Bagaimana Jika Seorang Ibu Tidak Cerdas?
Oleh : Elvara Norma Aroyandini*
“Mendidik anak tidak dimulai saat mengandung, tetapi dimulai saat memilih pasangan”. Ungkapan ini barangkali tidak lagi asing di telinga kita dewasa ini. Bagi laki-laki, Salah satu yang menjadi prioritas selain agama, harta, nasab, dan kecantikan adalah juga kecerdasan. Hal ini karena menurut beberapa penelitian, dikabarkan bahwa kecerdasan anak diturunkan dari ibunya. Tentu, orang tua menginginkan anak-anaknya kelak menjadi orang cerdas dan sukses di masa depannya. Jika sepenuhnya mengikuti hasil penelitian ini, maka bagaimanakah nasib seorang wanita yang tidak cerdas? Apakah kemudian mereka tak layak untuk menjadi ibu?
Tinjauan Biologis
Sebelum memberikan judgement tentang layak atau tidak layaknya seorang wanita menjadi ibu. Ada baiknya kita lihat kembali tentang hasil penelitian ahli yang membahas tentang hal ini. Sebagaimana dilansir dari thejakartapost.com, pembahasan ini dimulai ketika situs microblogging Sina Weibo menyebutkan bahwa genetik ibu berpengaruh tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan genetika ayah. Sehingga bagi calon ayah yang merasa dirinya tidak cerdas disarankan untuk mencari pendamping yang jauh lebih cerdas. Sehingga nantinya anaknya akan menjadi cerdas seperti sang ibu. Setelah pernyataan Weibo ini, kemudian banyak ahli memberikan pendapat, baik yang pro maupun yang kontra.
Diantara pihak yang kontra dengan pernyataan Weibo tersebut adalah Xu Gelin. Seorang dokter spesialis neurologi di Rumah Sakit Umum Nanjing Komenado Militer Nanjing yang menyatakan bahwa pewarisan genetik sangat random dan kompleks. Karena itu, bisa jadi orang tua memberikan tingkat pengaruh yang berbeda-beda. Sehingga dapat terjadi kecerdasan anak berada pada median antara kecerdasan ibu dan ayah atau kemungkinan-kemungkinan lainnya yang tidak selalu mengikuti kecerdasan ibu sebagaimana yang disebutkan oleh Weibo.
Selain itu, Dr. Rachel Brouwer dari Departement Pskiatri Pusat Medis Universitas Utrecht, Belanda juga menyatakan bahwa memprediksi IQ anak dari IQ orang tuanya dapat dilakukan. Tetapi hasilnya tidak absolut karena yang terjadi bisa saja sebaliknya dimana orang tua yang tidak cerdas justru melahirkan anak-anak jenius. Hal ini karena kecerdasan seseorang dalam tumbuh kembangnya juga dipengaruhi oleh faktor lain. Seperti faktor lingkungan, serta kekuatan minat dan kemauan dalam diri anak. Sementara faktor keturunan sendiri menurut studi yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Queensland pada tahun 2013 hanya berkontribusi sekitar 20 hingga 40 persen.
Persepsi yang Salah tentang “Kecerdasan”
Terlepas dari benar dan tidaknya pernyataan Weibo, yang terlebih dahulu harus dipahami adalah tentang kecerdasan itu sendiri. Masyarakat dalam hal ini mengartikan kecerdasan sebagai kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotient (IQ). Sementara, kecerdasan sebenarnya tidak hanya terbatas pada IQ, tetapi juga kecerdasan emosional, spiritual, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan berbagai jenis kecerdasan lainnya.
Sehingga barangkali Allah SWT memberikan kelemahan pada kecerdasan intelektualnuya, tetapi ini tidak berarti ibu juga lemah dalam semua jenis kecerdasan tersebut, bukan?. Allah SWT melahirkan manusia ke dunia tentu dilengkapi dengan minimal satu kekuatan yang membuatnya mampu untuk survive dalam hidup di dunia ini. Terlebih, manusia diberikan tugas yang amat berat berupa menjadi seorang khalifah di bumi. Bersama itu Allah SWT juga menyiapkan bekal berupa kecerdasan yang cukup kuat, agar manusia mampu menjalankan perannya dengan semaksimal mungkin.
