f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berbuat sia-sia

Larangan Berbuat Sia-Sia Saat Berpuasa

Adanya sebuah pandangan serta kebiasaan masyarakat yang menganggap bulan puasa adalah bulan untuk ngabuburit dan tidur; bukan sebagai bulan untuk memperbanyak amal ibadah dan memperbanyak kebaikan, namun sebaliknya. Bukannya memperbanyak kebaikan tetapi memperbanyak melanjutkan ekspetasi mimpi mereka di ranjang alias tidur.

Bulan Ramadan selalu identik dengan kegiatan ngabuburit. Sebenarnya apa sih ngabuburit itu? Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang asal katanya dari burit. Dalam bahasa Sunda burit artinya sore. Ngabuburit artinya menunggu sore. Dalam bahasa sunda awalan nge dan suku kata bu berarti melakukannya berulang kali. Sehingga dapat diartikan ngabuburit sebagai kebiasaan menunggu sore.

Kebiasaan tersebut masih terbawa dan berlaku saat bulan Ramadan. Hampir setiap orang Indonesia melakukannya. Dari kalanagan anak-anak,ibu bapak, khususnya di kalangan muda mudi. Mereka para muda akan keluar dari rumah masing-masing setelah waktu ‘ashar. Lalu secara bergerombol atau perorangan pergi ke taman atau ke tempat keramaian atau juga sekedar jalan-jalan di sekitar alun-alun sambil nyari jajanan takjil. Bagi para ibu mungkin hanya sekedar keluar rumah dan bertandang di halaman rumah tetangga. Nah kebiasaan inilah yang disebut ngabuburit.

Pandangan Islam tentang Ngabuburit

Nah, sekarang bagaimana pandangan islam tentang ngabuburit? Andaikata fenomena ini (menunggu buka puasa dengan ngabuburit) didiamkan saja, boleh jadi generasi berikutnya atau generasi yang akan datang merasa ngabuburit itu bagian dari manfaat puasa; atau paling tidak, menunggu buka puasa (ngabuburit) berduaan jalan-jalan menunggu buka puasa, menghabiskan waktu dengan sia-sia atau malah melakukan dosa tanpa terasa itu tidak mengapa. Sesungguhnya Islam tak pernah mengajarkan menunggu buka puasa dengan bersenang-senang, berduaan, jalan-jalan, itu semua hanya menyia-nyiakan waktu.

Baca Juga  Merahmati Perbedaan Awal Puasa

Dijelaskan dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya; ”Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta, perbuatan dusta, dan (ucapan atau perbuatan) kebodohan, niscaya Allah tidak memerlukan usaha dirinya dalam meninggalkan makanan dan minuman (shaum).” (HR. Bukhari no. 6057, Ibnu Majah no. 1689, dan Ahmad no. 8529).

Dahulu sebelum adanya ngabuburit, mereka (orang-orang terdahulu) ngabuburit dengan perbuatan yang bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, mendengar ceramah dll. Sedangkan sekarang, di era modern ini kita jumpai di pinggir-pingggir jalan banyak anak muda yang nongkrong lah atau semacamnya, betapa sia-sianya perbuatan tersebut.

Dan kecendrungan ngabuburit ini juga lebih terbuka lagi dengan adanya fasilitas tempat-tempat berbelanja dan didukung oleh adanya kendaraan bermotor sehingga ngabuburit pun menjadi lengkap. Bukankah manfaat puasa jadi hilang, boleh jadi puasanya hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja. Kita sebagai anak muda yang berjiwa muslim tak seharusnya melakukan perbuatan tersebut dengan melakukan hal-hal yang tak bermanfaat. Kita boleh saja melakukannya asalkan diisi dengan kegiatan yang mendekatkan kita kepada Allah. Semoga kita lebih bijak dalam menyikapi sesuatu.

Jangan Isi Ramadanmu dengan Perbuatan Sia-Sia

Perlu diketahui, bulan Ramadan itu adalah bulan yang mulia, bulan di mana pintu-pintu langit terbuka, pintu jahannam tertutup, penghulu bulan-bulan yang begitu dinanti oleh setiap insan muslim, mu’min, muhsin, dan muttaqin. Puasa adalah amalan wajib pada bulan Ramadan, kewajiban yang telah diwajibkan oleh yang maha pemurah kepada seluruh hambanya baik yang terdahulu maupun yang datang belakangan hingga ditetapkannya hari kiamat. Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S. Al-Baqarah :183)

Baca Juga  Mencicipi Makanan saat Puasa, Bolehkah?

Allah juga berfirman dalam hadits qudsi; “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung. ” (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Allah sendiri yang akan mengganjar puasa seseorang. Lantas patutkah ia mengisi hari-hari puasanya dengan berbagai bentuk kesia-siaan, menghabiskan waktunya dalam kesia-siaan hingga puasanya tak lebih dan hanya bernilai lapar, haus, letih dan lesu. Begitulah seharusnya seorang mu’min berpuasa tak hanya menahan dirinya dari makan dan minum, namun menahan dirinya pula dari berbuat sia-sia dan berkata kotor; karena sesungguhnya Allah tak butuh dengan puasa orang yang penuh kesia-siaan, dan  penuh dengan ucapan kotor, dusta, serta perbuatan jahil lainnya.

Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). 

***

Bukankah Allah lah yang akan membalas amalan seseorang? Namun apabila Allah saja tak butuh dengan puasanya, tak butuh seberapa lama ia makan dan minumnnya/menahan lapar dan dahaganya, lantas pahala apa yang ia akan dapatkan. Hal itu karna ia menghiasi puasanya dengan perkataan-perkataan yang dibenci oleh yang maha mendengar dan maha mengetahuisegala sesuatu. Bagi seorang mu’min hendaknya ia menjaga pula ucapannya terlebih lagi saat berpuasa, jangan sampai puasa yang ditujukan untuk menghapus dosa justru menjadi penambah dosa. Wallahu a’lam.

Bagikan
Post a Comment