f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perjumpaan

Kepedulian Terhadap Kesehatan Jiwa : Upaya Menuju Kewajaran Baru

Kesehatan jiwa menjadi isu yang mencuat dan trendi belakangan ini. Saya rasa perihal kesehatan jiwa menjadi sama pentingnya dengan  berbagai isu politik yang senantiasa memenuhi laman media digital. Ketertarikan warganet terhadap isu soal kesehatan jiwa dapat kita lihat dengan banyaknya pengikut akun-akun yang aktif membuat konten soal kesehatan jiwa.

Para pakar yang bergerak dalam kesehatan jiwa seakan memiliki daya tarik untuk menjadi bintang setara dengan para selebgram yang mengandalkan aneka konten kreatif. Akun Jiemi Ardian misalnya, dokter ini memiliki pengikut sebanyak 148 ribu di Instagram. Jumlah yang cukup besar, belum lagi pada platform media sosial lainnya.

Jumlah pengikut yang cukup besar pada akun pegiat kesehatan jiwa ternyata tidak bisa menjadi tolok ukur bahwa kesadaran masyarakat tentang kesehatan jiwa sudah cukup baik. Perundungan di dunia maya masih mendominasi lorong-lorong kolom komentar. Tokoh publik seperti politikus, pemain drama Korea, selebgram, personal band adalah yang paling sering menjadi sasaran perundungan di dunia maya.

Untuk rakyat jelata yang pengikutnya hanya teman sendiri masih mending, kalaupun terjadi perundungan biasanya hanya candaan semata. Tunggu. Hanya candaan semata? Duh, bukankah kalimat tersebut adalah awal mula dari pembenaran terhadap perilaku merundung orang lain?

Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental

Bicara soal kesehatan jiwa, berarti bicara soal kesehatan mental dalam diri dan kesadaran untuk berperilaku sehat secara mental dalam bermasyarakat. Tentu saja berperilaku sehat dalam berkomentar di media sosial termasuk di dalamnya. Jangan waton njeplak gitu, medsos kan bukan panggung stand up comedy. Sementara stand up comedy aja butuh naskah, bukannya yang asal njeplak meski terlihat lucu dan spontan.

Namun rasanya terlalu jauh untuk bicara soal kesadaran  berperilaku sehat secara mental dalam bermasyarakat khususnya di media sosial. Lebih baik mencoba menengok ke dalam diri dulu, sudah sehatkah jiwa ini? Bicara soal merasai bahwa jiwa sedang sakit itu lumayan rumit. Kalau sakit secara fisik, dengan simptom yang ada, kita bahkan bisa membeli obat bebas di apotek. Lha kalo merasa jiwa tidak sehat, berarti ada langkah panjang yang harus ditempuh demi mendapatkan obat.

Baca Juga  Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi
Konsultasi ke Psikolog atau Psikiater

Pergi ke psikiater adalah pilihan yang bisa diambil jika merasa bahwa diri Anda membutuhkan obat. Namun sebagai alternatif bebas dari resep obat, Anda bisa memilih untuk pergi ke psikolog terdekat. Kalau masih bingung, butuh obat atau tidak, memilih salah satu antara psikiater atau psikolog tetap bisa menjadi sarana untuk mengambil keputusan. Para konselor ini yang nantinya akan memutuskan jenis yang sesuai untuk pasiennya.

Jika dinilai butuh bantuan obat untuk meredakan aneka gejala yang menggangggu kestabilan mental, meski pergi ke psikolog, pasti Anda akan diberi rujukan atau saran untuk mengunjungi psikiater. Jadi jangan khawatir, memilih harus ke mana, saat Anda sudah yakin bahwa Anda butuh bantuan profesional  adalah tanda bahwa Anda sudah berada di jalur yang tepat.

Namun memang tidak semudah memberi Panadol di warung ya, memutuskan untuk mencari bantuan profesional pasti membutuhkan usaha ekstra. Pertama, meminta dukungan dari keluarga atau orang terdekat. Meski tahap ini bisa juga di-skip dulu, namun pada akhirnya, penjaga, perawat seseorang yang terdiagnosa mengalami gangguan kesehatan jiwa biasaanya adalah orang terdekat, dalam hal ini keluarga menjadi pilihan utama.

Selain PR soal dukungan dari keluarga, PR lainnya yang tak kalah berat adalah soal stigma di masyarakat tentang orang-orang yang berkonsultasi ke pskiater maupun ke psikolog. Namun, seiring meningkatnya para pegiat kampanye kesehatan jiwa, pelan tapi pasti, soal stigma ini bisa teratasi. Akan selalu ada kekuatan komunal yang bisa memberikan rasa hangat dan penerimaan untuk semua ODGJ, lewat komunitas pegiat kampanye kesehatan jiwa tadi.

Saat kendala untuk melangkah mencari bantuan masih besar, baik itu karena keraguan, finansial, maupun masalah waktu, Anda bisa mencoba layanan konsultasi daring. Tentunya, layanan yang tidak abal-abal pasti akan meminta Anda untuk bisa berkonsultasi secara luring. Tapi untuk bantuan pertama, mengapa tidak?

Baca Juga  Puasa dan Kesehatan Mental
Tuliskan Beban Anda

Lalu, masih ada alternatif cukup mudah yang bisa Anda lakukan sebelum membawa semua beban Anda ke pakar. Yaitu dengan menulis. Tuliskan bagaimana perasaan Anda, pemikiran Anda, relasi Anda dengan orang lain menurut yang Anda rasakan. Jangan khawatir soal apakah ini nyata, bagaimana kalau tidak nyata, dan pikiran lain-lain. Cukup tuliskan saja. Kelak, bawalah tulisan Anda ke pakar yang Anda percaya dapat membantu Anda terlepas dari “beban” yang Anda rasakan.

Menulis mustahil menyembuhkan luka. Menulis hanya salah satu pilihan yang bisa dilakukan dengan mudah untuk meluapkan aneka emosi, rasa, pikiran terpendam. Namun buat saya, menulis tak mungkin menyembuhkan. Luka di hati ibarat gelas yang retak, pol mentok bisa dilem, tapi buat kembali sempurna seperti sedia kala, rasanya mustahil. Tetap, pada akhirnya, pergi ke pakar adalah langkah yang bisa ditempuh untuk membantu diri dan orang yang kita sayangi.

Sampai hari ini, pergi berkonsultasi ke psikiater maupun psikolog masih belum lumrah diterima di masyarakat. Namun, dengan gencarnya gerakan sosialisai melalui film, artikel, quotes, bahkan video tentang pentingnya menjaga kesehatan jiwa, bukan tidak mungkin dalam jangka waktu satu dekade lagi kita akan biasa saja melihat antrean di depan poli Psikiatri. Sama wajarnya seperti saat melihat antrean panjang di depan poli Spesialis Penyakit Dalam.

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Siwi

    Cara mb Butet mengungkapkan gagasan reflektif mewakili angan2 dan pikiran2 nggrambyang saya. Berharap membaca tulisan2 selanjutnya😍

    Oktober 29, 2020
Post a Comment