Menyiapkan Bekal Akhirat dan Dunia untuk Anak
Salah satu kewajiban bagi orang tua yang telah diamanahkan oleh Allah berupa keturunan adalah mendidik keturunan mereka sesuai dengan tuntunan-Nya. Layaknya suatu tabungan, hasil didikan orang tua akan dipanen di kemudian hari, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Di dunia, saat anak-anak dahulunya dididik dengan semangat keIslaman, maka kelak insyaallah anak juga akan menjadi pribadi yang sholih dan sholihah, tunduk kepada penciptanya, taat kepada kedua orang tuanya, berakhlakul karimah dalam setiap perbuatannya, serta berbagai tindakan baik dalam kesehariannya. Sebaliknya, jika orang tua “mengisi” anak- anaknya dengan hal-hal yang kurang baik, maka akan jadi seperi itulah anak-anak di masa depannya. Secara umum, terdapat 2 jenis bekal yang harus dipersiapkan orang tua dalam mendidik anak-anaknya, yaitu bekal dunia dan bekal akhirat.
Jika dilihat dari antusiasme orang tua dalam memberikan bekal untuk anak-anak mereka, setidaknya terdapat 4 tipe orang tua. Pertama dan yang paling utama adalah orang tua yang mendidik anak dengan bekal ilmu dunia dan akhirat; kedua yaitu yang mendidik hanya dengan ilmu akhirat saja; ketiga yaitu yang mendidik hanya dengan ilmu dunia saja; serta keempat yaitu yang mendidik dengan tanpa mengunakan salah satu di antara keduanya.
Tentu, yang paling utama adalah orang tua yang menyiapkan bekal dunia dan akhirat anak, karena akhirat adalah tujuan utama. Akan tetapi di sisi lain ilmu dunia juga dibutuhkan sebagai sarana dan usaha untuk dapat menggapai kebahagiaan di akhirat. Mendidik anak hanya dengan ilmu akhirat saja atau ilmu dunia saja tentu juga tidak dibenarkan. Agama Islam yang mulia ini mengajarkan untuk menyeimbangkan antara keduanya, dengan kehidupan akhirat tetap menjadi prioritas atau tujuan utama. Maka bekal akhirat adalah bekal yang paling utama yang harus disiapkan oleh orang tua untuk anak-anaknya, dan tentunya untuk diri mereka sendiri.
Mengingat, bekal akhirat merupakan bekal yang wajib dimiliki oleh setiap individu. Sebuah hadits shahih yang tentu tidak asing dalam keseharian kita menyebutkan,
“Mencari ilmu itu wajib bagi kaum muslimin dan muslimat.”(HR. Ibnu Majah)
Ilmu yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah ilmu agama atau ilmu akhirat. Mengingat hukumnya wajib bagi setiap muslimin dan muslimat. Maka mencari ilmu akhirat tentu harus dilakukan oleh masing-masing individu dan tidak dapat diwakilkan. Orang tua dalam hal ini bertanggung jawab penuh agar anak-anaknya memiliki bekal ilmu akhirat yang cukup. Ilmu yang kelak akan dibawa oleh anak hingga yaumul kiamah dan dipertanggungjawabkan di hadapan sang Khalik.
Orang tua harus telah mengenalkannya sedini mungkin kepada anak, bahkan sejak anak berada dalam kandungan. Contohnya yaitu dengan orang tua mulai memperdengarkan anak dengan murattal Al-Qur’an. Sehingga kelak anak-anak telah terbiasa untuk berinteraksi dengan ayat-ayat suci yang merupakan pedomah hidup, penyejuk, hingga penawar sakit bagi setiap mereka yang mendengar, membaca, menghafalkan, mengamalkan, hingga mendakwahkannya.
Mendidik Anak ala Nabi Muhammad SAW
Di masa-masa perkembangan selanjutnya, orang tua juga harus terus menerus membekali anak dengan bekal akhirat sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Misalnya yaitu dengan menanamkan ketauhidan kepada anak,memberikan tauladan yang baik,;memberikan peringatan kepada anak tatkala lalai dengan kewajibannya dengan melakukan berbagai tahapan, dan sebagainya sesuai dengan usia anak. Yang kemudian biasa dikenal dengan istilah prophetic parenting atau mendidik anak ala Nabi Muhammad SAW.
Ilmu duniawi harus diberikan bersama ilmu akhirat untuk mewujudkan tercapainya akhirat. Secara mudahnya, dapat diilustrasikan dengan orang tua menyekolahkan anaknya hingga menjadi profesor ternama di mana anak-anak juga mempelajari ilmu umum atau ilmu duniawi. Tetapi dalam setiap proses mendapatkan ilmu tersebut selalu diawali, diiringi, dan diakhiri dengan menyebut nama Allah SWT. Ketika mempelajari ilmu-ilmu tersebut, mereka juga semakin takjub dengan agungnya kekuasaan Allah atas ciptaan-ciptaanNya. Sehingga menambah keimanan dalam hatinya. Dan pada akhirnya kesuksesan yang menjadi buah keberhasilan mereka dalam belajar juga semata-mata untuk mencapai keridhoan Allah SWT semata.
Jangan sampai, orang tua memberikan pendidikan duniawi kepada anak hingga menyabet deretan gelar, tetapi pada puncak kesuksesannya, mereka justru melupakan tujuan utamanya berupa kehidupan akhirat yang hakiki. Karena itu, menanamkan bekal akhirat sejak dini merupakan hal yang sangat penting dan justru menjadi titik awal kesuksesan di dunia dan di akhirat bagi anak.
Seimbang Dunia Akhirat
Dengan penanaman akidah yang kuat sejak dini, mereka akan tumbuh dengan kecintaan yang luar biasa kepada Rabb dan agamanya dengan menjadi sebaik-baik hamba yang bertaqwa, sehingga Allah SWT pun memberikan cinta yang luar biasa kepada mereka dengan memudahkan setiap urusan keduniawian yang dihadapinya. Hal ini sebagaimana telah Allah janjikan dalam surat At-Thalaaq bahwa Allah SWT akan memudahkan urusan bagi setiap hamba-hambaNya yang bertaqwa.
Orang tua tak perlu khawatir bahwa dengan seimbang memberikan bekal dunia dan akhirat untuk anak-anaknya, kelak anak-anaknya akan hidup menderita atau tidak mampu meraih kesuksesan di dunia. Hal ini karena urusan dunia tersebut terlalu kecil dan mudah bagi Allah SWT untuk menjaminnya. Yang justru kita khawatirkan adalah ketika kita sibuk membekali anak dengan bekal dunia kemudian melupakan bekal akhirat, sehingga kitapun akan kesulitan saat harus mempertanggung jawabkannya kelak di hadapan pengadilan Allah SWT. Akhir kata, semoga sebagai orang tua yang telah diamanahkan sebuah permata berupa anak, orang tua senantiasa mampu untuk membekali anak-anak dengan bekal akhirat dan bekal dunia, sehingga kita beserta anak-anak kelak atas seizin-Nya dapat kembali bersama-sama berkumpul di jannah-Nya.

Penulis merupakan mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Biologi UNY dan Anggota Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Sleman 2018-2019
