Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19
Oleh: Ratna Yunita Setiyani*
World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan Corona sebagai pandemi sejak tanggal 11 Maret 2020. Artinya bahwa virus Corona telah menyebar ke berbagai negara atau benua dengan menjangkiti banyak orang, dan dinilai sudah cukup mengkhawatikan.
Sebagaimana kita ketahui, penetapan Pandemi oleh WHO bermaksud menghimbau semua negara agar bisa lebih memaksimalkan upaya penuh dalam mengambil tindakan pencegahan dan perawatan. Hal yang perlu diketahui bahwa Pandemi ini tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan saja, tetapi juga perekonomian, sosial, psikoligis, hingga kestabilan suatu negara.
Saat ini yang tidak bisa terelakan dari dampak Pandemi adalah kerentanan dan kecemasan dalam mengahadapi krisis. Selain karena virus ini sangat berbahaya, juga orang menjadi tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain, hal ini menjadikan seseorang rentan dan mudah tertekan.
Nah, tentu ini menjadi fenomena yang sangat serius sebab kita tidak tahu pasti kapan dapat kembali ke situasi normal sebelum terjadinya Pandemi.
Covid-19 bukan saja berdampak pada tingkat kecemasan, tetapi juga memunculkan stres. Kecemasan dan stres menjadi semakin meningkat manakala orang harus beraktivitas dirumah untuk mengikuti anjuran pemerintah stay at home dan physical distancing.
Physical distancing seringkali memunculkan perasaan tertekan dan tidak nyaman saat bersinggungan dengan orang lain. Mulai dari rasa mudah curiga, tidak nyaman berdekatan dnegan orang lain, menjadi mudah marah saat orang lain dengan tidak sengaja menyentuh atau bersin di depan kita. Padaal sebelumnya, itu merupakan hal yang biasa saja.
Stay at home atau berada di rumah terus juga memunculkan kejenuhan yang tak berkesudahan. Belum lagi beberapa wilayah telah membatasi beberapa akses hingga penutupan sekolah dan instansi. Efeknya adalah pembelajaran dan kerja dilakukan di rumah.
Efek samping dari di rumah saja adalah mengurangi pemasukan masyarakat yang mempengaruhi pendapatan keluarga, ekonomi keluarga untuk dapur ngebul menjadi berkurang. Itu juga faktor tambahan yang membuat kita semakin menekan.
Namun disamping anjuran-anjuran pemerintah, kita juga harus tetap mengendalikan diri untuk tidak membiarkan rasa cemas itu menguasai diri kita dan menekan diri kita, karena hal itu dapat mengganggu kesehatan mental kita.
Kunci untuk mengatasi hal ini terletak pada diri kita sendiri yaitu dengan berpikir bahwa situasi yang kita hadapi ini adalah situasi yang membutuhkan lebih banyak perhatian kita. Kita harus mengetahui apa saja yang justru membuat kita tertekan. Misalnya berita hoax, informasi yang menumpuk, serta info dan respon-respon lain dari sosial media.
Maka kalau itu berakibat pada tingkat kecemasan kita, mulailah untuk menguranginya.
Agar tidak semakin membuat cemas, hal-hal yang dapat kita lakukan adalah;
Pertama, kita harus bisa mengelola diri, emosi, dan pikiran kita. Lalu, mengisi hari-hari kita dengan hal-hal positif seperti olahraga, makan-makanan bergizi, menjaga kebersihan diri dan hati kita.
Menjaga kesehatan mental kita sama dengan menjaga kesehatan fisik kita. Sebab No health without mental health.
Kedua, tetap melakukan rutinitas sehari-hari dengan aktivitas bergerak. Sebab semakin banyak akan semakin baik, karena dengan aktif bergerak kita mengisi waktu kita dengan kegiatan yang akan menjadi refreshing bagi tubuh untuk lebih bugar.
Ketiga, Istirahat cukup menjadi penting untuk ikut diperhatikan untuk penyeimbang aktivitas bergerak yang kita lakukan.
Menjaga kebugaran tubuh bukan hanya dengan berolahraga, tapi juga mengolah rasa kita, Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, yang artinya bahwa kebugaran tubuh itu terbantu dengan bugarnya fisik dari aktivitas bergerak, tetapi mengolah rasa dibutuhkan sebuah daya tahan diri kita terhadap masalah.
Keempat, kita harus tetap bersyukur meskipun dalam kondisi serba dibatasi. Mengurangi keluhan adalah salah satu usaha mengolah rasa.
Kelima, kita bisa melakukan hobi kita yang mungkin selama ini lama tidak lagi kita lakukan. Dengan adanya waktu yang lebih lama di rumah, kita bisa melakukan kegiatan bersih-bersih rumah bersama keluarga. Mendekatkan hubungan batin dan kebersamaan dengan keluarga.
Apabila cara-cara ini sudah dilakukan namun merasa kecemasan masih mengganggu. Anda dapat menghubungi Layanan-Layanan Kesehatan Psikososial yang telah tersedia.
Salah satunya melalui Lembaga Dukungan Psikososial Muhammadiyah Covid-19 Command Center Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LDP MCCC PP Muhammadiyah) untuk berkonsultasi.
Layanan tersebut menyediakan program konseling on-line dengan 60 Psikolog yang siap membantu mengatasi permasalahan kita. Mulai dari Senin hingga Ahad. Saat ini, penulis menjadi bagian dari Tim LDP MCCC PP Muhammadiyah yang juga sebagai koordinator tim.
Layanan ini sudah dimulai sejak 1 April 2020 yang lalu. Terhitung hhingga hari ini, ada 64 klien yang menggunakan layanan konseling on-line ini, 4 diantaranya adalah Warga Negara Asing (WNA).
Untuk berkonsultasi, bagaimana caranya? Pertama, kita menghubungi admin terlebih dahulu, lalu admin akan memberikan form yang wajib diisi terkait biodata dan keluhan. Setelah itu admin akan mencarikan Psikolog sesuai waktu yang diminta klien.
Setelah mendapatkan Psikolog, admin akan membuatkan janji klien Psikolog untuk kemudian dilajukan konseling on-line, yang dapat diberikan melalu WA atau VC.
Untuk akses LDP MCCC dari HP, anda dengan menyimpan nomor WA admin sbb. 088216618700 (Khotim), 087894696641 (Dewi) dan 087838858381 (Nita).
*Penulis adalah Koordinator LDP MCCC PP Muhammadiyah adalah Ratna Yunita Setiyani S, M.Psi., Psikolog, seorang dosen UNISA Yogyakarta yang juga merupakan Pengurus IPK Indonesia Wilayah DIY.
