangsa. Generasi yang punya kecerdasan dan kreativitas tinggi. Melek digital dan paham teknologi.

Jauh panggang dari api, ternyata kita sedang terjangkit penyakit yang serius. Kita lahir menjadi tuan bagi ibu kita sendiri, menjadi malin kundang bagi emak kita sendiri, menjadi generasi yang kehilangan moral, spiritual, dan kepercayaan diri untuk dapat menjalani hidup dengan baik serta kebaikan.

Kita tidak mampu bertindak moderat (tengahan) dalam hidup. Menjadi wasit dalam perkembangan dunia untuk menghambat orang lain terjerumus dalam pahitnya realitas ataupun menjadi antithesis bagi mereka yang merespon kekhawatiran hidup dengan sikap yang negatif.

Baca Juga  Menemukan Ketenangan Batin Melalui Bacaan Al-Qur'an
Memaknai Surat al-Insyirah 1-8

Di atas permasalahan yang berkelindan itu, kiranya kita perlu memaknai kembali Q.S Al-Insyirah ayat 1-8. Surat ini dapat kita jadikan landasan epistemologis-transenden dalam menghadapi rumitnya kehidupan. Surat yang memiliki arti, “Melapangkan” ini memiliki terjemahan sebagai berikut.

“(1)Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (2) Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, (3) Yang memberatkan punggungmu? (4) Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. (5) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (6) sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (7) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (8) Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Surat Al-Insyirah ini diturunkan oleh Allah Swt. pada saat Nabi Muhammad Saw. mengalami banyak masalah dalam kehidupan dan khususnya tugas dakwah yang dia emban selama masih di Kota Mekah. Pada pembuka surat, Allah Swt. mengingatkan kembali Nabi Muhammad Swt. atas peristiwa pembelahan dadanya. Di mana ada dua Malaikat yang mengangkat penyakit iri dan dengki. Lalu, dimasukkanlah ke dalam hatinya segala sifat-sifat yang baik. Lemah lembut dan kasih sayang (Prinada, 2022).

Penegasan yang dilakukan oleh Allah Swt. di awal surat ini untuk memuliakan Nabi Muhammad Saw. Bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah sosok baik yang tidak boleh bersedih. Ketika berdakwah di Mekkah, tidak sedikit cobaan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw. Celaan, cacian, makian, hinaan, dan bahkan kekerasan telah menjadi makanan sehari-hari beliau dalam berdakwah.

Pesan yang Dapat Kita Petik

Setidaknya beberapa poin penting ini dapat kita jadikan catatan, lalu kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, hidup damai dan tenang. Ayat 1-4 mengajarkan kita agar hidup dengan berlapang dada, lemah lembut, dan penuh kasih sayang. Sebab dengan cara seperti itulah nanti kita dapat menjadi insan kamil (manusia sempurna). Meskipun predikat insan kamil itu hanya dimiliki oleh Rasulullah Saw.

Baca Juga  Ubah Gaya Hedonisme dengan Pola Hidup Sehat Islami

Dalam filsafat barat, F.W Nietzsche juga menerangkan bagaimana manusia harus memiliki kehendak untuk merdeka (will to power) atas dirinya sendiri dengan cara mencintai takdir hidupnya, atau yang disebut dengan amorfati (mencintai takdir).

Ketika manusia telah punya otoritas atas dirinya sendiri dengan mencintai takdir hidupnya. Maka di sanalah manusia akan menjalani hidup dengan damai dan tenang. Atau dalam filsafat F.W Nietzsche disebut dengan Ubermensch (manusia super) (Jaya, 2022).

Lebih jauh lagi dari itu, Filsafat Stoik yang Zeno bawa mengajarkan kita mengelola emosi dan mengontrol diri. Filsafat Stoik Zeno mengajarkan kita untuk dapat hidup damai dan tenang melalui dikotomi kontrol. Meyakini bahwa ada hal internal dari diri yang dapat kita kontrol dan hal eksternal dari diri yang tidak dapat kita kendalikan. (Manampiring, 2018).

Kedua, percaya bahwa pasti ada solusi atas semua masalah. Serumit apapun masalah yang kita hadapi, pasti akan ada solusinya. Begitulah ayat 5-6 dari surat ini menekankan bahwa setelah kesusahan pasti akan kemudahan. Bahkan surat ini mengulang hal itu sebanyak dua kali, yang tentunya sebagai penekanan.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita harus menyadari bahwa kita adalah hamba dari Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang termaktub dalam Q.S Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah Swt. tidak akan pernah membebani seorang hamba, kecuali di atas kemampuannya.

Masalah yang Allah Swt. berikan adalah nikmat dan rezeki dalam bentuk yang berbeda. Sebab, dengan masalah itulah kita akan mendapatkan banyak pembelajaran. Semakin banyak menyelesaikan masalah dalam kehidupan, maka semakin berkembang daya kreatif kita sebagai manusia. Oleh karena itu, kita harus tetap berusaha mencari solusi atas setiap masalah yang kita hadapi.

Baca Juga  Jilbab: Penjaga Kesopanan dan Kehormatan Perempuan Muslim

Ketiga, produktif dan berkarya tipis-tipis. Pada ayat ke-7 Allah Swt. menjelaskan bagaimana kita harus menjalani kehidupan secara bertahap. Mengerjakan satu pekerjaan, lalu jika telah selesai baru beranjak kepada pekerjaan lainnya.

Dalam hal inilah kita bisa melihat bagaimana pentingnya memaksimalkan setiap langkah dan proses yang kita tempuh dalam kehidupan. Sebab, Allah lebih menyukai amal manusia yang serius dari pada yang asal-asalan dengan pekerjaan yang jumlahnya banyak. Konsisten pada kualitas, bukan kuantitas.

Keempat. kembalikan semuanya kepada Allah. Pada akhirnya, di ayat ke-8 Allah Swt. mengingatkan kita kembali bahwa segala sesuatu yang kita miliki dan usahakan di dunia ini adalah milik Allah S.W.T. Hanya kepada Allah lah kita mengembalikan semuanya. Memasrahkan hasilnya kepada Allah S.W.T sebagai Tuhan yang Maha Memiliki.

Rujukan

Deloitte. (2022). The Deloitte Global 2022 Gen Z and Millennial Survey. Retrieved from deloitte.com: https://www.deloitte.com/global/en/issues/work/genzmillennialsurvey-2022.html

Jaya, P. B. (2022). Takdir dan Ketuhanan dalam Aforisme Sehari-hari: Pandangan Nietzsche dan Spinoza. ResearchGate, 5.

Manampiring, H. (2018). Filosofi Teras. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Prinada, Y. (2022, Desember 27). Asbabun Nuzul Surat Al-Insyirah Lengkap dengan Terjemahan. Retrieved from tirto.id: https://tirto.id/asbabun-nuzul-surat-al-insyirah-lengkap-dengan-terjemahan-gz6A

Bagikan
Post tags:
Post a Comment