Seorang ibu yang merupakan tonggak kuatnya peradaban misalnya, dalam mendidik anaknya ibu tidak hanya cukup dengan memiliki kecerdasan intelektual yang hebat. Ibu harus memiliki kecerdasan emosional yang stabil, sehingga mampu mengendalikan diri saat menghadapi anak-anaknya dengan berbagai tingkah yang seringkali cenderungmerepotkan.
Ibu juga harus memiliki kecerdasan spiritual sehingga mampu mengarahkan anaknya untuk dapat menggenggam dunia. Tetapi Akhirat tetap berada di hatinya dan menjadi tujuan utamanya. Ibu mampu menjadi tiang kuatnya keluarga yang kemudian dalam skala besar menjadi tiang kuatnya suatu negara, karena selalu membekali anak-anaknya dengan kuatnya keimanan, ketaqwaan, serta akhlakul karimah. Semua kecerdasan tersebut dalam banyak kesempatan justru menjadi kecerdasan yang paling dibutuhkan ibu dalam proses mendidik anak daripada kecerdasan intelektual.
Anak adalah Titipan Allah SWT
Terakhir, yang juga perlu diingat oleh orangtua adalah bahwa anak bukanlah milik orangtua, tetapi hanya titipan Allah SWT untuk dididik selama berada di dunia. Jika kemudian ibu yang merasa dirinya tidak cerdas dan takut nantinya akan melahirkan anak-anak yang tidak cerdas pula sehingga khawatir akan mengalami kesulitan hidup di dunia. Maka persepsi ini menjadi kurang tepat.
Selain karena berbagai alasan yang telah dijelaskan sebelumnya, ibu juga harus meyakini bahwa anak-anak itu adalah milik Allah SWT. Sehingga Allah-lah yang akan membesarkan dan menjamin seluruh aspek kehidupannya di dunia, termasuk tentang bagaimana nantinya ia akan memperoleh rezeki. Karena sebagaimana telah kita amati sendiri di masyarakat, bahwa kecerdasan intelektual bukan satu-satunya penentu kesuksesan. Banyak orang-orang sukses yang bahkan tidak mengenyam pendidikan di bangku sekolah atau kuliah.
Tugas utama orangtua, entah dengan kecerdasan yang bagaimanapun adalah selalu memberikan arahan agar anak-anak tetap berada di jalan Allah serta memberikan dukungan semaksimal yang dapat dilakukan. Hal itu agar anak dapat menatap masa depannya dengan penuh rasa percaya diri. Ibu dan ayah dalam hal ini harus mengerahkan dan memaksimalkan segala potensi yang mereka miliki untuk dapat mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Selebihnya, akan menjadi seperti apa anak-anak tersebut nantinya, orang tua hanya mampu memasrahkan semuanya kepada Allah SWT.
Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa kecerdasan IQ bukan satu-satunya kecerdasan yang harus dimiliki ibu. Dimana kelak akan ikut menentukan masa depan anak. Sehingga orangtua, khususnya ibu harus percaya diri dan mamaksimalkan segala potensi kecerdasan yang Allah titipkan kepadanya. Hal itu berkaitan dalam usaha mendidik anak-anaknya menjadi anak sholih atausholihah yang meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat. Terkait hasil, orangtua hendaknya bertawakal kepada Allah SWT yang merupakan pemilik sejati anak tersebut. (s)
*) Penulis merupakan mahasiswa pascasarjana UNY yang pada tahun kepengurusan 2018/2019 diamanahkan menjadi Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kabupaten Sleman.

Penulis merupakan mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Biologi UNY dan Anggota Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Sleman 2018-2019

Sendika Harrista
Masya Allah, aku baru tau ttng ini😅hehe,,, Terimakasih Mba ilmu nya