f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Geliat Ekonomi Masyarakat Sektor UMKM di Tengah Pandemi Covid-19 (1)

Oleh: Dyah Pikanthi Diwanti*

Tahun 2020 merupakan tahun yang menjadi sejarah panjang dunia baik dari segi kesehatan, perekonomian, politik, dan aspek lainnya.

Penyebaran Covid-19 telah ditetapkan sebagai pandemi global karena berdampak pada jumlah wilayah geografis yang luas. Hal ini menyebabkan kondisi ketidakstabilan terjadi dimana-mana pada seluruh sendi kehidupan masyarakat, salah satunya adalah perekonomian.

Virus Covid 19 pertama kali muncul di Wuhan, Cina. Pada awal kemunculannya yaitu bulan Desemberi 2019, Covid-19 belum begitu menganggu perekonomian negara-negara di dunia. Akan tetapi kondisi itu berubah setelah virus ini menyebar hampir ke sejumlah negara di dunia (Kompas, 22 Maret 2020).

Tentu kondisi ini juga sangat berpengaruh terhadap sektor perekonomian di Indonesia, hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani “bahwa jika setiap 1% penurunan pertumbahan ekonomi di  Cina, maka ekonomi Indonesia bisa terpengaruh sekitar 0,3%, bahkan pertumbuhan perekonomian  Indonesia bisa terperosok sangat jauh apabila durasi Covid-19 diperpanjang 3 sampai 6 bulan.”

Dampak penyebaran covid-19 tentu saja dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi, bahkan diperkirakan Indonesia mengalami pertumbuhan dibawah 4,5% pada tahun ini.(detik.com, 2020).

Terhitung pada Minggu, 19 April 2020, sejumlah kasus terinfeksi covid-19 sebanyak 6.575 kasus, dengan total kematian 582 orang.

Merespon keadaan ini, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan guna menghambat penyebaran covid-19, salah satunya adalah kebijakan social distancing dan work from home, dengan menyuarakan gerakan #dirumahaja.

Pada beberapa negara terdampak lainnya, kebijakan ini dinilai efektif guna menekan laju penyebaran virus corona. Pemberlakuan kebijakan social distancing dan work from home dengan gagasan gerakan #dirumahaja oleh pemerintah menjadikan masyarakat kehilangan ruang geraknya.

Di lain sisi, bayang-bayang covid-19 pun kian mengancam seiring dengan himbauan pemerintah untuk terus menjaga kebersihan kapanpun dan dimanapun.

Baca Juga  Bu Tejo adalah Gadgetmu

Nah, hal ini mjuga enyebabkan lonjakan permintaan beberapa keperluan kebersihan diri seperti handsanitizer, sabun dan lain sebagainya. Dimana peningkatan terbesar terjadi pada produk handsinitizer dengan capaian 531% pada Februari lalu.

Disusul dengan produk sabun tangan yang mencapai 304%, kemudian tisu basah dengan peningkatan 227%, dan produk kesehatan beserta vitamin dengan peningkatan 210% per Februari.

Angka ini terus meningkat ketika memasuki bulan Maret (detik.com, 2020). Adanya penyebaran virus ini membuat masyarakat panik sehingga mendorong masyarakat untuk berbondong-bondong memborong bahan dan barang tersebut, masyarakat mengalami”panic buying“.

Banyak sekali bahan dan barang dipasaran mengalami kelangkaan sehingga hargapun melonjak. Dari harga normal  dapat melonjak dengan kisaran 2-3 kali lipat pada sejumlah bahan dan barang tersebut. Masyarakatpun semakin sulit menemukan sehingga kebutuhan alat kebersihan menjadi sesuatu yang langka dan terbatas.

Dalam istilah ekonomi semakin barang itu sulit diperoleh padahal itu menjadi suatu kebutuhan, maka nilai nilai permintaan akan naik, berikut juga menaiknya harga dipasaran.

Belum lagi ditambah dengan fenomena panic buying sejak virus Covid 19 masuk ke Indonesia pada awal Maret lalu. Rak-rak yang biasanya berisi kebutuhan pokok seperti aneka rupa bahan makanan beras, gula, minyak goreng, telur, hingga mie instan di supermarket tiba-tiba kosong melompong.

Pemandangan serupa tampak di deretan rak yang biasa berisi produk kebersihan diri dan rumah tangga terutama untuk masker dan handsanitizer. Stok aneka bahan pokok itu sejatinya tak benar-benar habis. Namun, fenomena panic buying dapat menyebabkan kelangkaan barang akibat lonjakan permintaan dalam waktu singkat.

Apabila kondisi normal, proses distribusi barang dari gudang hingga barang dapat terpajang kembali di display/rak toko perlu waktu sekitar 1-2 hari. Namun hal tak terduga dalam kondisi seperti ini tidak bisa menjawab apa yang dibutuhkan masyarakat.

Baca Juga  Mengatasi Depresi Orang Tua di Masa Pandemi

Kelangkaan barang menurut (Nasution, 2006, p. 54) adalah kondisi dimana sumber daya yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Kelangkaan terjadi pada sejumlah barang dan jasa yang tersedia terbatas dibanding jumlah kebutuhan yang semakin meningkat.

Kelangkaan bukan berarti segalanya sulit diperoleh atau ditemukan. Namun hal ini sering terjadi karena jumlah alat pemenuhan kebutuhan tidak seimbang dengan kebutuhan yang harus terpenuhi.

Saat tingkat kebutuhan masyarakat terhadap barang dan jasa sudah melebihi batas kemampuan penyediaan barang dan jasa tersebut, maka terjadilah apa yang namanya kelangkaan.

Kondisi adanya panic buying, kelangkaan sejumlah barang dan jasa semakin dipertegas lagi dengan keadaan warga yang diharuskan untuk tetap tinggal dirumah atau gerakan dirumah aja dalam melaksanakan aktivitasnya.

Bahkan, suplai makanan tidak seaman seperti biasanya, orang-orang panik dan mengisi persediaan makanan mereka dengan serta merta memborong. Ini adalah masalah nyata, tidak diragukan lagi. 

Adanya kegiatan lockdown dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi, karena tindakan tersebut biasanya disertai penghentian aktivitas kebanyakan pekerja. Meski sebagian pekerjaan dimungkinkan dilakukan secara virtual, namun hampir 80% aktivitas kerja masih tetap membutuhkan lalu lintas manusia dan pertemuan.

Meski demikian, bagaimanapun kebijakan yang ada harus harmonis dengan kebajikan dan kemaslahatan.

*Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga

Bagikan
Post a Comment