Rindu kami padamu, ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rasul
Serasa dikau di sini
Lagu Rindu Rasul karya Bimbo, seringkali diperdengarkankan saat Maulid menjelang. Tapi tahukah kita, berapa abad jarak kita dengan Baginda Rasul ?
29 Oktober nanti, kita akan memperingati hari kelahiran Rasulullah. Merujuk pada kalender Masehi, Rasulullah dilahirkan pada 20 April 571M. Dan tahun ini, tepat 1449 tahun atau nyaris 15 abad kita berjarak dengan beliau.
Rentang tahun yang begitu jauh, benarkah kita merindukannya ? Apakah hati kita selalu terpaut padanya ? Apakah kita ‘mengajak’ Rasul dalam menjalani tiap episode kehidupan ? Jika sudah, betahkan beliau bersemayam di hati kita ? atau isi lagu itu hanya seremoni saja ? Jawaban jujurnya ada pada hati nurani kita masing-masing.
**
Kita pasti memiliki keinginan untuk mengenal lebih dekat orang-orang tertentu, seperti ingin mengetahui apa yang menjadi kesenangan mereka, kebiasaan, keinginan, maupun hal-hal yang tidak mereka sukai. Kedekatan itu perlu kita lakukan tidak hanya dalam berhubungan dengan sesama tetapi juga dengan Rasulullah.
Mengenal Nabi Muhammad Saw. adalah hal mendasar bagi seorang muslim. Namanya selalu kita sebut dalam sholat. Pun, ketika seseorang menjadi muslim dengan mengucap kalimat syahadat, kerasulannya kita imani setelah kesaksian akan Allah yang Tunggal.
Seberapa jauh tingkat kenal kita dengan Rasullullah akan sangat menentukan kadar pemahaman, penghayatan dan pengamalan seseorang terhadap ikrar keislaman mereka. Dan dari sinilah terbentuk kepribadian muslim.
Islam menempatkan akhlak dalam posisi penting yang harus ditaati para pemeluknya. Bahkan , tiap aspek dalam ajaran Islam selalu berorientasi pada pembinaan akhlak yang baik. Sebagaimana salah satu sabda Rasulullah, ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”.
Dalam menilai keimanan seseorang, kita juga diminta untuk menilai akhlak yang bersangkutan. Merujuk pesan Rasulullah, bahwa orang-orang terbaik di antara umatnya adalah yang berakhlak mulia dan dermawan, termasuk juga mereka yang berhubungan baik dengan orang banyak.
***
Ada suatu kisah pada zaman Rasulullah, seorang pemuda minta izin untuk melakukan zina yang termasuk ketegori dosa besar. Beliau merespon dengan tidak marah atau mengusir sebagaimana yang dilakukan para sahabat lantaran kesal dengan permintaannya.
Rasul lebih memilih mengingatkannya melalui pendekatan emosi yang menyentuh perasaan. Lewat pertanyaan-pertanyaan edukatif yang mengajarkan tentang sebuah nilai, jika ia sendiri tidak rela sanak familinya dizinahi, maka begitupun orang lain. Bahkan setelah itu Rasulullah mendoakan, agar diampuni dan dibersihkan hatinya oleh Allah SWT.
Baginda Rasul juga terkenal akan kecintaanya terhadap anak-anak. Saat sedang melakukan sholat, Umamah binti Zainab binti Rasulullah merengek dan menangis. Beliau menggendongnya walaupun ketika itu sedang shalat, meletakkannya ketika hendak sujud dan mengambilnya kembali ketika berdiri. Kasih sayang itu membuatnya memanjangkan atau meringkas sholatnya, agar si anak tetap bergembira.
Terhadap wanita, beliau mencontohkan untuk menghargai lantaran wanita memiliki andil besar dalam kehidupan manusia. Rasulullah tidak segan untuk menjahit sendiri bajunya yang robek, walau istrinya siap melakukan hal tersebut. Beliau menyadari pekerjaan istrinya sangat banyak dan melelahkan.
Menghadapi orang-orang yang menghina, memaki, mengejek dan kelicikan lainnya, dilalui Rasul dengan penuh kesabaran bahkan membalasnya dengan kebaikan. Seperti pada kisah Rasul dengan pengemis buta dan peristiwa Thaif yang fenomenal.
Begitulah Rasulullah mendidik umatnya. Bahwa perkara cinta dan kasih haruslah tetap ditunjukkan dalam kondisi emosi seperti apa pun. Berbeda dengan kita saat ini yang tidak sudi memaafkan, tidak mendamaikan sesama muslim yang bertengkar, tidak punya malu, tidak jujur dalam perkataan dan perbuatan juga tidak menepati janji. Rasulullah pasti sedih melihat kelakuan kita. Sehingga sudah saatnya kita memantaskan diri menjadi umatnya.
