f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ketinggian

Ambisi Kita pada Ketinggian

Memang tak ada moda senyaman pesawat, ia bebas dari hambatan maupun kompetisi rimba jalanan. Jarak ribuan kilopun dapat ditempuh tak lebih dari dua jam. Jelas ini membuat penumpang lebih nyaman; tak usah berpeluh, berduel dengan mual, atau sakit pinggang dan nyeri pantat. Jalur ketinggian ini sungguh menawarkan berbagai kemudahan dan kenyamanan hingga banyak orang memilihnya bahkan memimpinya.

Laiknya pesawat, saya renungkan memang semua posisi yang tinggi sungguh menyenangkan; postur tinggi, rumah tinggi, foto dari ketinggian, hingga sekolah tinggi-tinggi dan karir yang memuncak. Pada ketinggian kita dapati sebuah eksklusivitas yang tak bisa semua orang rasakan.

Dan nampaknya memang itu yang sering kta temui, orang berbondong melampaui satu sama lain. Kita sekolah dan bekerja demi meninggikan derajat. Kita merantau ke ibu kota agar ketika pulang orang mau memadang. Petani mendorong anak-anaknya sekolah dan bekerja kantoran bukan demi uang, karena hasil panen bisa jadi jauh lebih menguntungkan daripada gaji pegawai, melainkan demi menyabet status sosial yang lebih baik. Semakin tinggi, makin mulia, makin dihargai makin dipikir hidupnya enak.

Bahkan mungkin itu yang ada pada pemikiran para calon pemimpin rakyat saat pilkada, adalah kursi yang tinggi alias jabatan. Tentu dengan logika yang sama, dengan jabatan tinggi saya punya sejuta kenyamanan; pelayanan, fasilitas, eksklusifitas, wewenang, anggaran dan kehormatan.

“Lho jangan menuduh, mereka menjadi pemimpin bisa jadi serius memikirkan rakyat!”.

Oke, tapi coba seandainya kursi-kursi tinggi itu tak dilengkapi berbagai privilege, masihkan mereka mau mengejarnya? Atau misal dengan gaji seperti bung Karno yang pas-pasan hingga dia sering meminjam uang ke ajudannya. Atau bung Hatta yang tak pernah kesampaian membeli sepatu impian.  Mungkinkah ada yang mau menerabas ancaman Covid-19 mencoba mendaki untuk menjadi orang paling tinggi di daerahnya masing-masing?

Baca Juga  Kesabaran : Perlukah Diusahakan?

Tak hanya mereka para pemimpin, kita semua sepertinya mengalami sindrom ketinggian itu; sebuah keadaan emosi di mana kita terobsesi pada puncak, tentu definisi ini saya sendiri yang mengarangnya.

Kita menyebutnya prestasi atau capaian.

Orang bermimpi menjadi penyanyi nomer satu yang terkenal, pebisnis nomer wahid, memiliki jabatan paling tinggi yang bisa diraih atau ranking paling tinggi. Dan kita tahu top itu berbentuk piramida; hanya segelintir orang yang bisa nangkring di atasnya. Maka, yang kemudian terjadi adalah kompetisi kalah-menang.

Memasuki tahun baru, kita pun menemukan berbagai resolusi bernada sama; sekolah lebih tinggi, karir memuncak, follower meningkat, masuk top youtuber, omset melampaui target dan sebagainya.

Tapi senyaman dan seaman itukah puncak? Padahal, di bawah kita lebih kolektif, lebih banyak orang. Dan kita bisa seperti pasir yang saling berpelukan dan menggumpal. Manakah yang lebih nyaman dan aman?

Dan layak kita dengar sebuah nasihat bijak “apa yang kau kejar-kejar sesunggunya tak membuatmu aman”. Ketika belum ada di tangan, kita dihantui hasrat memiliki, ketika sudah digenggam kita dirongrong ketakutan kehilangan. Kedua-duanya menguras energi dan pikiran.

Tapi memang fenomena ini tidak muncul tiba-tiba, ada faktor historis kultural.

Sedari kecil kita telah didoktrin untuk menggantungkan cita-cita setinggi-tingginnya, bahkan setinggi langit. Kita harus selalu melihat ke atas, seolah benar-benar tak ada apa-apa di kanan, kiri, dan bawah kita.

Bisa jadi ini adalah mental yang terbentuk akibat kolonialisme yang menempatkan pribumi pada posisi sangat rendah. Maka meningkatkan derajat (priyai) mejadi visi misi setiap orang jaman dulu. Menyetarakan diri dengan penjajah.

Saya teringat seorang tetangga penjual mie ayam. Dia belum lama berjualan di sana, hanya beberapa saat sebelum pandemi. Boleh dibilang, usahanya biasa saja, tak laris-laris amat. Tapi setiap hari jumat, ia membagikan makanan pada seluruh jamaah shalat di desa kami. Dan saat usahanya harus berjalan pada masa pandemi ini, dia kehilangan pelanggan. Setiap hari usahanya sepi. Tapi itu tak membuat sedekah jumatnya berhenti, dia terus memberi.

Baca Juga  Keluarga adalah Segala Tempat

Ada pula kisah orang buta yang membawa pelita di jalan gelap gulita. Ketika ada yang bertanya; apa alasannya menyalakan padahal ia tak bisa melihat. Si buta mejawab, “Agar bisa memudahkan orang lain melihat dirinya”.

Cita-cita mencapai puncak itu positif. Tapi, bukan puncaknya yang diburu.

Hal ini karena puncak-puncak itu sejatinya adalah semu. Di atas langit masih ada langit, demikian seterusnya. Dan di ketinggian pun kita masih ketakutan dan sendirian.

Yang sejati adalah di mana kaki kita berpijak, yang nyata adalah perbuatan kita. Maka yang menjadi impian bukanlah puncaknya tapi perbuatannya. Dan kita tahu berbuat baik itu tidak mensyaratkan apa-apa.

Tak perlu menjadi seorang profesor untuk berbagi ilmu. Tak melulu menunggu uang berlimpah guna menyisihkan harta terbaik untuk sedekah, bahkan tak selalu harus punya mata untuk menyalakan pelita. Saat kita susah-susahnya, kita tetap bisa beramal dan bermakna. Tak harus menunggu puncak.

Terakhir, sedikit mengutip kang Maman Suherman dalam bukunya, jika kita berkerja – ikhlas berkarya – senilai 10 juta tapi kita hanya dapat 5 juta maka Tuhan akan mengganti. Dia akan memberi sesuai kelayakan kita bekerja. Tuhan bisa mengganti dengan berbagai kebaikan seperti kesehatan, ketenangan, dan keturunan yang cerdas. Bahkan, tak mustahil Dia memberi kita derajat dan kemuliaan yang tinggi.

Bagikan
Post a Comment