**
Majalah satire Prancis Charlie Hebdo menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad, pada awal September lalu. 5 tahun silam, sebuah film pendek dirilis berdasarkan kisah nyata berlatar belakang kejadian penembakan di kantor Charlie Hebdo akibat penerbitan kartun Nabi. Film berjudul “Dessinez le Prophète / Draw the Prophet“, menceritakan siswa muslim Perancis yang dipaksa untuk menggambar wajah nabi Muhammad oleh gurunya di sekolah. Respon yang dilakukan sang siswa sangat mengharukan siapa saja yang menontonnya.
Timbul pertanyaan, mengapa siswa itu bersikap demikian? Jawabannya karena inspirasi dari lingkungannya. Dia melihat orang tuanya muslim yang taat, kakaknya yang berhijab tersenyum meski baru mendapat penghinaan di jalan dan sahabatnya meminta maaf walau tidak bersalah.
Pola pendidikan orang tua dalam mengenalkan Rasulullah kepada anak-anak harus diubah. Kisahnya bukanlah utopia yang tidak bisa digapai. Membumikan kisah Rasul dalam keseharian sangat diperlukan. Penyayang, pemaaf, pandai, jujur, amanah dan sifat-sifat baik lainnya harus dikenalkan sebagai akhlak Rasul.
Akhlak itulah yang jika ditiru akan menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat kita. Walaupun sering kali dikatakan dunia tidak adil, namun adab masih menjadi parameter dalam menilai seseorang. Orang jujur lebih dipilih sebagai mitra bisnis. Sifat pemaaf dibutuhkan untuk menghindari perselisihan bahkan peperangan. Sementara sifat penyayang membuat orang lain aman di samping kita.
Penghujaman impian bahwa kejayaan Islam bisa direbut kembali asal kita mengikuti akhlak Rasululah, harus dilakukan secara masif. Ilmuwan-ilmuwan besar Islam mengaplikasikan ketaatannya dalam bidang sains, seperti yang dilakukan Ibnu Sina, Al-Khwārizmī, Ibnu Khaldun, Ibnu Haitham, Ibnu Rushdi, Al-Biruni dan lain-lain.
***
Jika kita mau jujur, salah satu penyebab penghinaan terhadap Islam adalah kontribusi umatnya. Kita bermain peran sebagai korban tapi disisi lain membiarkan kemalasan, kebodohan, kemiskinan, hidup jorok, pemarah menjadi atribut kebanyakan muslim di dunia. Lihatlah seperti apa penampakan negara-negara muslim. Lingkungan kotor, masyarakat tidak disiplin, malas, pemarah sehingga menjadi cap begitulah muslim.
Memantaskan diri hidup di panggung dunia dengan akhlak Rasul, akan mengurangi hinaan yang datang. Pernahkah kita dengar orang kaya, pintar, jujur, baik hati dihinakan ?
Menyebarkan nilai-nilai Islam akan lebih bermakna dengan perbuatan. Masing-masing dari kita mengemban kewajiban sebagai penyambung tugas Rasul untuk berdakwah. Jika ilmu agama kita masih cetek, dengan adablah kita bisa melakukannya. Tepat waktu menghadiri rapat, tidak korupsi waktu saat bekerja, ringan tangan membantu siapapun, menghormati hak orang lain, tahu malu akan menjadi ciri khas pribadi muslim yang jika dilakukan secara kolosal akan menjadi ciri khas muslim. Sehingga muslim bukan sekedar sebutan tapi sesuai dengan artinya.
Zaman boleh menua tapi kedudukan Rasulullah harus selalu merekah dalam hati kita. Lima belas abad yang lalu , beliau telah merindukan kita. Sepantasnya kita balas kerinduannya dengan cinta sejati. Semoga masih ada waktu.

Baca ini kaya lg crita sama mba lia,terakhir kita ketemu di silaturohim lebaran di daleme mba amanah, ak ning adike m tuti,putri suwargi wa abu pliken mba lia.sungkem kagem bu lik nggeh
Good job sist. Semoga kita keluarga beaar bisa “sehidup sesurga”. Aamiin Ya Rabbalalamiin.
Hello mba Yuni,
maaf baru bales – ketumpuk notifikasinya dg email-email lain 🙁
Salamnya tak sampaikan ya mba…
Sehat-sehat selalu….oh ya kami’kan punya grup dimana mba Tuti sptnya sdh join juga. Minta ybs untuk diinvite krn semua yg disitu admin … maturnuwun